Mendidik Diri Sesuai Fitrah Keibuan, Mendidik Anak Sesuai Fitrah Manusia, Sehingga Mengantarkan Mereka Ke Gerbang Karya Nyata Alasan Mengapa Mereka Diciptakan

Sapa Dan Salam Pendahuluan

Basmallah,

Salamun Alaikum,

Yah, tepat pukul 22 malam, setelah melepaskan bayik dari penyusuan, dan menemani setia drama sebelum tidurnya yang sempat menarik-narik baju emaknya, dan kegagalan emak menidurkannya secara alamiah pasca menyusui, ditambah segala rupa upaya penyodoran aroma ketek yang tak jua berhasil membuatnya mabuk kepayang hingga jatuh pulas tertidur :D. LOL.

Di 19 bulan kehidupannya memang kelekatannya sudah mulai kepada banyak figur, namun yang paling tak lepas adalah kelekatan pada ibunya yang hukumnya wajib ain untuk menemaninya tidur baik siang maupun malam. Untuk itu alhamdulillah, terimakasih mak Niya dan teman-teman Depok 1 yang akhirnya membawa diskusi kelas matrikulasi Depok 1 berlangsung di sore hari ! yasss! Tak hanya itu 2 pekan berlalu dan berjalan diskusi di kelas pun semakin berbinar-binar… melengkapi suasana “spark joy” saya di kelas satunya lagi yang tak kalah istimewa, my k*nmari journey 🙂

Dan kini mulailah saya bersemangat duduk didepan Max (nama yang saya sematkan pada si mac, kepanjangan dari Mac protocol X) hihihi, saya menamainya begitu, mengingat dia lah si kawan paling anyar dalam mengerjakan project-project saya di 1-2 tahun terakhir, dialah pelaksana utama tugas protocol x saya. 🙂

Apa sih hubungannya cuap-cuap diatas dengan tugas NHW kali ini?? eits jangan salah, hubungannya masih langgeng mesra, eee salah ya.. hehe, hubungannya adalah pendidikan fitrah dan milestone kehidupan. Nah 2 hal ini terwakilkan dari kisah mendidik anak bayik dengan fitrah (NHW #3) dan milestone saya kedepan yang akan banyak bekerja ditemani oleh Max 🙂

Memasuki Kalimat-kalimat Tanya Kehidupan (NHW #4)

Nahh haaaaaaaa…….

Ini dia………

a. Cek NHW #1, masihkah sama jurusan ilmu yang saya pilih di NHW#1 dengan NHW#4 ini ? jawabnya yessss masih sama!

Jurusan kehidupan yang saya pilih di NHW sebelumnya adalah “mempelajari perilaku dan jiwa manusia melalui jurusan neuroscience for developemental study, dimana di jurusan ini kedepan saya akan bergelut dengan penelitian-demi pengujian pola asuh anak, pola didik anak di keluarga maupun di sekolah dan segala aspek berkaitan dengan ini yang menjadi bahan bakar manusia dewasa”. Ini rencana rute formal saya. Dan plan B dari rute ini adalah meneruskan di ekologi manusia, yang juga berhubungan dengan peran keluarga dan pengasuhan anak baik untuk keluarga itu sendiri maupun negara dan peradaban.

Sesusai perencanaan saya ilmu ini adalah yang akan memperkokoh keilmuan di bidang pengasuhan anak sendiri maupun anak manusia pada umumnya. Dedikasi saya dalam hidup terhadap anak amanah Allah yang tumbuh di rahim saya maupun anak-anak lain, harapan utamanya anak negeri ini 🙂

b. Sudahkah saya konsisten mengisi cek list indikator ?

Cek list Indikator yang saya buat adalah berdasarkan visi misi hidup yang saya anut. Dari tema besar, mengkerucut menjadi beberapa bagian detil di indikator tersebut.

Ini adalah cek lis indikator sekaligus NHW#2 saya : indikatorsinicenopy

Dari indikator diatas, tampak bahwa saya telah memasukan hampir sebagian besar tujuan hidup saya (termasuk jurusan kehidupan prioritas) ke dalamnya. Namun indikator ini tidak dapat serta merta berjalan secara langsung semuanya start di waktu pembuatannya.

Contoh : Homeschooling Usia Dini, saya melakukannya sebelum indikator dibuat, dan say amelakukan setiap hari. Kemudian membaca quran dan mengkajinya, saya pun melakukannya namun pencapaiannyabelum mengalami penyesuaian. Sementara info beasiswa juga belum saya follow up kembali setelah 2 minggu berlalu. Artinya tahap saya untuk membunyikan Gong “Ya dimulai!” belum saya bunyikan.

Saya melakukan realisasi indikator diatas melalui tahap sebagai berikut :

Plan —>Propose—>commited—>time table daily/hours—>do joyfully 🙂

Dan saat ini saya berada di fase awal propose sesuai NHW diatas. Lamanya proses saya tidak membuat saya khawatir. Karena saya adalah seorang penganut paham “walaupun lama tapi membangun pondasi dan komitmen seumur hidup”, saya termasuk yang tak mudah tergiur ajakan-ajakan atau kompetisi instan apalagi menyangkut tujuan hidup saya, alhamdulillah, insyaallah. Dan kepada diri sendiri, saya telah memperkirakan berapa lama proses ini saya jalani hingga dapat dirumuskan sebuah 24 hours effective and efficient planner.

c. Renungkan NHW#3 Yang Isinya Menjalani Misi Spesifik hidup, sudahkah saya mengamini ALASAN MENGAPA SAYA DICIPTAKAN melalui sebuah bidang yang telah saya tetapkan ?

Saya diciptakan menjalani kehidupan sebagai anak perempuan, istri, ibu bagi anak-anak. Dan atas kesadaran ini saya telah menetapkan visi misi hidup saya. Dan sebagai sarana pembuktian saya telah menerima penuh keyakinandiri terhadap bidang kehidupan itu adalah :

  • Sebagai seorang anak saya berupaya membersamai ibu saya di hari tuanya. Sebagai seorang anak yang kini tinggal satu-satunya, nurani saya mengetuk-ngetuk diri agar dapat memanfaatkan amanat dan kesempatan ini sebaik-baiknya. Sesuai apa yang sudah ditunjuki Al-quran, anak wajiblah berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya terutama di hari tua mereka dalam pemeliharaan anaknya. (al-Isra:23)
  • Sebagai seorang Istri, mencoba merealisasikan harapan suami, melalui indikator keluarga “rumah beriman” yaitu dapat pula di maknai sebagai rumah bersih, indah dan nyaman. Untuk mewujudkan hal tersebut saya telah bergabung dengan sebuah komunitas dan mengikuti  kelas berbenah. Dan alhamdulillah, telah juga memulai menata rumah dan mengalirkan barang mana yang spark joy dan mana yang tidak.
  • Sebagai seorang Ibu, saya berupaya menghadirkan pendidikan terbaik yang saya pahami, terus melakukan stimulasi sesuai fitrah anak manusia kepada anak-anak saya.
  • Sebagai mahluk Tuhan dan kemanusiaan, Saya konsisten berbagi pengetahuan, memepelajari dan mengkaji firman tuhan namun dengan segala kekurangan yang saya. Sebagai bentuk ibadah saya yang besar, saya berniat mengabdikan hidup saya dalam dunia menggali, menjemput ilmu di bidang otak dan perilaku, bidang pengasuhan dan keluarga secara formal. Dan mengabdikan ilmu tersebut bagi masyarakat Indonesia. Tanggung jawab sebagai dokter pun saya pelihara melalui cara yang sama yaitu terus membaca dan meningkatkan kemampuan dalam dunia menulis, karena saya hendak meng-optimalkan pengetahuan yang saya miliki melalui kontribusi pengetahuan literatur maupun pengamalan profesi.

Dalam menjalani peran-peran itu saya berpikir dan merasa saya dapat menjadi : conceptor, initiator, integrator, manager dan campaigner-influencer.

IMG_0103

“Potensi” Kelebihan dan kelemahan diri yang membantu saya menguatkan peran saya

IMG_0104

Deskripsi potensi dan bakat diri

Hasil pemetaan bakat tersebut diatas ternyata, ternyata hampir sama dengan bagaimana diri saya melihat diri saya selama ini (seperti yang saya sebut diatas sebelum melakukan tes temu bakat ini). Diantaranya:

Conceptor : Dalam menjalankan aktivitas mengkonsep melalui pikirannya, seorang konseptor sebagai aktivitas utamanya, akan men-generate ideas/thoughts/facts/theory membuatnya terintegrasi satu sama lain. Jadi seorang konseptor tak lain melakukan aktivitas beririsan antara satu dengan lainnya seperti creator, integrator, analyst-strategist, syntetizer. Konseptor yang baik dan unggul mampu menciptakan ide baru (inovasi) dari sesuatu yang belum ada, belum ramai lalu meng-inisiasinya sampai ia menjadi sesuatu yang layak guna.

Influencer : Gabungan Educator, communicator, motivator, mediator, evaluator : Dalam menjalankan aktivitas pengamalan ide kepada pihak lainnya (keluarga dan masyarakat publik) dan pemikiran (konsep), maka diperlukan keahlian meng-edukasi, memotivasi, memediasi dan meng-evaluasi agar tiba pada sebuah solusi praktikal. Sejatinya seluruh aktivitas ini dapat membawa ke aktivitas lebih spesifik yaitu issue campaigner, yaitu ambassador terhadap suatu fenomena.

Manager : sebagai manajer, diperlukan irisan berbagai laku peran diantaranya terhadap kemampuan interpersonal skills, analyzer dan leadership berupa : kemampuan berkomunikasi (communicator), kemampuan menyampaikan pesan tanpa menimbulkan konflik ataupun mampu meresolusi konflik (mediator). Seorang manajer pun harus mampu merancang strategi yang unggul (strategist), mensintesisnya(synthetizer) dan membuat konsep itu menimbulkan pengaruh dari organisasi yang dipimpinnya (keluarga/anak dan lingkungan).

Potensi dari peran-peran tersebut hanya dapat saya realisasikan, apabila saya benar-benar sungguh-sungguh menempa diri saya sendiri dan mempersiapkan mental siap berkompetisi. Dilain sisi, secara terbuka dan legowo menganggap kelemahan saya sebagai pintu kolaborasi dengan pihak lain, selain saya dapat memperbaiki kelemahan tersebut sesuai level-levelnya. Misalnya apabila sangat parah, saya mulai membaca pengetahuan dasar tentang itu dan membiasakan diri (habits) dalam waktu singkat namun konsisten melakukan hal-hal yang menjadi titik lemah saya. Boleh jadi, kelemahan saya bukanlah dikarenakan saya tidak bisa, seringkali adalah karena saya tidak suka. Dan saya tidak suka, sering kali diawali saya tidak tahu. :D. Benar apa benar ?

Bidang yang saya tekuni hingga saat ini adalah  : Dunia kesehatan, dunia keorganisasian, dunia literasi, dunia seni dan bisnis.

Bidang spesifik yang saya tekuni mengkerucut dalam sebuah konsep menjadi : berkarya secara profesional di neuroscience (neuroscience for kids, parenting-motherhood-family, man, woman, neurolinguistic, neurodevelopmental, dll). Disini peran-peran dijalankan (creator, educator, motivator dll) dan inilah brand saya atau membentuk konsep brand karya saya disini. Dunia literasi, bisnis, sosial dan seni-budaya dan kegemaran menulis menjadi distributor dan market saya menyampaikan ilmu ini. Dan yang utama al-qur’an (wahyu), al hikmah, sunnatullah-sunnaturassul menjadi pedoman global teratasnya. Dengan konsep seperti ini, maka segala peran dan bidang tidak ada yang saya cueki (tidak syukuri), dan semoga upaya ini diijabah Allah.

Setelah meramu konsep diatas, saya dapat berpikir dan merasakan bahwa inilah konsep yang baik untuk saya jalankan, dan saya menemukan pertalian diantara berbagai bidang tersebut yang awalnya masih sangat kasat mata, sehingga seolah bidang-bidang tersebut tidaklah berkaitan. padahal mana mungkin qadha dan qadar Allah tidak memilki maksud atau sia-sia belaka ? Dan inilah insyaallah misi spesisfik hidup yang akan semakin sungguh-sungguh (jahadu) saya jalankan. Biidznillah.

Sejak NHW#1 Saya sudah mengalami sindrom kebingungan, mana yang paling ingin/ prioritas untuk saya fokusi ? Di NHW#1 Saya pun menyampaikan bahwa diri saya memiliki banyak minat, dan yang menyulitkannya lagi, minat tersebut emmbuat saya berbinar, lidah memelet secara bawah sadar (tanda menikmati proses) dan seolah-olah sampai tak puas dengan waktu 24 jam. Divergensi diri saya yang tertarik di beberapa bidang membuat saya kerap resisten menanggapi kata fokus menurut pemaknaan khalayak. walhasil saya mengenerating makna fokus, yang menurut saya sejatinya adalah : mempelajari sesuatu-mengamalkannya- memberi manfaat melalui pengetahuan ini dan mempersembahkan niat-proses dan karya (propose) kepada Rabb. Jadi itu elemen-elemen pentingnya, adalah konsisten mengamalkan, memberi manfaat dan ditujukan kepada Rabb dalam bentuk manfaat di muka bumi. Artinya boleh jadi kita dapat melakukan multiple bidang dan tetap fokus apabila kita telah mendesain rencana, pengamalan, target, durasi (jam terbang). Dan kembali lagi disini saya pahami, manajemen waktu, konsistensi dan kepatuhan adalah kunci keberhasilan makhluk seperti saya.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Materi Pembelajaran Mandiri (kurikulum Bunda Irnova Cenopy)

Saat menyusun ilmu ini, saya baru memahami bahwa konsep ibu profesional adalah sangat sejalan dengan fitrah keperempuanan, keibuan saya. Dimana peran domestik yang saya lakukan akan mengimbas langsung meningkatkan performa publik saya. Terselesaikannya saya menjalani peran domestik dibalik pagar rumah sendiri adalah bentuk penguasaan jam terbang saya sekaligus untuk menempa saya berkualitas di dunia publik : Susunan Bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif dan bunda saleha sangatlah pas dan sesuai bagi saya—sangat mungkin juga diterapkan oleh Ibu lainnya. Hal ini membuat saya seolah merasa “click” dan dekat dengan pemikiran “ibu konseptor” program ini. Masyaallah, padahal belum bertemu sama sekali dengan ibu Septi Peni Wulandani maupun konseptor ulung lainnya Bapak Dodik Mariyanto. Namun sebagaimana suatu fitrah itu adalah suatu (jalan/jalur) ketetapan Allah (sunnatullah), maka sungguh tidak ada perubahan pada ketetapan Allah itu.

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan KELUAR dengan kesungguhan itu, TIDAK ADA HUKUM TERBALIK.” Dodik Mariyanto.

Bahan materi ajar (Ilmu) yang harus saya pelajari adalah : al-qur’an dan hikmah-penjelasannya, ilmu ibu profesional, neuroscience for kids/neurodevelopmental, pengetahuan konsep ilmu2 parenting, update dunia parenthood, pendidikan karakter, ekologi manusia, dunia pendidikan yang lebih fokus kepada unique human brain, seperti home education, home schooling, un schooling dll. Ilmu kesehatan, kedokteran dan pengobatan alternatif/komplementer keluarga, kanak-kanak dan gizi bayi-anak. Ilmu bahasa, IELTS, dan terkait kendaraan yang akan saya tumpangi untuk belajar nanti.

Hampir semua ilmu diatas telah saya jejali dalam keseharian, namun karena belum memiliki pencatatan terstruktur dan capaian target, saya kembali mengevaluasi diri saya hal tersebut baru di tahap dasar-menengah dan untuk meningkatkan saya ke level menengah-ekspert, saya harus mulai menstruturisasi keilmuan dan pengamalan ini kedalam dokumentasi tertulis. Di lain sisi, menambah jam terbang ataupun melakukan akselerasi percepatan atau mengalami akselerasi dari Tuhan semesta alam itu sendiri, namun semua itu ditentukan seberapa sungguh-sungguh saya menjalankan proses saya ini.

Tahapannya adalah sebagai berikut :

Bunda Sayang :Untuk dapat menjadi ahli neuroscience for kids, for developmental saya hendaknya menjadi ibu yang menjalankan peran pengasuhan dengan menggunakan pengetahuan ini dengan sebaik-baiknya, saya memilih home education sebagai basis representasi neuroscience terhadap anak-anak saya. Home education ini akan melihat perjalanannya nanti, apakah murni HS atau HS sebagai enrichment (pengayaan) di rumah. Sebagai salah satu kendaraan menuju manusia mandiri berilmu dan pengamal akhlaq dan ilmu sehingga bermanfaat. Ilmu ini akan menjadi basis dasar  (pondasi) tahap berikutnya. Di tahap ini saya akan mengisi-memadatkan jam terbang, mengkonsep dan sekaligus menjadi praktisi langsung. Peran Educator sangat maksimal dapat digali disni.

“Al Ummu Madrosatul Ula”

Bunda Cekatan : Tahap ini, saat saya menjalankan peran sebagai ibu, istri dan anak di ranah domestik, saya mulai membina networking, tim dasar paling kuat. Kemudian saya dapat keluar dengan menginspirasi apabila dapat menjalankan proses ini. Dunia menulis, manajemen waktu dan manajemen logistik kerumah tanggan akan menjadi keseharian di saat ini. Ilmu2 manajerial, komunikasi, neuro-linguistic, teknologi ditempa disini. Melakukan dokumentasi proses yang dilakukan di bunda sayang. Membuat outline, portofolio kerja dan Rencana anggaran Kerja, kurikulum Belajar-Mengajar, lembar evaluasi dan analisis SWOT dari apa-apa yang saya lakukan di pengamalan ilmu tahap bunda sayang. Self improvement, self empowering dll.

Bunda Produktif : Produktif menghasilkan karya, diantaranya target dan hasil pembelajaran yang diterapkan di 2 tahap sebelumnya dipaparkan disini. Hendaknya ada hasil yang dapat dieksekusi orang lain/ publik. berkarya dibidang sosial, bisnis dan akademik. Mengantar suami, anak-anak berkarya dan mandiri dengan diri dan hasil karya mereka.

Bunda Saleha : Pengabdian diri sesuai misi spesifik mengapa diri ini diciptakan sesuai AL-quran , al hikmah , sunnatullahwa sunnaturrasul dan tempat bernaung.

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Saya harus memiliki >10.000 jam terbang untuk mencapai titik tujuan peranan saya. Yaitu ahli di bidang neuroscience for kids (neurodevelopmental) dan atau human ecologist (bidang keluarga dan pengasuhan anak. Untuk itu saya menetapkan jalurnya sebagai berikut (over view) :
KM 0 : Tahun 2017 resign/keluar dari “zona nyaman”
KM 0 – KM 1 ( tahap Plan and propose ) : Mempelajari keilmuan dasar/pondasi secara global. Menetapkan jalur Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Saleha. Tahun 2018 (6 bulan pertama).
KM 1 – KM 2 (6 bulan berikut 2018-tahun berikutnya ) : Pengamalan indikator selama 24 jam KM1-2 sesuai jam terbang, membuat dokumentasi tertulisnya, melakukan pembelajaran langsung pada para ahlinya. Mencari buku ataupun karya hasil pandangan mereka, menjalankan hasil penelitian ke bentuk nyata (pengamalan). Menjalin networking tahap awal.
KM 2 – KM 3 (tahun 2019 ) : Sudah menghasilkan karya nyata, tengah menjalani spesifikasi melebihi praktisi, naik level peneliti, konselor, dll dibidang ini. Menjalankan secara paralel dengan dunia bisnis, sosisal,seni, budaya. (perintisan demi perintisan)
KM 3 – KM 4 ( tahun 2019-dst) : Terus berkarya, kian meluas manfaatnya. Project-project dan brand value tengah bekerja.

IMG_0127

Overveiw Milestone jurusan kehidupan

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah saya masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Ya sudah saya masukan. Namun akan saya kuatkan lagi di daily/24 hours time table sehingga ia benar dalam rangka mencapai angka jam terbang. Disesuaikan dengan rencana tiap target waktunya di tahap pengamal yang direncanakan diraih dalam 6000-9000 jam. Dan untuk naik tahap maksimalnya >10.000 jam disesuaikan kemampuan, kondisi diri.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sekarang saya akan membuat sejarah saya sendiri disini. Sebuah sejarah yang berangkat dari penyadaran diri akan fitrah keibuan. Dengan memhami fitrah keibuan itulah maka saya pun dapat memahami fitrah keluarga saya per masing-masing dirinya dengan jauh lebih dalam. Mendidik anak dengan fitrah harus dimulakan dari mendidik diri sendiri, membenahi apakah diri sudah mengenal jati diri sendiri? memperkokoh pondasi sebelum berkarya di dunia nyata. Sehingga diperolehlah anak-anak yang berakhlaqul karimah sesuai fitrah mnausianya dan berilmu, yang siap secara mandiri mengaplikasikan keilmuannya bagi semesta.♥
Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, dan langkah besar itu telah saya ambil sebelumnya maka apabila saya ingin berhasil saya kokohkan kaki saya (pondasi diri saya), urusan “amanah” dalam rumah saya sudah harus selesai dan tertata, sehingga hal itu merefleksikan diri saya apa adanya, berintegritas dihadapan Tuhan dan diri sendiri. Agar saya dapat berlari kencang di tahap-tahap berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: