Integritas : Sebuah “Tambang Emas”, Yang Selalu Dimulai dari Yang Dekat, Kecil dan Dianggap Remeh-temeh Oleh Kebanyakan Orang

melalui Bacaan dan Kepenulisan
Terjaga di malam hari, adalah efek dari pikiran yang terus saja memunculkan ide yang tak berhenti, walaupun seluruh kehidupan punya aturan untuk taat shift kerja ataupun mengikuti batasan jam malam. This is it “crawling in my head, the ideas.” Walau kantuk sempat menyapa, tapi setalah terbasuh air wudhu, lumayanlah kedua bola mata ini mulai ces pleng. 6 otot penggeraknya luwes lagi memanjang dan memendek. Pembiasan oleh tapal-tapal batas remang malam pun diterima dengan sigap, diboyong kilat ke otak belakang. Bongkahan otak paling buntut. Itulah pusat persepsi visual dari objek-objek semesta yang kita lihat. Bersyukur untuk hadir setia mu, pun kau masih penat ingin istirahat.

Tampak suami saya, sudah duduk manis di depan laptopnya, alhamdulillah punya teman gawe jam segini. Rupanya dia sibuk mengerjakan pr lama yang sudah hampir lumutan. Menuntaskan lembaran-lembaran proposal ikatan alumni jurusan yang diketuainya. Dan kembali otak saya menunjukan keberpihakan, menyuguhi memori siang tadi, saat saya berikrar dihadapnya untuk membantu pembuatan proposal itu. Sungguh sebuah momen yang masih lekat di ingtan, percakapan singkat yang membuat hati terenyuh. Lumer.

“Ayah, kan ada bunda. Kenapa ndak manfaatkan bunda, kita kan saling melengkapi? Bunda bantu ayah disana, ayah kan sudah banyak bantu bunda.” pinta saya dengan nada tanya.

“Bunda kan sibuk, Bun….” jawabnya datar saja dengan tatapan serius namun bernada penuh pemakluman.

Sesaat setelah ungkapan itu saya duduk. Sepersekian detik kemudian, saya bangun dan menghampirinya. Saya raih wajahnya dengan kedua tangan saya, “Ya Allah Yah, masak untuk orang lain yang ndak bunda kenal saja, bunda mau bantu..masak Ayah, Bunda ndak bantu? sibuk, ga sempat? ndak ada itu. Pasti di utamakanlah Ayaaahhhh” mencoba menjelaskan dengan nada setengah tak percaya .

Istri mana yang tidak terenyuh, suami yang seringkali membantu kebutuhan dan pekerjaannya, tapi ketika ia telah lama menunda pekerjaan yang sebetulnya lebih dekat ke amanah, saya selaku istri tak ada di list manusia yang dapat menolongnya? 😦

Berulangkali saya pun menyampaikan kepadanya dengan nada lebih penuh penekanan di setiap lantunan kalimatnya. “Jangan pernah ia berpikir demikian lagi. Salah satu fungsi Allah mempersatukan 2 anak manusia lelaki dan perempuan adalah untuk saling melengkapi dan memberi manfaat satu sama lain. Dan ini sudah menjadi inti atom dari sebuah pertautan di hadapan Tuhan yang disebut pernikahan.” Kelebihan saya adalah untuk melengkapi kurangnya, dan kelebihannya sudah pasti diperuntukan untuk membantu saya yang kurang. Dan satu hal lagi yang saya tekankan. Orang beriman itu salat. Salat yang bukanlah sekedar gerakan ritual dan lisan di bibir dari takbir hingga salam. Lebih jauh dari itu, salat harus di berdirikan. Di-berdikarikan. Dalam jiwa mukmin harus internalized. Ia adalah tentang mempersempahkan karya pada Allah. Sebagaimana Ibrahim AS mempersembahkan hasil karya Ka’bah dihadapan Tuhannya. 

Dan, ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail : “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami karya kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah :127)

Sehingga jiwa beriman semestinya memahami apa-apa yang menjadi pikulan bakul amanat kerja nya. Orang beriman harus menunjukan bukti ketaatan dengan mempersembahkan amanatnya, baik di ranah domestik maupun publik secara benar kepada Allah. Pribadinya haruslah memiliki-menjaga integritas. Jangan remehkan urusan orang lain, apalagi kumpulan manusia.

Dia suami yang sangat pengertian, mendukung, dan penuh perhatian. Di lain sisi, tentu tiada manusia tanpa cela. Dibeberapa sisi, saya sebagai istri mesti banyak mengajak mendalami makna kehidupan. Saya sebagai pribadi pun menyadari betapa banyak cela yang di maklumi olehnya. Dengan sabar ia banyak mendengar keluh kesah istri, kegalauan, kecerobohan dan keanehan seseorang yang sudah menjadi teman hidupnya selama 7 tahun ini. Tahun demi tahun bersama, membuat pengenalan dan penerimaan antara satu sama lain semakin baik. Seringkali saya merasa dia jauh lebih pengertian dibanding saya.

Di dini hari ini, saya yang biasanya bangun lebih dahulu, kini digantikan olehnya. Jujur saja saya senang dan menghargai itu semua. Sesudah menyelesaikan salat malam, saya pun duduk dihadapannya, membawa segelas air. Kami memang sering minum satu gelas berdua. Selain itu, memang kalau berhadapan dengan layar, saya memang selalu meletakan air di samping saya. Karena kalau sudah duduk, paling malas beranjak dari kursi yang terus saja memanas. Boleh diumpama seperti candu sebetulnya.

Membayar Tunai Janji mengulas naskah dan meninggalkan jejak singkat

Saya punya agenda membayar tunai janji memberi ulasan dan tanggapan terhadap debut buku seorang penulis. 3 hari lagi naskah sudah harus naik cetak. Buku bergenre motivasi untuk kalangan muslim. Seperti biasa yang sudah-sudah. Kerapkali saya sensitif-responsif dengan textingDari awal, saya sudah membaca gelagat keperluan penulis ini dalam pesan wa nya. Ia membutuhkan penguat untuk debut pertamanya. Dan di topik ini ia membutuhkan tanggapan dari seseorang yang menurutnya mungkin memiliki tone tertentu di suatu bidang, dan itu nantinya akan berkaitan dengan bagaimana menggenjot sebuah buku agar tampil semenarik mungkin agar dapat menggerakan terjadinya perpindahan buku dari rak toko kedalam keranjang belanja pembaca. Sebetulnya kalau saya tak menangkap kebutuhan ini, saya pun tak perlu repot-repot menampakan harus menampilkan self branding khas dalam bukunya. Yang mana hal tersebut sedikit membuat berpikirK manakala secara jujur saya mengakui, saya dalam taraf masih harus mengukir tinta yang lebih tebal dengan tingkat usaha dan keseriusan yang lebih terukur dalam urusan karakter yang melekat di diri ini.

Saya mulai mengecek daftar isi, jumlah halaman dan prakata. Saya selalu mengawali dengan pra kata penulis. Menurut saya cara ia menyajikan why to buy this book-nya sudah sangat baik. Saya mulai membaca kilat. Ini harus selesai saya baca  dalam 1-2 jam kedepan. Maklum kalau sudah lewat subuh, anak-anak sudah bangun dan aktivitas lainpun menanti sentuhan.

Setelah melalui beberapa halaman di muka, saya pun mulai mengkerut. Sindroma penulis awal ya begini ini pikir saya. Ingin memuntahkan seluruh pengetahuannya, sehingga cenderung keluar dari fokus. Banyak sekali sajian teoritis dimana-mana. Sebagai buku motivasional yang seharusnya disajikan mudah dibaca, to the point, menyajikan how to secara runut dan sistemastis. Menyajikan ide  segar otak kanan dalam bullet-bullet otak kiri namun divisualisasikan lagi secara kanan he he 😀 belum saya peroleh di buku ini. 😦

Tak terasa tibalah saya di beberapa halaman lagi menuju penutup. Poin-poin ulasan saya pun sudah hampir memenuhi satu halaman A-4. Dan sungguh saya tidak sabar untuk menuntasakan bacaan yang lebih tepat disebut proses scanning ini. Saya membayangkan pembaca yang berhenti membaca dihalaman-halaman awal. Dan membuncahlah imajinasi saya terhadap tulisan sendiri. Banyak sekali masukan bagi saya, hendaknya dalam menulis suatu bacaan jangan bertele-tele. Sebaik apapun pengetahuan kita, apabila disajikan dengan membosankan tak tentu arah, semuanya akan lenyap tertutupi.

Sesekali saya curhat dengan si bapak, “ya ampun Yah bla …bla” (cukup konsumsi pribadi) he he.

Tapi sekali lagi pelajaran berharga yang akan saya gunakan, bagi saya dari peristiwa ini adalah :

  • Mintalah kritik, masukan terhadap karya kita dengan tulus. Jangan hanya menginginkan hasil akhir berupa “podium sanjungan untuk karya kita”
  • Boleh jadi tulisan awal kita memang akan diterbitkan, namun pesan kesan satu orang pembaca yang memberi masukan tulus dan jujur, boleh jadi jauh lebih penting untuk kepentingan penulisan kita di jangka panjang.
  • Teruslah terbuka, banyak belajar, banyak membaca dan jangan lupa untuk  mengakui bahwa ketika menulis sudah pasti kita akan dipengaruhi oleh tulisan-tulisan orang lain.

Lepas membaca, saya menulisakan tanggapan saya via wa. Melalui beberapa percakapan yang intinya, saya tidak meneruskan masukan satu halaman kepada penulis. Cukup ramping alasannya, antusiasme tanggapan yang bersangkutan lebih kepada yang sudah saya duga diawal tadi 🙂

Selalu Ada Sisi Positif Dari Seseorang

Sesuai saran jitu dari si Bapak. Saya akhirnya memberi tanggapan lebih ke personal yang bersangkutan. Saya angkat ciri khasnya sebagai salah seorang guru (ustadz ) yang mengajarkan materi-materi ke pedalaman. Tentu apabila saya mau, saya memiliki alasan untuk memberi masukan dan kritik. Yang mana sejak awal itu adalah kalimat pembuka saya ketika menerima permintaan sang penulis. “Siap di kritik ya ?” hehe begitu pesan balasan saya di whatsapp ketika itu.

Tapi untuk apa? Apalagi saya telah membaca arah kebutuhan ybs ?

Kritik hanya akan berfungsi pada ruangnya

Tidak semua orang mampu menyikapi kritik secara baik, bijaksana. Kecenderungan tersering adalah kritik dibalas mekanisme defensif. Lalu terjadilah denial dan sebagainya. Sehingga kritik memang hanya akan fungsional, apabila pesan diterima secara benar dan wicaksana. Dan penerima kritik harus lah menyediakan ruang  cukup untuk meluaskan hati menerimanya. Sementara kebutuhan mendorong seorang pemula berkarya itu jauh lebih arif dan bermanfaat bagi pemberi support maupun yang dikuatkan. Alih-alih mencacat hasil cacat kerja disana sini, yang mana itu nanti masih bisa ia peroleh dari kalangan mana saja. Tapi encourage? Belumlah tentu sebagian besar pihak disekitarnya memahami dan bersedia lapang melakukannya.

Kembali Ke proyek si Bapak “Pembuatan Proposal Yang Tertunda”

Adalah suasana yang saya syukuri, dapat bekerja berhadap-hadapan bersama suami didini hari menuju subuh. Saya paham masa-masa ini sangat langka. Banyak manusia lelap di waktu ini. Dan itu wajar. “Menghidupkan malam” adalah frasa dasar yang amat saya kagumi. Benarlah maknanya, dimana godaan untuk memilih lelap sangatlah besar. Dan tantangan untuk benar-benar menghidupkan malam dengan doa (bicara isi hati dengan penuh kerendahan kepada Rabb), membaca dan mengkaji Al-quran, berkarya optimal melampaui “batasan diri” haruslah menghiasai elemen-elemen pengasahan karakter manusia beriman di jam-jam sepi ini.

Bahwa di jam-jam inilah para insan yang unggul, berpikiran maju dan memajukan sedang meraih sesuatu yang saya sebut dengan : bonus waktu luang yang sangat memberi keuntungan. Bahwa al-quran akan mengantarkan siapa-siapa yang mengimaninya, menjadi manusia unggul melampaui batasan dirinya, karena didalamnya terdapat aplikasi tinggi super canggih dari langit berupa wahyu Allahu Rabb. Apabila ter-install aplikasi Robbaniyyah ini, maka dampaknya akan luar biasa terhadap seseorang.

Saat ini ada hal kecil yang tengah kami kerjakan. Kecil mungkin dalam penilaian awal manusia. Namun apabila didasari niat mempersembahkan kepada Allah, saya yakin…akar yang baik menumbukan pohon dengan batang, cabang, ranting yang baik pula, buah yang masak dan manis-manis.

Setelah menyelesaikan urusan ulasan naskah, saya pun merambah laptop kerja si bapak.  Dan memang inilah yang saya maksudkan padanya di siang hari kemarin. Bahwa apa yang saya bisa, berfungsi untuk melengkapi dan memudahkan urusannya. Dan masuklah sentuhan wanita dalam penulisan proposal tersebut. berkembanglah 2 paragraf menjadi 5 paragraf. Tetap menjaga ciri khas pak suami yang kuat dengan karakter penyuka orisinalitas. Artinya tetap menjaga tidak terlalu panjangnya pendahuluan melebihi satu halaman.

IMG_3147

kerja sama pak suami yang saling melengkapi 🙂

Jadi sebenarnya spesialisasi saya ini apa ? Saya pikir tak lain tak bukan adalah kebertele-telean dan pengada-adaan ha ha ha 😀 😀

Alhamdulillah, dalam ranah yang masih saya katakan mulai muncul tunas ini. Sedikit dari kemampuan  dan buah integritas yang pelan-pelan saya bangun sejak dahulu maupun belakangan, dilanjutkan dengan pemeliharaannya, utamanya dikarenakan menghayati bahwa segala kemampuan dan potensi pada diri akan menemui akhir, yaitu pertanggung jawaban kepada Tuhan. Dan saya bersyukur, hal ini saya terapkan pada hal yang kecil dan dekat, sehingga masih memberi manfaat bagi beberapa pihak. Utamanya pihak-pihak yang terdekat.

Banyak diantara manusia, menganggap integritas ini lambat bekerja, sulit dan basi. Namun sebetulnya janji yang diberikan integritas sangatlah nyata. J.C Maxwell dalam bukunya Influence, mengatakan bahwa apabila reputasi adalah sebuah perhiasan emas, maka integritas adalah tambang emasnya. Dan saya pikir, pernyataan tersebut bukanlah berlebihan. Mengingat, bukan hanya reputasi buah dari sebuah integritas, tapi juga penghargaan bagi diri, hidup yang lebih positif, mensyukuri mulai dari hal kecil dan seterusnya.

 

 

  8 comments for “Integritas : Sebuah “Tambang Emas”, Yang Selalu Dimulai dari Yang Dekat, Kecil dan Dianggap Remeh-temeh Oleh Kebanyakan Orang

  1. 11 Januari 2018 pukul 8:54 pm

    Pengen baca, tapi tulisannya kecil sekali, huhuhu..

    Disukai oleh 1 orang

    • 12 Januari 2018 pukul 3:03 am

      Halo mba Justicia Nita, trimkaaih sdh berkunjung…

      Iya saya kecilkan, krn rata2 tulisannya cukup panjang mba.. 😀

      Insyaallah nanti sy normalkan lg ukurannya. Trimakasih sarannya =)

      Suka

      • 12 Januari 2018 pukul 8:13 am

        Nulis panjang gak harus tulisannya diperkecil mbak.. Triknya klo nulis utk media digital, paragrafnya diperpendek..

        Suka

      • 12 Januari 2018 pukul 8:44 am

        hahaha 😀

        Karena ini blog personal, dan kebetulan sy menikmatinya ya mengalir saja tulisan mbak, ehh tau-tau panjang juga. Tentu kalau untuk content bisnis dan media publik itu jd elemen penting u “memadatkan konten” 🙂

        Jd gini mba, klo ttg tulisan yg sy minimize font-nya. Sebetulnya krn di media digital, kita fleksibel bs memperbesar gambar atau tulisan ketika membaca. berbeda ketika di media based on paper, kita harus atur font selazimnya 11-12 pt agar nyaman bacanya.

        Kemudian ada pertimbangan secara layout jg ketika melihat suatu laman dalam gambaran besar keseluruhan (ini jg bs pengaruh selera sih ya) sebetulnya jd lebih nyaman dilihat kalau font dan gambar itu pas ukurannya ketika tampak dalam 1 layar.

        ini sdh sy normal kan kembali size font nya, silahkan mba baca dengan nyaman 🙂
        terimakasih mb Justisia 🙂

        Suka

      • 12 Januari 2018 pukul 8:49 am

        Thank youuu..

        Suka

      • 15 Januari 2018 pukul 12:35 pm

        Ah, gak salah minta tulisannya diperbesar, menarik!! emang terasa kalau sebenarnya ini nulis untuk sekedar mengeluarkan yg di dada (personal), tapi jika orang lain baca, ada lah yang bisa didapat.. hehehehe…

        Disukai oleh 1 orang

  2. 12 Januari 2018 pukul 12:54 pm

    Sama sama y mba 😊

    Suka

  3. 15 Januari 2018 pukul 12:54 pm

    Alhamdulillah. Terimakasih mbak telah benar-benar menyempatkan waktu membaca tulisan panjang ini. 😊🙏🏼

    Ini serius agak panjang, ya betul pengalaman sendiri dan diupayakan tetap memberi manfaat (krn ada “tanggung jwb” jg kan kalau kita nulis dan kita publish)

    Smg dilain kesempatan bs memperoleh masukan ataupun kritik dr mbak Justicia Nita lg 🙏🏼

    Senang berinteraksi dgn mba Nita lwt blog 🤗🤝

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: