MENJADIKAN PERNIKAHAN SEPARUH PERADABAN

“Well, kembali lagi disini, maafkan telah lama meninggalkanmu sinicenopy.com (sambil merundukan kepala, posisi tangan seperti petapa, ohh yeeee ? where’s emoticon ? hahaha), sebagai wadah setiaku melipur alam pikiran sadar maupun bawah sadar dan yang tak lupa menerjemahkan perasaan ke dalam kata tentunya”  :)…Heiii, seperti biasa tak lupa aku membawa isi kepala (mungkin juga isi hatiku), kali ini dengan bahan-bahan pertanyaan yang harus dijawab dalam kubangan tugas nice “amazing” homework ke 3 dari program matrikulasi Institut Ibu Profesional. 🙂

“Yuks kita kepow!”

IMG_3645

Rasa Memasuki Pekan 3, NHW#3

————————————————————–♥♥♥♥—————————————————————

Tak seperti sebelumnya tugas NHW saya tuliskan di Google docs, oh tapi kan sayang ya blog udah di custom apik-apik buat nyaman nulis ee dianggurin, mana ga sering juga ngapdetnya (alesan; dua jari). Ya kali ini saya pilih blog, agar tulisannya juga lebih sesuai untuk sekalian aliran rasa. Oh yaa, tulisan 2 NHW sebelumnya akan dilanjut dimari lho..dipindahkan dari G-docs lalu tak oprek-oprek lah dimarih… 🙂

Omong-omong peradaban—Sebenarnya, peradaban kan berasal dari kata adab. ya masih sebenang merah lah ya sama materi pertama matrikulasi, dimana semua pengetahuan harus diawali dengan adab agar ia menjadi ilmu bermanfaat. Nah, dan untuk itu ini lah dia dia definisi peradaban sebelum kita melaju cepat ke substansi diri dikaitkan dengan peradaban ini.

Apa Itu Peradaban ?

Peradaban menurut KBBI, yaitu kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Sementara menurut Om Albion Small, peradaban merupakan kemampuan manusia didalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya untuk dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Dan terakhir menurut Oswald Spengler, adalah tingkat kebudayaan pada saat sudah mencapai taraf tinggi serta kompleks.

Yes exactly! kalau yang lain juga setuju, artinya ga cuma saya yang menarik poin-poin diatas menjadi :

Peradaban harus terdiri atas “cirinya”, yaitu sebagai berikut :

1.Kondisi dimana tampak sekali ketinggian, keluhuran, taraf kemajuan yang jauh lebih baik. Sebuah titik baku, dianggap finish dan bahkan mengkristal.

2.Merupakan hasil upaya manusia menghadapi tantangan hidup dengan memaksimalkan kemampuan individu-individu di ragam bidangny— dalam rangka mengurusi alam bernaung bersama.

Dan sesuai dengan itu, di Ibu Profesional ini, kita diajak menjadi agen perintis peradaban dari dalam rumah masing-masing. Karena sifatnya ajakan, maka semua akan berpulang pada diri kita masing-masing. Apakah kita disini akan menyambut ajakan atau menolaknya? Mind set kitalah yang akan menentukan. Nah. Seperti pendahuluan sebelumnya, maka inilah beberapa pokok pekerjaan yang semestinya digarap masing-masing di rumah para ibu profesional.

Tugas NHW #3, bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami. Surat ini telah saya buat mind mapingnya, wow akan panjang nampaknya ya, berikut cuplikan mind map nya :

IMG_3677

Mind Map Surat Cinta Untuk Pak Suamik dibuat malam hari selepas menerima NHW, dan teteup, NHW nya tetap lama di produksi ihihihi… 😀

Kalau dibikin seperti ini ya insyaallah isinya bukan cuma curhatan aliran rasa belaka, namun menyangkut aspek-aspek yang melalui jaras otak berpikir tingkat atas. Ya kalau nanti menuliskannya sudah tentu harus diisi kalimat-kalimat hidup yang berasal dari imbuhan perasaan—Biar lebih mengikat dan membekas aw aw 😀

Rencananya surat ini saya tuliskan dalam bentuk ketikan saja. Ya saya masih si simpel yang ga begitu-begitu banget harus tulis tangan. Apalagi Pak Su juga orangnya simpel, bisa dibilang karena lebih sering liat doi baca hape daripada buku atau kertas yes :p (catatan khusus alarm baca volume 3/5 bagik pak Su ! =D). Dan aspek yang harus diperhatikan lagi, alhamdulillah walaupun ga pernah ngasih bunga, doi cukup romantis, setidaknya melebihi saya sendiri. Untuk itu puas-puasin lah mengeluarkan aneka rasa di dalamnya.

Sesuai materi 3, Membangun peradaban dari dalam rumah. Disana ditanyakan, ingatlah kembali saat sebelum menikah, apa yang menjadi alasan kamu memilih suamimu ?

Dalam al-qur’an dijelaskan bahwa ia adalah sosok “al-qowwam”—Yaitu sebagian lelaki yang diamanahi kekhalifahan memimpin, mengayom dan memelihara. Dan ketika dahulu, saya mendoa kepada Allah di satu tahun sebelum saya ingin menikah dan tak punya gambaran jodoh pada saat itu. Saya hanya meminta seseorang dengan sangat sederhana. Yaitu “seorang lelaki yang mau belajar” that’s it! Saat itu, saya sangat percaya bahwa sosok seperti itu pulalah diri saya. Saya merasakan dengan posisi tersebut kita sudah dicukupi amunisi dasar mengisi hidup dengan selalu “open mind” terus dahaga untuk belajar.

Ibu mertua beberapa kali cukup serig menceritakan masa kecil suami saya. Dimana, Pak Ryza kecil adalah anak yang tak mudah menyerah, suka berbuat kebajikan. Nuraninya bicara walaupun keadaan memusuhinya—Kala itu, ia dipilih guru menjadi ketua kelas, dan di saat itu guru hendak pergi beberapa saat meninggalkan kelas. Gurunya berpesan “Ory, nanti catat siapa-siapa yang ribut ya, ibu mau keluar dulu.” Yes zaman dulu di dalam kelas tanpa aktivitas pembelajaran dengan guru pun anak-anak tetap dilarang ngobrol atau berisik (ga tau kalau sekarang sih ?). Terbayang di masa sekarang, apa seperti itu “wajar” dilakukan ?Mengingat watak anak-anak gitu lohhh hahahaha 😀

Dan benarlah, Ory kecil mencatat nama-nama temannya itu hahahahah. dengan polos lurus ia menyerahkan catatannya kepada guru. Jreng-jreng!!!! Siang harinya, Ory kecil harus menghadapi akibat ulahnya itu. Ia dikepung segerombolan anak yang tak terima nama mereka tercemar dihadapan ibu guru wkwkwkwk. Ternyata Ory kecil cukup cerdik-antisipatif (tepok tangan prok-prokk!)—Sebelumnya ia telah menelepon Ibu mertua, “Ma, tolong jemput Ory ya!” Ungkapnya singkat saja. Tapi hati seorang ibu tak mungkin tak merasa, walaupun sang anak tak mengemukakan alasan, ibu mertua langsung berangkat tak banyak pikir. Di depan pagar sekolah, ibu terhenti, memandang jauh ke halaman depan sekolah, memilih melakukan pengamatan jauh, akibat rasa penasaran tentang apa kiranya yang akan terjadi pada anaknya, saat di kepung seperti ini. Dan saat seorang anak mulai mendekat dan tiba-tiba menyodorkan pemantik api lalu menyalakannya dihadapan putranya—Sontak Ibu mertua pun langsung berteriak memanggil nama “Ory!” dan semua anak pun kaget sambil menoleh, “haaa emaknya Ory, kabuurrrrr!” pekik mereka hahahaha, semua melesat cepat tanpa tersisa— meninggalkan Ory kecil sendirian di tengah sorot panas terik matahari lapangan sekolah.

Banyak lagi kisah bermakna nurani murni kanak-kanak yang direkam Ibunya dan diceritakan kepada saya. Alhamdulillah, itu semua bukan hanya saya dengar sambil tertawa, tapi benar-benar saya catat dalam memori.

Ada satu hal yang amat sangat saya dambakan darinya, sebagai anak yang cerdas, bernurani. Saya berharap ia dapat mensyukuri ini semua. Agar Ia kembali lagi ke masa-masa ia masih banyak dilarang, dan ia jemput segala yang sebelumnya sempat terhenti. Memaafkan sepenuh hati dan balik menyalakan api diri.

Salah satu larangan yang berakibat fatal adalah, Ory kecil dilarang memegang buku-buku S2 ayahnya. Dan menurut tutur mertua, hal itulah yang membuatnya sampai kini bukan “sosok betahan dalam membaca buku”, amat bertolak belakang dengan saya yang sejak kecil tidak pernah dilarang—Bebas cenderung explorer dan expressive,  karena ibu saya di masa kecilnya banyak sekali dilarang—Ditambah lagi ibu adalah pekerja sekaligus pengusaha sehingga banyak aktivitas dijalaninnya dalam satu waktu, termasuk mengurus anak. Pun begitu, tak sedikitpun berkurang waktu dan kasih sayangnya untuk kami. Ibu selalu membawa kami anak-anaknya ikut ke tempat-tempat bekerja! dan saya syukuri itu, saya contohi itu! Suatu pengalaman amat mahal, mendapati kodrat seorang wanita, apapun latar belakabg dan aktivitasnya, membopong anak adalah keutamaan ♥

Dari perenungan ini saya dibawa lebih mempreteli isi tubuh suami saya (jiwa), melihat kelebihan dan kekurangannya dan menjadikannya bahan bakar untuk sama-sama menjadi “pasangan unggul” dalam merintis “rumah perintis generasi unggul untuk peradaban”. Amiin ♥

Sifat potensi maupun aksi suami :

1.Nurani : Ory kecil masih menampakkan ia dipimpin nurani murni. Maka tugas saya memurnikan kembali nurani itu dengan satu-satunya cara—Tazkiyyatun-nafs. Bagaimana aplikasinya? Yaitu dengan menghadiri tadzkir quran, pemahaman quran, karena Quran adalah penawar Jiwa.♥

2. Fitrah : Ory sedari dulu adalah sosok sabar, taat orang tua, pantang menyerah yang mampu menghadapi tantangan. Tugas saya menyalakan kembali dan mendorngnya jauh lebih unggul dari dirinya yang sekarang.

3. Fokus : Tugas saya adalah menemaninya menjalani hidup yang lebih bermakna, meningkatkan value apa-apa yang telah diamanatkan pada suami. Ia adalah ayah, ketua Alumni Teknik Industri, abdi negara salah satu kementrian. Ia selalu bisa menghadapi ujiannya sebelumnya. Maka ia sangat potensial menghadapi ujian-ujian berikutnya bila ia bersungguh-sungguh.

Saya kira, 3 hal ini terlebih dahulu harus saya kuatkan. Perlu waktu untuk berproses, semoga Allah meridhai :). Hal- hal ini saya tuliskan dalam surat saya kepadanya. Hendaknya surat itu berfungsi multipel, agar lebih bisa ditarik banyak manfaat bagi suami saya ketika Ia membacanya. =)
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Saya selalu mengatakan pada diri saya, bahwa saya adalah ibu dari 5 anak. Saya mengalami 5 kali kehamilan. 1 yang pertama mengalami keguguran, 2 yang berikut mengalami persalinan prematur di usia 5 dan 6 bulan kehamilan. Dan anak-anak yang kini membersamai kami di rumah adalah anak ke 4, “si Ajo-Salam ” dan anak ke-5 “Si Adik -Bumi”. Keduanya apabila disandingkan “Keselamatan Untuk Bumi” itulah harapan saya yang akan saya wujudkan saat mendidik mereka saat ini :’-)♥♥

img_3354

Anak Pertama saya. Ia kini berusia 4 tahun. Sementara adiknya berusia 19 bulan. Di usia tumbuh cepat dan memukau ini yang sekaligus juga masih belia, saya tak memberi target yang harus. Saya mentarget diri saya selaku pelatih untuk konsisten mengobservasi, menjadi coach/mentor sekaligus fasilitator pembelajaran di masa kanak-kanak mereka. Apa yang ada dalam diri mereka, seluruhnya saya pandang potensi. Kelebihan dan kelemahan adalah bentuk fitrah keseimbangan. Untuk itu tidak ada yang perlu dipaksakan, semua akan berjalan mengalir pada jalur-jalurnya. Keduanya terus konsisten diasah, dengan perbedaan intestitas dan intervensi.

Beginilah ia secara singkat global, dimata Ibunya :

Aspek Jiwa/Nurani (Kecerdasan Spiritual) :

  • Semua manusia awalanya meniru. Hampir semua anak lahir dalam kondisi fitrah nan suci. Begitupula Ajo. Ia meniru-mengikuti peribadatan sya’riat seperti salat dari lingkungannya. Sama halnya dengan kisah putra nabi Adam, yang mencontoh cara burung mengubur burung lain yang mati sesuai pengajaran Allah. Begitulah anak-anak, mereka langsung saja melakukan sesuatu yang tampak dan terdengar oleh indranya. Adiknya juga sama ia jauh lebih antusias saat bayi untuk salat. Bahkan dia sering salat sendiri. hahaha. Potensi dalam mengenal salat ini akan lebih saya sasar pada fasilitasi dan habituasi saja tanpa paksaan atau target. Karena saya pun dulu begitu, karena ke 2 orang tua saya salat, maka anak pun ikut salat hingga dewasa.
  • Kedua, mereka secara sadar dan bawah sadar tertarik. Anak-anak mendengar Ibunya mengaji quran sejak mengandung. Dikarenakan kehamilan yang tak biasa, harus ekstra hati-hati (istilah SPOG, anak mahal), hanya dengan mengkaji quran (membaca, menghayati maknanya ) saya dapat merasa tenang dan mampu menjalani kehamilan saya dengan sikap penerimaan terbaik. Diliputi oleh kecemasan akan kejadian seperti sebelumnya—hanya dengan mengkaji, bermunajat di tiap salat dan tengah malam yang mampu menguatkan saya menghadapi hari demi harinya. Mungkin akibat kebiasaan menyaksikan hal tersebut, yang secara kapan saja bisa saya lakukan—Bahkan kadang keasyikan berjam-jam, mereka jadi tertarik untuk turut dibacakan.  Anak yang berusia 4 tahun belajar huruf hijaiyah dari sesekali kesempatan menonton youtube yang saya berikan. Tanpa sadar anak-anak sangat mudah menghafalnya bukan ? saya memimilih menerapkan asmaul husna berikut pemahamannya terlebih dahulu dalam rangka membentuk karakter. Itulah potensi-potensi yang akan saya nyalakan semestinya sebagai ibu.
  • nurani : kejujuran, ketulusan dan sebagainya yang mereka tunjukan akan saya bina dan rawat agar mereka benar-benar memenuhi harapan keselamatan untuk bumi.

Aspek Lahiriah Fisik 

kecerdasan Linguistik (bahasa) : Saya sering disapa ibu lain ketika berbicara dengan ajo, mereka akan menyampaikan, “anaknya ngomongnya sudah seperti anak sekolah ya bu?” atau seorang pekerja taman di depan rumah menyampaikan kepada neneknya Ajo, “Bun, Buyung bijaksana ya!” hahaha spontan saya tertawa mendengar cerita Ibu saya. Anak 3-4 tahun sepertinya dibilang bijaksana. =D

Bagi saya, bahasa adalah kunci. Kunci awal pemahaman, kunci dalam aktivitas komunikasi, alat ekspresi rasa (emosi), pikiran dan jiwa. Sehingga saya menaruh perhatian khusus dalam menerapkan bahasa kepada anak. Ajo bukanlah anak yang segera banyak berceloteh. Pada umumnya anak lelaki berceloteh di usia 2 tahun keatas. lekat sekali dalam ingatan, Ajo ketika itu sampai usia 2 tahun lebih masih belum banyak menuturkan kosakata. Saya mengamati namun tetap santai karena proses mendidik anak bukanlah proses bertarget dekat—selalu tanamkan masa dewasa aqil baligh lah yang akan dinilai.

Berbeda dnegan ajonya, adik lebih cepat memahami kehadiran lingkungan sekitar, menangkap pesan emosi dan ekspresi wajah dan tindakan dnegan baik. Telah memahami kalimat instruksi ataupun emosi. Beberapa kata sudah keluar dari mulutnya di usia 14-15 bulan. “Ayah, kakak, acaa(menyebut dirinya/nama), jatuh, akit,”. menggeleng dan mengangguk, menunjuk apa yang diinginkan dan sebagainya.

Dan benar saja, stimulasi yang sabar itulah satu-satunya jawaban anyar para ibu. di usia 3 tahun untuk Ajo, kosa katanya meledak, cara bicaranya mulai runut mengalir. Dan saat ini saya menikmati memberinya pilihan-pertanyaan dan kesempatan reasoning. Saya mulai masuk dalam tahap :

  • Bahasakanlah perasaanmu : ini lebih tidak mudah dibanding merangsang dan mengajak berpikir. Perasaan adalah bahasa hati. Kebanyakan lelaki di muka bumi, tercekat di kerongkongan mereka saat harus menuangkan emosi ke dalam kata. Dan itu bagi saya pengekangan. Lelaki juga diciptakan punya hati dan perasaan, mereka harus dapat juga jatah, fasilitas untuk dapat meng-ekspresikan rasa (emosinya) secara verbal.
  • Bahasakanlah pikiranmu  : melalui pertanyaan, memberi pilihan dan mendengarkannya (reasoning) akan membuatnya berpikir, nalarnya bekerja, daya kritis dinyalakan. Dan saya harus siap dan banyak belajar untuk menangkap tiap tanya dan sinyal berpikirnya. =)
  • Bahasakanlah Jiwa mu : Ini tahap yang paling unik sekaigus dinantikan =). Saat dimana seorang anak menemukan soul identity nya. Saat paling hidup dari keseluruhan perbuatan manusia. Bahasakanlah, ekspresikanlah dan terus eksplorasi lebih jauh siapa (jiwa) mu Nak …♥
  • Dan dari keseluruhan bahasa itu, kelak bahasakanlah karya-karya nyata mu =).
IMG_3234

Bentuk Failitasi Potensi: Mengambil manfaat digital, “Buku Cerita Mobil” Yang Ajo tulis di mentori Bunda Dan Ayah

Kemampuan berbahasa menyenggol ragam aspek kecerdasan. Diantaranya audio-visual.  kecerdasan visual dan auditorik. Dalam ruang ini, yang sudah nampak menonjol adalah visuo-spasial bagi Ajo. Ia sangat cepat mengingat jalan, bentuk dan konsep. Permainan lego, mengkonstruksi lego menjadi bangunan, membuat lapangan parkir, card box, dinamisasi menyetir mobil adalah pusat kegemarannya saat ini.

Untuk aspek visual dan seni, dia sangat menyukai aktivitas mewarnai dan kerap meminta untuk digambarkan. Ia belajar hurf-huruf melalui konsep bentuk da mencoba menggambarkannya sesuai maunya. Sisi Auditorik dan imajinasi Ajo distimulasi melalui story telling saat membaca dengan lantunan suara naik turun dan permainan boneka tangan. Keduanya sangat berminat pada aktivitas ini, sehingga sering kali meminta saya untuk membacakan cerita dan bermain peran boneka. Termasuk saat sesi-sesi diskusi di kelas matrikulasi, si adik akan menarik-narik baju bundanya sambil membawa boneka tangan dan buku agar saya membacakan cerita. Untuk itu jujur saja, di jam diskusi sering terjadi interupsi, hahaha…

Permainan peran ini sangat akomodatif untuk banyak hal, termasuk didalamnya saya gunakan untuk menyampaikan kritik berkaca “tidak secara langsung” ke anak. Permainan boneka tangan, wayang sebetulnya mengaktifkan banyak sel reseptor (indrawi) anak dari auditorik, visual, bahasa, motion, soul, character building dan banyaklah perlu satu tulisan khusus untuk mengurai ini. 😀

Ajo senang fotografi dan membuat video, walaupun aktivitas ini masih “saya batasi”, (sabar ya nak sebentar lagi kamu akan banyak bereksplorasi disini, bunda masih harus juga banyak aktivasi otak kanan mu dahulu :)). Sementara adiknya sangat luwes terhadap musik. Apabila mendengar suara musik, adik akan otomatis bergoyang-menari dan bersenandung. (bayangin sambil tertawa). Dan aktivitas musik dan menari ini tidak akan saya sia-siakan, harapan saya ia kelak dapat menekuni dunia tari tradisional yang kaya budaya Indonesia, amiin.

Aktivasi ranah kinestetik dan naturolistik. Saya menggunakan kesempatan keluar rumah dalam menstimulasi 2 apek ini. baik melalui kendaraan bersama ataupun berkendara amsing-masing (bersepeda). Saya menstimulasi ketangkasan mereka disini. ranah ini menjadi fokus perhatian saya kedepan. Karena fisik yang bergerak dan menyatu dnegan alam adalah imunitas sekaligus penyumbang energi kecerdasan tak berbatas kanak-kanak. Menyiram tanaman, memelihara binatang, bermain air, memantau hujan, bersepeda, ikut ke pasar dan bepergian dll.

Kecerdasan intra dan interpersonal. Saya selalu meyakini, pemahaman diri yang baik akan memberi masukan berharga dan menjadi cermin terbaik bagi hubungan interpersonal. Untuk adik lebih dominan dalam respons memahami dirinya, semntara Ajo yang saat ini sudah 4 tahun, ia lebih tampak mampu berkomunikasi dnegan baik pada segala umur.

“Bagi saya usia kanak-kanak adalah tentang observasi panjang dan stimulasi menyeluruh. Tidak ada yang saya patok-patok atau saya bahasakan sebagai “ini di si bakat” ataupun “o itu bukan bakat”! Seluruh potensi harus dibangkitkan, karena keseimbangan dan precisi yang akan sangat membatu pengolahan informasi menjadi sebuah karya, apalagi sebuah maha karya adalah hasil perpaduan otak kanan dan kiri. Penyelarasan kerja otak nan seimbang.”

cropped-img_296510.jpg

Anak-anak dibiarkan berjalan, berlari di alam bebas, sayangnya ini belum terlalu sering.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Di usia 33 ini, insyaallah saya sudah sangat memahami diri saya sendiri. Apa kekurangan yang harus saya akui, apa kelebihan yang dapat saya maksimalkan. Potensi-potensi diri saya terutama divergensi multi bidang, saya amini menjadi sebuah proses menuju karya nyata. saya gunakan seluruh aspek yang saya mengerti untuk memfokusi beberapa bidang pilihan. Dengan menemukan diri saya seperti ini, saya dapat membuat peta perencanaan yang dapat diwujudkan dalam kolom-kolom waktu.

♥Saya merasa terikat pada Al-Qur’an. Rasa penasaran mengetahui maknanya, ketika itu di masa kuliah semester 4, tak terbendung lagi hasrat nurani untuk mengetahui makna tersirat di dalamnya. Disanalah saya mulai memasuki tangga menuju pemahaman—Beragam kajian, aliran-aliran, bahkan termasuk aliran yang di”sesatkan” . Seluruh pengalaman itu membuat saya memiliki sudut pandang lebih luas—Tidak menyempit memandang “pemahaman” terhadap islam. Disaat hari ini manusia seperti terbelah, dan sebagian besar senang menjadi “tampak lebih relijius” dan sebagian lagi tak merasa ada yang salah dengan menjadi ekstirmis, atau sebagin lain sama sekali kesal dengan konservatisme taklid dalam islam. Saya pilih menentukan jalan yang saya dapat pertanggung jawabkan kebenarannya, tidak galau atau bertabrakan dengan fitrah kehidupan.

Saya justru menyadari bahwa al-quran menuntun kepada jalan yang menjawab fitrah akal dan nurani, menerima perbedaan, tidak mengkotak-kotakan manusia berdasar SARAT, mengakui fitrah keberagaman dan sangat mendorong saya menjemput ilmu dan berbuat karya nyata untuk umat manusia dan seluruh alam. Saya anggap ini kekuatan sekaligus bahan bakar untuk hidup bahagia, wajar, fitrah dan luhur.

♥Saya mencintai bahasa, saya semakin mengembangkan diri dalam menulis. Sebagai penulis saya memiliki diferensisasi memadukan otak kanan-kiri. Sehingga menghasilkan tulisan mengalir dalam format-format yang harapannya dapat dimengerti pembaca. Untuk penulisan ini, saya harus lebih banyak mengasah keampuan 2 sisi otak.

♥Saya jatuh cinta pada ilmu otak dan jiwa manusia (brain and mind science; neuroscience) dan selalu berbinar membaca penelitian-penelitian yang menguak apa disebalik tempurung kepala manusia. Saya gunakan anugerah Allah dalam kemampuan ini berupaya meraih kursi pembelajar di bidang ini, semoga berjodoh walau belum yakin pada diri sendiri 🙂

♥Saya menyukai produktivitas karya, maka apa saja menurut saya dapat menjadi sarana bisnis. Bisnis bukanlah sekedar “berdagang”, atau melakukan aktivitas menjual. Lebih dari pada itu dalam bisnis ada proses mengkonsep, planing, strategic marketing, brand positioning, staffing, leadership. Untuk itu saya selalu emndorong suami dan anak-anak saya, apapun aktivitasnya, tetaplah mempelajari dan menjalani bisnis. karena banyak sekali ilmu hidup yang dapat dipelajari dan diasah di dalam bisnis.

♥Sebagai dokter, saya memiliki empati. Lalu terbuka untuk mempelajari dunia pengobatan secara luas. throw back masa-masa awal kelulusan, sebelum resmi berpraktik, saya telah mempelajari Thibbun nabawi, saat itu belum terlalu booming seperti kacang goreng seperti sekarang. Dari sana saya belum merasa puas, dan banyak pertanyaan dalam benak, saya mulai mempelajari Traditional Chinese Medicine. Bidang ini sangatlah luas, dan sangat memakan waktu untuk menekuninya. Satu-satunya alasan saya tidak fokusi 1 bidang ini (saja), adalah waktu. Saya ingin hidup saya meng-eksplor seluruh daya yang saya rasa menjadi bagian dari diri saya. Ilmu pengobatan sangatlah kaya dan dalam aplikasinya perlu dedikasi tinggi terhadap waktu. Disaat saya harus mengisi waktu dengan kewajiban utama sebagai  “family woman”, berpraktik mandiri lah solusi bagi saya. Dan kecintaan saya kepada dunia yang satu ini tetap saya pupuk, salah satunya memperluas pengaruh manfaatnya dengan menulis. Penulis di bidang kedokteran, pengobatan maupun kesehatan. “I’m on my project, no result books yet!” 🙂

♥Aktivitas Sosial. Sejak kuliah saya benar-benar mewujudkan aktivitas sosial saya. Dari relawan, ragam organisasi, tim medis siaga bencana, majerial semua saya jalani dan nikmati dnegan rasa antusias.

Saya memilki pandangan unik sejak di bangku menengah. Pandangan tentang mencontek bagi diri saya adalah “NO”, namun mencontek adalah budaya mayoritas. Dan saya pun berdamai dengan itu. Saya mempersilahkan siapapun mencontek lembar ujian saya, pr-pr saya dengan catatan, lihatlah sendiri. Dengan solusi seperti diatas, saya sama sekali tak perlu mennghkianati diri, namun tetap dapat diandalkan. Walaupun nasihat terbaik saya adalah, jauh lebih baik berupaya sendiri. Namun, di dunia kehidupan justru kita wajib mencontek!

Saya pikir, sebagian besar dari apa yang saya tekuni adalah hasil dari membiarkan diri saya “terbuka” yang membuat saya senang belajar dan menikmati proses belajar. Inilah kekuatan positif terbesar dari diri saya. Layaknya pandangan bangsa Cina “box inside the circle” milikilah batasan di dalam diri, namun menjadi tak bersudutlah keluar, terima secara terbuka interaksi dengan kalangan manpun. Bak Ikigai jepang, interaksi antara minat, bakat, pekerjaan dan pengalaman akan mengantar seseorang kepada alasan mengapa ia diciptakan, itu pulalah yang kini saya jalani. Harapan saya, dengan pemahaman diri ini, menjadikan saya jauh lebih unggul dari sebelumnya. 🙂

 

Salah satu kelemahan saya adalah “tak terorganisir” , maka saya pun jadikan ini sarana perbaikan. Saya gunakan potensi ini mengikuti program berbenah. Menjadikan diri lebih terorganisir. Saya yakin, apapun itu baik atau buruknya diri kita, terimalah itu dan jadikan iru sarana belajar dan berubah lebih baik. Jangan lupa berbahagia menjalani tiap prosesnya 😀

ikigai-and-salutogenesis-compared-by-vcsbvu-4-638.jpg

“Ikigai”, credit from : sbvu.ac.in

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Di lingkungan tempat tinggal saya, saya membuat kantor dan proyek-proyek sosial. Tepat tahun 2017. Saya mengajukan resign sebagai dokter pmerintahan. Disana saya mengalami proses internal, nurani yang kerap membisiki bahwa saya harus meraih dan mengisi visi dan misi hidup sesuai apa yang saya kehendaki dan pahami. Saya memperhatikan lingkungan tinggal saya sangat kondusif, budaya religius dan aman. Banyak anak-anak dan perempuan.

ada proyek sosial diantaranya :

Project pemberdayaan : Berhubungan dengan gizi, ibu, anak. Berhubungan dengan makan pagi keluarga dan bayi. Untuk penggarapan sisi biologis manusia (membangun tubuh)—-›Pembangunan SDM fisikal.

Project Benih : Rumah Literasi Tipar. Anak-anak disini kurang terpapar literasi berbobot postif. Saya menyusun konsep anak cinta aksara, buku, bacaan, literasi kritis, digital dan sebagainya.

  • Risalah Fitrah ketuhanan, menanam instalasi cinta Qur’an sejka dini melalui “Dongeng Qur’an”—membudayakan Qur’an sejak dini melalui budaya Indonesia “wayang”, boneka tangan dan sebagainya. budidaya bibit unggul—-›Pembangunan Jiwa.
IMG_3205.JPG

Stimulasi Potensi : Proses menulis buku, lay-outing sederhana sesuai topik yang disenangi anak

IMG_1347

Concern Terhadap Generasi Penerus Peradaban, Sejak 3 tahun lalu merintis project Complementary Feeding “Seni Membuat MPASI berkualitas dari potensi pangan lokal”

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya Untuk Indonesia Raya

#NHW #3 #DAY #1 #KULIAHMATRIKULASIBATCH5 #MembangunPeradabanDariDalamRumah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: