Pra Matrikulasi IIP : Sebuah Etalase Bergumulnya Para Ibu Yang Ingin Menjadi Lebih Baik

Perempuan

Suatu Pagi di Bulan Desember..

Tepatnya tanggal 11, di Wag Foundation Institut Ibu Profesional (IIP), saya mendapati informasi adanya sebuah form pendaftaran untuk menuju tahapan berikutnya. Saya penuhi pinta link tersebut dan tibalah saya mendapati laman chat whatsaapp saya berbunyi “tang, ting, tang, ting……tung….” diiringi perubahan cepat angka demi angka di akun chat teratas di laman tersebut. Tampak logo bernuansa biru tosca lembut, di bagian atasnya bergambar 2 orang sosok ibu dan anak bertajuk Pra Matrikulasi, dibawahnya tertera nama Institut Ibu Profesional.

IMG_2966

Wag Pra Matrikulasi

Kurang lebih 1 minggu yang lalu saya memang telah dimasukan dalam sebuah WAG ber-anggotakan lebih dari 200 orang, yang dapat dikatakan semua orang tersebut adalah para wanita yang telah menaruh minat hingga mendaftarkan diri di page facebook Institut Ibu Profesional untuk bergabung sebagai anggota.

Beberapa bulan sebelumnya, saya memang beberapa kali menghampiri laman facebook IIP Depok. Tak banyak yang ketika itu saya mengerti, mengingat di laman tersebut lebih banyak berisi informasi kelulusan peserta dari suatu program bertajuk Matrikulasi. Yang sepenangkapan saya ketika itu, bahwa program tersebut adalah kuliah online yang diadakan di IIP.

Jujur saja kesan awal saya, fb page-nya eksklusif dan sedikit kurang responsif he he. Karena informasi untuk orang baru bercampur dengan yang sudah jadi member. Kesan pertama semacam ini biasa ketika orang baru melihat laman muka sebuah organisasi, bisnis atau komunitas. Karena brand value biasanya dibentuk di landing page sebuah merek, disesuaikan dengan sasaran yang ingin ditarget. Sehingga biasanya organisasi yang menitik beratkan hal ini akan mengisi postingan-postingan untuk orang-orang tertarget saja. Sementara untuk yang diluar target, semisal anggota tetap, biasanya mereka menggunakan grup terbatas atau semacamnya. Tapi setelah bergabung dengan IIP, walaupun belum dapat dikatakan resmi, saya mulai memahami bahwa pengurusan IIP ini dilakukan oleh segelintir orang, sementara pekerjaan yang perlu di-pretel-detili cukup banyak. Dan harus selalu hadir koordinasi dengan IIP pusat. Dengan 2 variabel yang tak terbilang mudah tersebut, perlahan saya malah berubah menjadi salut. Dengan tulus, saya apresiasi para pengurus Institut Ibu Profesional dari pusat hingga ke kota! 🙂

Laman-Laman Kisah Tentang Mengawali IIP

Septi Peni Wulandani, adalah perempuan inspiratif penggagas IIP. Dari membaca kisah tentangnyalah saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut apa itu Institut Ibu Profesional. Benak saya ketika itu hanya menggambarkan di komunitas IIP ini nanti para ibu akan berlatih untuk menjadi manajer dalam rumahnya. Saya sempat menghampiri beberapa blog tentang IIP, dan disana saya melihat penulisnya seperti menggambarkan sedang melaksanakan tugas membuat sebuah draf atau portofolio pribadi yang sifatnya personal, namun didasari konsep dasar yang sama. Sampai disitu saya telah menangkap akan berbuat apa saja nanti di IIP ini.

Salah satu ciri khas blog para ibunya-IIp adalah royal quotes. He he. Tak perlu lama untuk mengetahuinya, karena banyak sekali kata-kata bijak, yang sifatnya meng-encourage diri atau sesama, dan sikap mengapresiasi terhadap ilmu yang telah didapat dalam tulisan-tulisan di dalamnya. Dari apa-apa yang saya peroleh tersebut, keinginan untuk bergabung di komunitas ini masih menyala dan malah kian besar. Pun walau secara pribadi saya telah mencoba melakukan berbagai “aksi profesional” dalam kerangka pendek yang saya jelmakan dari kisah inspiratif ibu Septi dan para ibu inspiratif lainnya.

Wag Foundation IIP Vs Wag Pra-Matrikulasi, Beda Aliran Rasanya

Di dalam Wag Foundation IIP, banyak sekali member-nya. Apabila diibaratkan, Wag foundation adalah mendaratnya seluruh wanita, utamanya emak-emak di wilayah Depok, yang berminat mengikuti keanggotaan IIP.
Setidaknya, ada 2 variabel persamaan :

  1. Minat menjadi bagian dari IIP
  2. Tinggal di Depok atau mendaftar ke IIP dan memilih wilayah Depok.

Untuk itu, dengan ratusan perempuan di dalamnya yang memiliki 2 kesamaan mendasar tersebut diatas, ditambahi belum adanya konvergensi topik dan batasan diskusi spesifik, maka tidaklah heran arah pembicaraan dan sebagainya sangatlah random, namun masih berkutat seputar kisah yang mewarnai kehidupan para emak-emak. Di grup ini, saya hanya ikut berdiskusi saat membahas topik pendidikan anak dan sedikit membantu menjelaskan tentang ORI-Diphteriae yang masih lekat dibidang saya. Sisanya bagaimana? Mungkin sama dengan ibu lainnya, banyak yang di-skip berlalu, atau sekedar silent reader sesempatnya.

pra matrikulasi blog

Aliran rasa blog pra matrikulasi

Namun berbeda, saat aliran diskusi oleh admin mulai membahas Coc (code of conduct), dan disinilah saya mulai melihat dan merasakan aura komunitas IIP ini yang profesional, mendidik yang tidak menggurui dan demokratis. Disinilah perbedaan Wag IIP dengan kebanyakan wag lainnya. Biasanya Wag memang memberlakukan peraturan umumnya, seperti dilarang SARA, beriklan diperbolehkan hanya dalam batasan tertentu dan lain sebagainya. Tapi di Foundation, CoC benar-benar dipertajam agar juga dapat menjadi saripati pemikiran bersama sehingga lebih melekat dan menjadi dasar untuk tahap-tahap berikutnya. Jadi awalnya CoC ini diwacanakan fasilitator, lalu para peserta diminta menjelmakan dalam pemikiran masing-masing, walhasil jadilah beragam pengembangan pemikiran dari CoC yang awalnya hanya beberapa poin tersebut. Ini adalah cara yang sangat efektif karena mampu merangsang keterlibatan bersama namun tidak memaksa.

Dan tibalah saat menyelami dan menghayati apa itu CoC, mulai muncul benih-benih tak asing berupa kebersyukuran, bahwa saya telah berada di komunitas yang amat positif berbonus terukur, namun juga tak kehilangan asasi kebebasan individunya.

Dari seluruh CoC, saya cukup bereaksi ketika membaca kata ‘nista’ dan ‘silent reader‘. Mengapa? Karena menurut saya, ini grup yang cukup serius dan berani, sangat memperhatikan dan mengingatkan member yang cuma sebagai silent reader saja. Penggalan pengalaman tentang ini, sebetulnya memang saya rasakan di grup-grup lainnya. Dimana kalau dicermati, banyak sekali pihak mengambil posisi aman sebagai silent reader, tidak ikut berkontribusi, tapi suatu ketika butuh apa-apa minta tolong di grup. Hal tersebut memberi kesan oportunistik terhadap pelakuknya. Dan memang hal ini sebaiknya dihindarkan. Walaupun motif orang bergeming tentu tak cuma itu, bisa jadi karena faktor lain seperti kesibukan, kuota habis dsb. Namun dampak yang dirasakan member lainnya bisa sejauh itu. Catat! terutama untuk mengkoreksi diri saya sendiri, bagaimana dengan banyaknya komunitas online maupun off line yang saya ikuti. Bagaimanakah perilaku dan adab saya selama ini? sambil mesem-mesem tertunduk malu menjawabnya.

Tak lama setelah berada di grup Foundation, saya pun landing di grup pra-matrikulasi. Grup ini lebih padat, juga teratur agendanya. Dan yang tak kalah melekat di benak adalah grup ini sangat aktif. Karena para pesertanya sangat antusias dan memang telah merekam memori di kepalanya tentang silent reader yang amat tidak di rekomendasikan di CoC IIP. Terjadilah dampak postif maupun negatif akibat dari antusiasme dan aturan-aturan yang diterapkan pada grup yang beranggotakan ratusan orang ini. Positifnya, suasana kelas menjadi aktif-kontributif, interaktif nan cair dan muncul inisiatif. Namun dampak negatifnya juga tak kalah perlu dipikirkan, ratusan chat hanya untuk sekedar memberi tanggapan semacam menjawab salam, mengungkapkan kehadiran, berterimakasih, mengulang-ulang informasi sejenis dan sebagainya. Yang mana rupanya hal-hal tersebut menimbulkan masalah bagi para emak yang belakangan baru dapat mengakses Wag untuk mempelajari materi dan hasil diskusi. Mereka harus bersusah payah memanjat chat-chat penting yang rekornya hingga ribuan, dilanjut mesti fokus menyaring informasi-informasi apa saja yang penting. Yang lebih parah dari itu, timbul pula kasus-kasus, hp hang, aplikasi down, pusing baca chat, hingga yang terfatal saking terganggunya izin untuk meninggalkan grup. Tentu itu semua sangat memprihatinkan, kami disana bukan hanya belajar untuk diri sendiri, tapi juga harus dapat memberi ruang yang nyaman bagi emak pembelajar lainnya. Disinilah tantangan itu datang, dan alhamdulillah, dengan banyaknya yang menyuarakan, mulai dari saran untuk membatasi diskusi menjadi lebih berbobot, rules do and don’ts, dan kesabaran dan kecekatan para Mak fasilitator mengalihkan list-list panjang tidak efektif menuju bentuk form yang simpel dan tidak menganggu. Sungguh tampak disini, bahwa ilmu akan bermanfaat dan berubah menjadi ladang amal apabila digunakan sebaik-baiknya bukan?

Pelajaran pertama yang dapat dipetik dari momen tersebut adalah,

jadi emak-emak boleh di rumah, boleh awam, tapi sudah mesti ogah untuk bodoh dan malas belajar!

Kedua, jadilah emak-emak yang cekatan, sedari awal berkomitmen untuk menyediakan waktu untuk sesuatu yang kita prioritaskan. Ketiga, taatilah adab, sadar diri sebagai pendatang baru, ikuti himbauan dan aturan. Sudah semestinya kondusivitas belajar bersama adalah yang utama dijaga. Keempat, belajarlah menahan diri dari kemalasan membaca, dan menahan diri pula dari keinginan untuk mengekspresikan apa-apa yang tidak terlalu perlu di forum chat. Kelima, manfaatkan japri antar sesama peserta, hal ini penting untuk mereduksi chat berulang, yang tidak perlu, sekaligus menjalin bonding  antar sesama peserta, dan ini bonus terutama bagi yang suka dilanda segan kalau bertanya ke admin/fasilitator. Hehe pahamkan saya? jangan-jangan saya sendiri…? :p

Dalam grup ini, saya bertanya ke diri saya sendiri. “Apa tujuan saya berkontribusi ?” terdapat suatu pesan yang saya amini, karena memang secara pribadi saya memilih dan senantiasa mensugesti diri untuk menjadi pribadi aktif, gemar menolong dan akan siap mengapreasiasi kebaikan sekecil apapun. Yang bukan bertujuan dangkal untuk sekedar mendapat nama (popularitas), pujian atau keuntungan materialis tak bernyawa sejenisnya.

value komunitas IIP

Tentang mental dan perilaku berbagi dan melayani yang saya ambil dari sebuah tulisan member IIP sebelumnya

Suasana diawal-awal grup sangat didominasi aura positif dari fasilitator, namun lebih sarat aura fasilitator to member. Padahal, untuk lebih jauh, semua pergerakan dalam suatu organisasi atau khalayak yang optimal harus lah datang dari tubuh para pesertanya itu sendiri, karena merekalah yang harus aktif menjemput ilmu.Beberapa sikap yang dibutuhkan, antara lain : saling mendukung, mengapresiasi member to member, saling mengingatkan secara baik, itu semua sangat penting untuk ditumbuhkan. Dengan gerakan yang datang dari para pesertanya sendiri, akan menimbulkan aura lebih kuat, lebih dahsyat dan lebih berdaya.

Namun untuk itu kita tak bisa hanya mengandalkan orang lain untuk apa yang kita pahami dan ingin wujudkan bukan ? Saya meyakini, untuk memulai  apapun gerakannya, haruslah dimulai dari langkah-langkah kecil pertama yang dilakukan oleh diri sendiri, kemudian menyentuh, turut menginspirasi pribadi-pribadi lain yang beredar dalam frekuensi gagasan yang sama, dan “BLASS BYARR BIM SALABIM..!!” Terbentuklah energi bola salju yang menuruni bukit Es. Dimana ia melaju cepat, semakin turun semakin membesar mengangkut-membawa serta butiran-butiran es yang mau melekat dengannya.

Itulah “The power of emak-emak”, sebuah potensi besar anugerah Tuhan terhadap kaum Hawa. Yang dari energi kuat itu, dapat mendorong terjadinya keberdayaan postif maupun sebaliknya. Dan inilah tugas siapun kita yang memahami kehadirannya. Selalu upayakan energi itu menjelma dalam bentuk saling  terbuka, saling mendukung, dan saling mengapresiasi kebaikan sekecil apapun. 🙂

img_2805.jpg

Membuat infograf time reminder agar memudahkan sesama peserta

Aspek Teknis Pra-Matrikulasi yang sarat Komitmen dan Kedisiplinan.

Dan inilah bonus terakhir dari sejauh tahapan yang saya ikuti di Institut Ibu Profesional. Terdapat banyak sekali ilmu-ilmu teknis yang berkaitan dengan media dan teknologi. Ada tutorial membuat g-mail, g-drive, g-docs, bit.ly, google shortener hingga terakhir blog. Seluruh emak-emak apapun latar belakangnya, di-encourage untuk dapat melakukannya. Disini titik beratnya bukanlah bisa, tapi mau belajar. Tidak ada ekspektasi berlebihan, melainkan hanya sekedar coba, pelajarilah dan secara bertahap ujilah diri terhadap penggunaan ilmu-ilmu itu. Kelak seseorang akan tiba di fase mahirnya apabila ia terbiasa.

Last Insight-inside…

Bagian terakhir…

Yang saya dengungkan di dalam dada, kemudian saya jejalkan pada larik-larik lisan sendiri maupun tulisan. Kata-kata yang diharapkan bak sebuah lilin kecil yang menyala memberi cahaya walau temaram, namun itupun sudah mumpuni mengidupkan suatu ruangan. Pencahayaan Itu penting, agar siapa-siapa yang berada didalamnya, dapat melihat segala sesuatu secara nyata, bukan dalam gelap dan gamang.

Dari Saya, Si Mak Cenopy, seorang perempuan Indonesia, yang tak hanya ingin maju sendiri atau sibuk berbenah mempercantik rumah sendiri. Menyadari penuh bahwa amanat penerus penciptaan bermula dari cinta dan kasih dalam hati kita. Saya, kita, dirimu adalah para ibu. Ibu yang menggengam erat tangan putra-putri bangsa ini, sembari di tangan lainnya menyalurkan energi cinta, yang saling menguatkan antar sesama. beautifuly, spread love 🙂

  18 comments for “Pra Matrikulasi IIP : Sebuah Etalase Bergumulnya Para Ibu Yang Ingin Menjadi Lebih Baik

  1. 22 Desember 2017 pukul 8:03 am

    Mak…bisaan banget nulis mengalir begini. Keren

    Disukai oleh 1 orang

  2. 22 Desember 2017 pukul 10:12 pm

    Halo Mak Diahdenia, trimakasih sdh mampir dan baca tulisan saya 🙂
    Saya jg tadi mampir ke teras Mak, ada pengingatnya “mother’s a glue”…
    betul banget itu, saya kemana2 diekor-tempelin terus sama anak-anak (bukan yg artian kaya gitu ya hahaha)

    Disukai oleh 1 orang

  3. 25 Desember 2017 pukul 1:48 am

    Waah, paket lengkap ini mah tulisannya Mak Irnova. Sukaaaak 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    • 27 Desember 2017 pukul 3:03 am

      trimakasih mbak Madasaina :)..
      jangan lupa baca komen saya di tulisan Mbak yang ga kalah orisinil ya 😉

      Disukai oleh 1 orang

  4. 29 Desember 2017 pukul 5:15 pm

    Hallooo mak irnova.. MasyaAllah suka cara ngerangkai kata2nya.. Berbakat jd penulis mba.. Dan tentu berbakat jd the next fasilitator IIP hihi.. Salam kenal mak, ig nya aku follow yaaa. Ig ku: @dhitadepe

    Suka

    • 29 Desember 2017 pukul 5:22 pm

      Huolooo Mak Dhit.. 😊🙏🏼
      Siapp Mak nanti ku folback mak Insyaallah.

      Iya minta doain ya Mak.. aku sebetulnya mmg bergerak di kepenulisan. Tp mmg sjk pertengahan tahun ini, aku mulai lebih fokus dan giat-giatnya dr content writer. Kini merambah buku dan relawan tulisan Mak.

      Makasih komen penyemangatnya ya Mak Dhit 🤗😘

      Suka

  5. Almira
    29 Desember 2017 pukul 8:31 pm

    Juaraaaaa lengkapnya… malu sendiri liat blog saya hambaaarrr 😅 buat group blajar nge blog nih sama mak irnova

    Suka

    • 29 Desember 2017 pukul 8:53 pm

      Huolo mak Almira, ah masak sih Mak hambar?
      Saya malah seneng bacanya mak. Tertangkap kesan tentang seorang ibu rumah tangga yang sadar bahwa belajar itu sangat perlu. Apalagi belajar untuk jadi ibu malah kedudukannya sangat prioritas. Apalagi ibu kan sekolah bagi anak, harus jd teladan dalam kemauan belajar.

      Boleh Mak kita sharing-sharing saling melengkapi, pas ngeblog tugas iip nanti yah 🙂 🙂

      Suka

  6. 29 Desember 2017 pukul 11:07 pm

    Bagus banget..aq bacanya dr awal sampe akhir loh..jd malu inget blog ku yg super irit ..
    Btw kita bidangnya sama nih Mak irnova*biar kyk emak2 rusia hahaha… Bs nih bikin baksos bareng.
    Dan tentunya aq gabung klo bikin group nulis menulis*colek Mak Almira

    Suka

    • 29 Desember 2017 pukul 11:41 pm

      Hyampiuun mak-mak IIP ini aneh-aneh! Baca panjang2 gini malah demen. Saya sebetulnya acap kena protes kalau nulis puanjangg puanjanggg mak.. hahahaha. 😀
      Terimaksih ya Mak Di, rela baca tulisan yang cukup panjang dr awal smp akhir, walaupun chat di wag kita lebih panjang lagi 😀

      Wah boleh Mak Di, hamdallah. Next kalau ada project sosial pas timingnya, ntah baksos, promosi kesehatan dll, boleh ya kita kontak2-an.
      wkwkwkwkk grup tulis-menulis apaan ini? ntar banyak-banyakin grup malah habisin kuota, batre plus memori kita mak hahaha.. Pokoknya untuk emak-emak iip insyaallah siap berbagi, kita saling melengkapi sharing ilmu-ilmu bermanfaat ya Mak 🙂 🙂

      *Btw, komenku di tulisan mak Di jadinya selamet apa ilang Mak ?

      Suka

  7. 30 Desember 2017 pukul 1:37 am

    halo mba, tulisan ini muncul dihalaman wordpress saya.
    senang sekali membaca tulisan ini ^^
    salam kenal mba

    Disukai oleh 1 orang

    • 30 Desember 2017 pukul 1:05 pm

      Yuhuuu halo jg Mbak ‘Quree’ Quraini 🙂
      Terimakasih mbak sudah sempat membaca dan alhamdulillah mbak senang. Nampaknya mbak Quraini ini senior di iip nih yaa…

      Salam kenal, salam hangat 🙂

      Suka

      • 30 Desember 2017 pukul 7:46 pm

        sama-sama mba^^
        saya juga baru, baru lulus matrikulasi tahun ini mba

        salam kenal^^

        Disukai oleh 1 orang

  8. 9 Januari 2018 pukul 9:02 pm

    Haii maak… tulisanmu bagus banget… ajarin aku nulis kayak gini donk… apa sih rahasianya?

    Disukai oleh 1 orang

    • 9 Januari 2018 pukul 9:31 pm

      Eh Mak Dila Miminya Malika dan Catatan Perempuan 😊

      Yah kita kan akan sharing2 Mak..ttg topik keperempuanan he he. Ditunggu tulisan2 bertema perempuannya Mak, saling berbagi hal yg bermanfaat dan saling support Maknya Malika 😊🙏🏼

      Disukai oleh 1 orang

      • 9 Januari 2018 pukul 9:33 pm

        Iya maak… aku benar2 awam… heheh

        Disukai oleh 1 orang

      • 9 Januari 2018 pukul 9:43 pm

        Sama Mak Dila, u blog hitungannya mah sy anak baru kemarin malem 😁😁
        Namanya jg jurnal pribadi Mak, bebas mau nulis gmn jg ga pakai pakem2.. yg pertama kan manfaat nge blog untuk kitanya sendiri. Apalagi ditambah tema blog mak kan ttg perempuan, tulisannya orisinil, buah pikiran sendiri dan sy pun yg sempat baca, merasa dpt manfaat lho Mak 👍🏻

        Suka

  9. 9 Januari 2018 pukul 9:43 pm

    Sama Mak Dila, u blog hitungannya mah sy anak baru kemarin malem 😁😁

    Namanya jg jurnal pribadi Mak, bebas mau nulis gmn jg ga pakai pakem2.. yg pertama kan manfaat nge blog untuk kitanya sendiri. Apalagi ditambah tema blog mak kan ttg perempuan, tulisannya orisinil, buah pikiran sendiri dan sy pun yg sempat baca, merasa dpt manfaat lho Mak 👍🏻

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: