Bertemu Dengan Ibunya Para Ibu Profesional

Berbagi dan Melayani

Yaps! itulah tema malam lalu yang dibawakan oleh bu Septi. Sebuah kondisi dimana seseorang merasa bahagia dengan dirinya, aktivitasnya dan siap untuk mengampu amanah untuk berbagi dan melayani. Catat, meniatkan untuk B-E-R-B-A-G-I & M-E-L-A-Y-A-N-I. 🙂

Bicara berbagi dan melayani, rasanya timpang apabila saya tidak memulainya dari insight yang saya peroleh ketika pertama kali masuk ke dalam komunitas ini, ketika itu di tahap pra matrikulasi.

Screen Shot 2018-03-09 at 2.29.34 PM

Cuplikan tulisan yang saya buat saat pra matrikulasi

Sejak saat pertama disampaikan value komunitas, saya sudah “sreg” dengan tema-tema value ibu profesional. Ketika itu CoC yang di-share tidaklah banyak. Saya resapi satu persatu dan mencoba memahami pemikiran konseptornya. Memang di negeri kita, keaktifan untuk berbagi seringkali dipandang bak 2 mata pedang. Masih banyak yang berpikiran selalu ada motif terselubung disebaliknya. Bukannya salah pandangan tersebut, namun sebetulnya masih ada yang benar-benar melakukannya karena mereka mengamini nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Dan akibat hal ini pula, banyak orang yang urung berbagi, yang kerap kita sebut “malu-malu berbagi” karena khawatir tidak dapat memberi yang bermakna, khawatir dicuekin, khawatir mendapat respons terbalik dan sebaginya. 🙂

Bagi saya sendiri bagaimana? Dahulu saya sempat khawatir dengan hasrat belajar dan berbagi saya. Tapi semakin bertambah usia, saya mulai menerima bahwa saya senang melakukannya karena hal-hal tersebut rupanya masuk dalam strength tipology saya. Dan sebetulnya saya selalu mendapatkan banyak dari berbagi dan melayani. Benar yang disampaikan ibu, bahwa fokus saja pada nilai-nilai kebajikan yang dapat dilakukan, urusan ikhtiar itu wajib, hasil serahkan, tempatkan dan kembalikan kepada Tuhan.

Pahala bukanlah tujuan perbuatan baik, tapi manfaat. Nah manfaat ini sering diartikan multi makna. Tapi terkhusus untuk saya, manfaat adalah saat kita meringankan atau membantu tahap-tahap penyelesaian sebuah problem orang lain, keluarga, lingkungan bahkan problem kita sendiri. Disitu Tuhan tengah meringankan beban kita sendiri. Ya, saya sudah mencoba, dimana ketika saya masih disibuki persoalan dan problem pribadi, dan belum selesai di level hati, masih ada sisa-sisa tak termaafkan, masalah saya kerap melelahkan dan menguras air mata. Tapi ketika diberi kesabaran menjalaninnya, dan berakhir pada kesyukuran, maka saya pun mulai memahami, Tuhan menghendaki saya belajar dari proses itu, merasakan posisi itu, sehingga ketika saya berada di titik yang jauh lebih baik, saya tidak melupakan hari penempaan sehingga mampu lebih luas bersikap toleran pada banyak pihak, menjauhi penghakiman dan setiap ketidak- padanan yang terjadi biasanya memiliki hak jawab yang tidak kita ketahui. Perlahan demi perlahan, permasalahan saya yang terasa besar bukan mengecil, tapi seolah terasa menjadi ringan. Ah ga ada apa-apanya, kalau saya bandingkan dengan orang lain.

Sekali lagi benarlah Closing statement Ibu Septi semalam.

Dalam hidup tidak ada rumus “take and give”, yang ada adalah “give and given”. Berbagilah, maka kita akan diberi oleh Dia yang maha kuasa.

Ya, ALLAH. Ungkapan ini benarlah adanya. hanya ada 2 frase kebahagiaan, memberi manfaat dan Dianugerahi balasan Allah. Bukan yang diberi atau dikasihi yang membalas, melainkan Allah yang melakukannya. Sehingga kita pilih mana? balasan Allah atau dibalas manusia? Kalau balasan Allah itu sudah menarik dan dapat kita rasakan benar, maka ujungnya kita malah sibuk membenahi bilik hati  diri sendiri dengan harapan bersihlah ia, dan mulai dapat jernih melihat kehidupan, tak lagi banyak digerayangi niat memenuhi keinginan-keinginan permukaan yang sering merecoki perbuatan.

Semisal hal yang mudah. Media sosial sering kali media kita berbagi. Namun akhir-akhir ini akan banyak beredar motif-motif berbagi. Ada yang diduga niatnya pamer, ada yang niatnya selubung pamer, ada yang niatnya populer, dipuji dan sebagainya. Tapi selalu ada yang benar-benar berniat untuk memberi manfaat. Lalu dimana bedanya ? Sayangnya kita tidak pernah akan tahu. Sebab ini perkara niat. Who knows?

Tapi semakin kita sering melakukan berbagi dengan niat baik, maka kita pun akan dipertemukan dengan orang-orang yang berada di satu frekuensi. Mereka yang konsisten baik terlihat maupun tidak, mereka yang konsisten mengulang-ulang ide dan gagasan positif yang sama yang sebetulnya itu adalah “the calling” bagi yang bersangkutan. Konsisten saat dikritik, mereka apa adanya menerima kritikan tak takut reputasinya pecah berhamburan. Setidaknya, ini ciri-ciri yang saya pakai ketika melihat orang mana yang tulus berbagi. hahaha sotoy ayam kampung. 😀

Harap Cemasnya Bertemu Ibu

Kulgram semalam tak pelak lagi merupakan kubangan asa yang terjawab bagi sebagian besar pembelajar matrikulasi batch 5 seantero pertiwi. Alhamdulillah, ada kesempatan bertemu, walaupun masih secara virtual dengan Ibu dari program yang tengah dijalani selama ini.

Saya lupa persisnya, sekitar 2500-3500 orang pendaftar matrikulasi batch ini, dan saya apresiasi kesempatan khusus diberikan kepada para perangkat kelas. Entah ide dari siapakah? tapi inisiatif seperti ini adalah program kaderisasi yang baik menurut hemat saya. Saya sendiri memang baru mencelupkan diri di komunitas ini, karena yang saya tahu beberapa ibu kenalan disini ada yang sudah lama join kulwap, kopdar atau kelas-kelas umum bahkan ada yang sudah remedial satu atau beberapa kali.

Suatu siang Mak Niya share info begini :

IMG_E0581

Dan kami tim perangkat kelas Depok 1 pun langsung nyambung, hoo ini yang kemarin gagal pas di GC, karena kapasitas GC hanya 250 orang, sementara yang join 2x lipatnya.

Kurang dari jam 20.00 malam beberapa dari kami sudah berdatangan stay tune di wag dan di telegram. Saya sendiri sudah pasang 2 jalur, laptop dan hp.

Begini potret obrolan tim perangkat kelas, ibarat “anak-anak” yang pengen bercengkrama sama Ibunya tetapi mesti menahan-nahan hasrat.. (hasrat tahan typing biar ga ganggu kondusivitas belajar).

IMG_0583

IMG_E0584 IMG_0585.jpg

 

Dari curcolan hingga ke-alay-an terpampang nyata hahaha. Contohnya ke-alay-an saya mau potoin  pertanyaan berikut jawaban dari Ibu saat masuk di 5 pertanyaan pertama, tapi udah diduluin sama salah satu korming cekatan. wkwkkwk.

Malam itu berlangsung cepat namun bermakna. Memang mungkin Allah menjawab doa kami, terlebih doa saya untuk dapat berbincang langsung dengan founder komunitas ini.

Sejujurnya ada satu pertanyaan yang pengen banget saya tanyakan, yaitu tentang kisah titik 0 ibu. Kisah tentang setelah 8 tahun menikah dan sudah punya anak, lalu memutuskan untuk keluar dari zona nyaman yang masih ke-akuan menuju zona keibuan profesional yang berujung pada titik melayani dan berbagi hingga sebesar ini. Tapi pertanyaan itu urung disampaikan, karena pertanyaan harus berhubungan dengan materi kulgram yang disampaikan. Dengan cepat saya tulis pertanyaan baru seusai materi yang dikeluarkan, dan alhamdulillah dapat kesempatan dijawab Ibu.

Dan akhirnya saya pun mengganti pertanyaan dan menanyakan tentang makna selesai dengan diri sendiri menurut Ibu. Mengingat, orang yang sudah selesai dengan diri sendiri lah yang ringan untuk berbagi dan melayani, sepengalaman saya.

IMG_0586.JPG

Jawaban Ibu Septi tentang “Selesai Dengan Diri Sendiri”

Pertanyaan dimasukin host saja sudah seneng eh dapet jawaban yang komprehensif banget pula dari bu septi. Aheeeyyy !

Bahwa inti orang yang selesai dengan diri sendiri menurut beliau adalah

Yang mampu bersyukur tanpa batas, punya mimpi besar kemudian tidak menggenggamnya, melainkan menyerahkan mimpi sepenuhnya ke Allah, dan menerima apapun yang Allah berikan pada diri kita.

Dan seperti biasa 10 pertanyaan dan dijawab langsung oleh beliau terasa begitu singkat, namun sangat bermakna. Sehingga saya pun memposting pengalaman tersebut dalam akun media sosial :

img_0591.jpg

postingan tentang give and given kulgram semalam 🙂

Dan tak dinyana beberapa menit berselang, Bu Septi malah nge-like seklaigus merepost postingan ini di Ig beliau hahahha.. (double jackpot)! Perasaan ga ada mimpi apa-apa, ya cuman menjalani semua sebagaimana mesti dan biasanya.

IMG_0592

Bu Septi dengan baiknya me-repost 🙂

Yah begitulah teman-teman kisah Kulgram dan materi kulgram semalam dalam insight yang telah saya serap. Betapa saya dikejutkan beruntun sejak semalam. Agak norak yes, tapi memang saya sebetulnya orang yang ga punya tokoh idola yang gimana-gimana. Tapi semalam sampai tadi pagi kok ngalay macam fans ketemu idola hahaha. Tapi memang wajar beliau diidolakan oleh banyak ibu. Karena jasanya banyak mengantar para ibu menemukan dirinya. Dan jujur matrikulasi yang sudah saya jalani benar sangat membantu proses dalam kehidupan saya selama ini.

Terimakasih mak Nia yang telah memberi ruang belajar dan memfasilitasinya dengan baik. Dan terimaksih teman-teman yang membersamai saya belajar  di Depok 1, terimaksih para perangkat kelas yang selalu membangun budaya berbagi dan melayani yang sudah menjadi nilai-nilai keseharian di dalam keseharian kita di matrikulasi. 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: