My First Foot Prints In Konmari Journey

Shokyuu Intensive Class Hanashimashu

22 Februari 2018

Oleh : Irnova

OHAYOU!

Ohayou sensei, Mina San 🤗, Assalamu’alaikum wwb.

Hanashi-ku akan bercerita tentang aku dan takdir #konmari ku 🤗

A First Single Step

Aku ga nyangkaaa perubahan hidup begitu cepat!! 🤗

Di saat aku memutuskan keluar dr zona nyaman di tahun lalu dengan galau campur aduk yg syukurnya berujung juga pada tekad bulat akhirnya.

Di masa2 aku mengisi zona juang ku, aku membaca review mbak Dee tentang buku Jeng Kondo (sebutan sok akrab, maapkeun) “the life-changing magic of tidiyng up” sambil mengekrinyit dan dalam 2 minggu kemudian seorang emak dari Bekasi yang  jugabaru ku kenal di medsos ngoceh tentang Konmari, awww langsung ku-kepoin dan 2 hari pendaftaran konmari Indoensia udah mau tutup aku submit yess!!

26869071_2023307124558178_8979727282411143168_n

Si Irnova cenopy samsek bukan seorang tidying maker, apalagik perfeksionis. Irnova cenopy adalah mahluk random, yang di masa Es-em-peh nya pulang ngaji diintilin temen, dan temen itu terbelalak liat kamar doi, dan bilang “gilaaaakkk lo tidur dimana?”

Buku ada dikasur, di lantai dimana2 🤦‍🙈😁. Itu bukan gag mau beberes sebetulnya, tapi yang dibilang jeng K adalah benar, itu aksi beberes nan sirna karena habis amunisinya 😤. Emak ku is “a very easy-going keeper” yang dalam naungan tanda kutip ber-antagonis-kan “declutterer”. Sodara-sodarah sekalian, bayangkan saja, segala sisa botol makanan, obat jg disimpen dan tiba2 dipake jd tempat sesuatuh atau masuk dalam waiting list “akan dipakai suatu hari nanti” (nyengir :D). She’d instantly became a 24 hrs available working mom yg jg mengurusi domestik (emak ku atu-atunya apoteker sejagad Kabupaten bahkan mgkn sepropinsi ketika itu). Ya bs dibayangkan, satu-satunya tujuan apabila tengah malem keluarga pasien butuh obat, sehingga mana adalah pikiran dan waktu beberes di benaknya. Dan lagi kalau diperhatikan labih dalam, era kelahiran 50-an adalah peranjakan peradaban Indonesia dari masa terjajah untuk memiliki materi menuju merdeka bekerja dan memimiliki materi. Nampaknya inilah masalah yang dihadapi hampir semua orang tua di era silam (lahir di tahun 50-60-an). Jadi sudah tak pelak lagi generasi 80-90-an yang menerima “warisan” barang maupun “perilaku khas terhadap materi” dari pola asuh bawah sadar masa kecilnya. Jadi saran Marie Kondo yg juga saya amini, jangan bebenah diketahui emak kita atau proses decluttering akan Gatot. Te toooot! 😁

Sisa2 (tepatnya warisan dominan) itu kini jadi amanah ku! 2013 adalah saat kepulangan ku kembali ke rumah masa kecil (pernah 16-17 tahun tinggal di dalamnya), kali ini dengan juga membawa keluarga. Dan syukurnya suami memahami amanat melekat di diriku. Ayah, kakak, dan adik  yang sebelumnya membersamai mama telah berpulang ke rahmatullah. Terakhir adik di tahun 2013. Dengan beban emosional kehilangan dan ketetapan karena amanat terhadap orang tua untuk kembali lagi ke Depok, tinggal di rumah yang hampir sama bentuknya selama 20 tahun lebih. Pilihan besar yang tak mudah namun berkah. Dimana disinilah, aku kembali dikaruniai kehamilan setelah 3 sebelumnya terhenti karena keguguran & lahir sebelum waktunya. Di saat kemalangan dan segala tantangan yang dihadapi ketika itu. Suami yang saat menunggu persalinan, sementara kami harus memindahkan pula corong nafkah, akhirnya memutuskan ikut tes instansi pemerintahan—2 minggu sebelum penutupan baru siapkan berkas! Yang mana sebagian harus diurus ke Yogya dulu 🙈. Tapi karena keputusan berkah, alhamdulillah diloloskan Tuhan sesuai passion-keahliannya.

Jadi kini aku menerima amanat, tepatnya mewarisi amanat rumah orang tua, mengurusinya berikut ibuku. Syukurnya rumah pertama yang kami beli dari jerih 2 tahun menikah di Kalimantan adalah rumah kost, jd tak masalah ditinggalkan ia tetap produktif.

Gaduh Oleh PR Besar Hingga Perubahan Hidup

Namun aku kini satu pr besar-ku, “Aku yang bengong !” 🤭🤕. Hampir semua barang adalah milik ibuku yang a very easy-going keeper masih ditambahi barang selama pernikahan dari Kaimantan, ditambahi lagi lungsuran dari 1 keluarga adik mama. (Ibu dan 5 anak) semua baju mereka memenuhi lemari-lemari, tak lama kamar almh. adik-ku juga terpaksa ditumpuki barang. Dan rumah ini sudah menjadi rumah khas corak debut 90-an dengan jejalan barang 90-an—2018😰

Di saat jam terbangku mulai menawarkan banyak kesempatan berkarya produktif sembari  mendidik anak-anak amanah Tuhan YME. Aku diamanati pula “Urusan domestik warisan berpuluh tahun”. Memilih tak dibantu ART, membenahi rumah dengan kondisi seperti ini, home education 2 bocah balita, memilih berkarya kreatif-produktif sebagai manusia. Ku putuskan resign di dunia pns yg 2 tahun lamanya telah berjuang agar dapat mutasi ke Depok. Habis mutasi ee.. resign geplak! Tepok Jidat.

Disaat sudah memiliki visi berkarya produktif dari dalam rumah dan sudah merintisnya. Menyiapkan tempat-tempatnya, jenjang level kariernya dan hamdallah sebagian sudah berjalan, ternyata langkah kaki belum plong! Masih sangat dibebani oleh urusan domestik beberes yang tiada henti. Sangat memakan waktu dan sangat tidak efisien yang semakin memperparah kondisi. Aku sangat butuh mengubah keadaan ini, dan syukurnya aku sadar ada  hikmah yang kupelajari dari keadaan ini. “Bereskan urusan domestik-mu (dulu) Nov, dan kamu dapat berkarya sesuai visi-mu secara publik dengan tenang”.

Sudahlah dapat ditebak, ketertarikan pertama-ku pada Konmari method adalah jargon “Berbenah sekali seumur hidup” aku akan sangat dapat menyelamatkan “waktu” dari urusan domestik satu ini yang tak berkesudahan sehingga waktu ini dapat digunakan untuk ber-produktif ria.

Dengan tidak menyalahkan siapapun (jujur sempat nyalahin diri sendiri dan sdh menerima hakikat ku si random berantakan yg ga akan mgkn bs rapih) 🙈. Aku bersungguh-sungguh ingin memahami-meng-internalized proses ini. Aku termasuk yang ga gampang “ikut-ikutan”. Termasuk pribadi selektif memilah apa yang aku butuh saja untuk aku jajali. Di awal membaca buku MK, aku banyak left group yg sebelumnya banyak meng-invite, tentu sama dengan MK gratittude dulu, permisi dulu, appreciate dan sukak sama MK part ini! Manajemen gadget dan kategorisasi gadget sudah mulai kuterapkan. Akibat bencana “hang” yang juga makin menguatkan proses membenahi kediaman membenahi diri ini, bahwa hp saja butuh dibenahi, membuang data yang ga spark joy dan memberatkan memori lalu mengkategorisasikan-nya. Aku demen skrinsyut bacaan, dan sejak OS terapdet (akibat hang restore all) skrinsyut kini memberi pilihan mau di keep-dibuang langsung setelah di share. (ee kemane aje, makin hari ponsel memang maik pinterrr, penggunanya ?? 😁😂)

Membumikan Konsep Berbenah Ala Konmari di Keluarga

Berjodoh dengan lelaki yg diasuh dengan pola rapihan, terorganisir dan alhamdulillah mau berbagi tugas domestik, aku pun tersadar banyak ungkapannya “ini buang aja, bund” yang kerap ia lontarkan malah baru terasa tak sepele adanya sejak mengenal Konmari. 🙈

Di task 1📝 aku sdh jabarkan motivasiku dari diri, suami & yang utama kepentingan-ku atas waktu, bahwa aku sangat tergiur jargon berbenah 1x semur hidup. Dan karena aku tipikal philosoper yang selalu memulakan sesuatu bersdasar pondasi, aku butuh memahami konsep ini menyeluruh. “All or none” paham dulu baru aku bisa bertindak efektif-efisien.

Dan berikut ini poin-poin Konmari journey-ku :

  • Membaca bukunya perlahan. Tidak seperti kebanyakan orang yang habis membaca buku ini dalam satu waktu sekaligus karena memang tipis. Sedari awal aku sudah memilih jalan membaca dengan perlahan, mencatat pemahaman lalu mengkonsepnya dahulu. Alasannya sederhana, membacanya satu demi satu kata saja sudah berisi proses mengubrak-abrik mind-set yang selama ini ter-setel baik sadar/tidak. Dan mind set ini sudah pasti mengimbas ke kehidupan. Perubahan terlalu dramatis dari suatu perubahan yang sudah dramatis nampaknya terlalu berapi di awal. Setidaknya bagiku he he.

 

  • Membuat Indikator. Setelah terbentuk konsep, visualisasi akhir, pemahaman utuh akan metode ini, baru dapat membuat indikator rinci. Karena hal ini dibarengi juga dengan tahapan di Shukyu Class, maka peer group ini membantu sekali dalam beberapa sisi :

 

    • Materi mengkonfirmasi hasil pemahaman, sudah betul atau salah ?
    • Materi membuat tahapan install pemahaman dengan tehap-tahap lebih teratur.
    • Peer membantu memberikan ragam sudut pandang, ide yang dapat dimodifikasi untuk digunakan dalam berkonmari
    • Peer menguatkan semangat dan mempertahankan hal tersebut dengan lebih baik dibanding menjalani ini sendirian.
    • Ada wadah untuk bertanya.

Indikator yang dihasilkan akan membuat proses ini terukur dan berjalan di rel nya, insyaallah lebih cepat dari tengat waktu apabila tak disusun dalam indikator dan time table.

 

  • Start from simple and most-frequently-urgent

 

Di sesi awal kelas belum ada materi teknikal atau belum masuk gong untuk berpraktik. Namun sebagai “trial” sekaligus karena dibutuhkan ada 2 kebutuhan yang harus disegerakan untuk dibenahi. Yaitu Home office desk saat ini dan Dapur. Karena meja kerja sangat krusial untuk mengerjakan project-project dan tugas-tugas. Sementara dapur harus membangkitkan aura “Spark Joy” ketika memasak makanan sebagai kebutuhan rutin dan penting keluarga.

20180222_081555.jpg

Sebelum Konmari & pasukan khusus

 

P_20180215_104801.jpg

pasca konmari home office desk ala-ala

 

Pada saat mempraktekan berbenah di meja kerja, tersigkirlah barang-barang yang seperti mainan anak, gunting kuku, obeng, jam tangan paksu numpang, disini emak kudu tega ekspansi (emak imperialis-kolonial hahaha)

Buku-buku yang tidak terlalu dipakai sebagai referensi ada di meja kerja, segala berkas, struk-struk, flyer, lembar promo  juga sudah terenyahkan. Dan kini hanya menyisakan ATK terpilih, buku terpilih dan gadget terpilih, space meletakan air putih dan berkas tersortir.

Dari ke-spark joy-an ini memperoleh “feel” sehingga ini yang akan turut memicu api semangat festival berbenah selanutnya satu rumah.

Menempatkan daily troley dekat dengan kursi kerja.

Aku menggunakan daily troley dari i*ea : Untuk menunjang aktivitas domestik/ non domestik (self improvement misalnya). Di 3 tingkatnya berisi kebutuhan harian dan tugas domestik. Misal kitab, buku yg perlu dipelajari di bawah, agenda/planner diatas, pakaian suami dan anak2, yg sdh disiapkan malamnya. Peralatan tempur suami dll. Yg sifatnya daily dan mobile. Balik lagi sasarannya waktu.

råskog-trolley-black__0439240_pe591989_s5.jpg

Ras*og i*ea troley

Dan itulah tahapan yang sudah atau sedang berjalan dalam Proses Konmari Rumah-ku, Bagaimana 2 balita selama emaknya berkonmari ria? Oh tentu saja juga “berbenah”, bantuan mereka nampaknya berguna di tahap “decluttering”, ngacak-ngacakin barang sehingga kelihatan berserakan di lantai dan tiba-tiba akibat hobi mereka cari printilan, jadi ketahuan sampai detil mana aja barang printilan yang dimiliki di meja kerja dan dapur ha ha ha 😀

 

P_20180216_133820

decluttering dapur masih “on progress”

Tak lupa proses ini juga bagian dari Home education yang akan berguna bagi mereka kedepannya, karena kalau berbenah sudah usai, belum tentu akan ada lagi festival semacam ini di rumah. Dan itu artinya alhamdulillah emak bapak-nya berhasil mengubah gaya hidup dan mind set di rumahnya! Yeiyy!

 

Mohon maaf ini hanashi yang panjang, dan semoga ada sedikit manfaat yang bisa diperoleh, setidaknya menguatkan proses kita bersama dalam menata rumah tercinta, hingga menata negeri tercinta 🏩🏩

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: