Rahasia Membuat Tulisan Ramah Otak Pembaca (Edisi Menulis Kreatif Bagi Pemula, Intermediate Hingga Ekspert)

Ada yang pernah mikirin ga? Tentunya dari kalangan blogger, content cretaor, penulis amatir maupun teman-teman yang sudah berpengalaman, apa sih senjata teman-teman saat menulis?

Ada dong yang jawabnya pena atau pulpen dan kertas, hahaha ketahuan, angkatan Balai Pustaka nih biasanya. Lalu laptop, smartphone, personal computer dan sebagainya. Namun sedikit suara akan menjawab : Otak.

Otak adalah senjata kita. Dan Ide adalah amunisinya. Begitulah sejatinya maksaurus (saya si lamban nan tergopoh) sadari setelah mengulik penelitian demi penelitian tentang otak manusia, saat menulis tentunya. Dan kali ini si cenopy (saya lagi—panggilan sejak sekul ;p) akan m’bahasi gimana sih, ngapain aja sih para penulis di dalam otaknya selagi menulis. Ini sebetulnya bertaut dengan kegiatan diskusi whatsaap Rabu, 25 Mei 2018 lalu. Dimana saya mengangkat materi inside reader’s brain that counts for the writer di pergumulan para ibuk-ibuk profesional. Isinya ya teman-teman ibu profesional yang terlibat dalam salah satu writing challenge lah yang menjadi awak-awak peramai didalamnya, belajar bareng lagi tentang dunia kepenulisan.

Didalamnya rameeee, ada yang mengaku amatir, ada yang dikatakan sudah menulis dan diterbitkan bukunya, ada yang sudah bareng-bareng terdaftar namanya di buku antologi komunitas. Nah dari berbagai kumpulan dan aneka pengalaman yang berbeda-beda ini, tentunya akan menghasilkan ragam sudut pandang tentang menulis. Saya sebetulnya udah ngendus ini sejak awal, jadi sudah menyiapkan materi pengantar yang diambil poin-poin yang bisa dieksekusi penulis (dari amatir sampai expert) pada umumnya. Dari 30-40 slide mak press materinya sampailah keperes jadi 7-8 slide inti. Ihiyy canggih yaa meres-meres…hahaha.

Lalu apa dong pentingnya tau beginian? Weitsss, penting loh konfirmasi sistem di kepala kita ini kerjanya gimana. Pun akan ada sebagian besar pihak yang akan membatin “ahh ini gue udah praktekin” Ya tentu akan berbeda cara kerjanya, penguatan itu adakalanya amat penting, uatamnya jagain konsistensi kita & bikin kita fokus.

Yuk ahh cakep kepoin 🙂

Mengenal Bagian Otak Aktif Saat Membaca

Brain Facts

Faktanya, otak kita mencintai narasi. Bahkan seorang pembaca data seperti para peneliti, juga lebih terpengaruh oleh narasi.

Nah coba saja lihat, begini ini pemandangan otak saat membaca bulleted presentation vs story telling :

Screen Shot 2018-05-25 at 7.09.06 PM.png

Efek cerita terhadap otak manusia

Screen Shot 2018-05-25 at 7.09.23 PM.png

Cara Otak Memproses Kata

Enah tampak betul kan perbedaan diatas ? Bahwa cerita, membangkitkan lebih banyak area aktif di otak? Bahkan apabila seseorang membaca kalimat, ia terjatuh merintis kesakitan dan mencoba dalam lirih, pedih meluruskan kakinya yang terkilir, ” ouuchhhh sakiiiiiit bangeeet Tuhaan!” Dan kita pun terhanyut sambil seolah merasakan penderitaan si tokoh. Seolah kaki kita sendiri yang terjatuh dan terkilir, bahkan bisa saja terjadi, seseornag yang terlapau terhanyut, turut terangkat kakinya saat membaca kalimat aksi seperti diatas.

Jadi apa pesannya, kalau seperti itu perbedaannya? Maka, garaplah tulisan-tulisan yang menyentuh area-area itu secara bermakna. Semisal reseptor gustatorik, kita jangan sekedar menulis “sirup gula itu terlampau nikmat“, coba tuliskan yang lebih membangkitkan dahaga dan dapat diikuti ritme visualisasinya, manis sirup gula itu menyesap ke seluruh elemen lidah, membangkitkan kelenjar liur untuk aktif mencairkan teksturnya yang kental seolah siap menggoda tiap rambut-rambut pengecapan sampai batas paling maksimal. Hahaha agak lebay kalau yang ini yaa? sengaja agar makin tampak perbedaannya.

Ini ga cuma bisa dipakai di tulisan fiksi romance, bahkan iklan kuliner pun sebaiknya betul-betul mempelajari kalimat gustatorik ini cakeep. Triiings ^,*

Profesional Creative Writer Dengan Amateur Saat Memulai dan meng-eksekusi Tulisan, Dimana Bedanya ?

di Jerman, Dr Lotze dan kawan-kawan melakukan serangkaian penelitian terhadap aktivitas otak para penulis pemula ini. Ia menggunakan maghnetic Resonance Imaging (MRI) untuk melakukan scanning aktivitas otak. Saat pemindaian, masalahnya laptop akan mengganggu medan magnet mesin ini, akhirnya, Lotze dkk meletakan kertas yang dijepit di papan, dan memberikan pulpen agar yang diteliliti menuliskan instruksi yang diperintahkan. Saat para peneliti meminta Beberapa orang pemula ini (tanpa latar belakang kepenulisan) untuk menulis, area hipocampus di otak mereka mulai menunjukan aktivitas. Hipocampus adalah area yang bertanggung jawab menyimpan ragam informasi utamanya masa lalu. Namun saat sesi brainstorming dimulai, mereka pun mulai membayangkan (memvisualisasikan) gambar seolah sedang menonton suatu adegan.

Berbeda dengan para profesional, yang jauh sebelum dipindai telah mengaktifkan otak ide mereka. Dan saat sesi menulis terus berlangsung, tampak area nucleus caudatus mereka bekerja. Sebuah area yang diaktivasi oleh kegiatan berulang. Yang juga sama aktifnya pada para atlet, seniman bertalenta/profesional. Sementara pada orang awam, saat menulis, area caudatus ini justru adem ayem.

Screen Shot 2018-05-25 at 7.09.41 PM.png

Perbedaan aktivitas otak penulis kreatif berpengalaman dengan amatir

Dan apa dong simpulan sementara yang bisa kita ambil ? Practice makes perfect, wasn’t it? Ahahaha common sense banget yaa.. Kita paham hal tersebut bahwa penulis berjam terbang tinggi sudah punya mekanisme auto-pilot untuk memulakan tulisan maupun berkreativitas di dalamnya. Hal yang sepatutnya kita selami—bahwa kreativitas sejatinya merupakan kemampuan hasil benturan dengan ragam hambatan yanng sudah dilalui si pakar. Bahwa ia dahulu memulakan prosesnya dari seorang kencur yang terus mencoba, bertemu obstacle, cari solusi lalu terus bertemu obstacle dan tak menyerah bersolusi, cari jalan, sehingga wajarlah kreatif yang berakar dari “create” adalah mencipta sebuah jalur/jalan yang tak bisa dilakukan dengan cara biasa. Tepuk tangan riuh untuk maestro!

Bagi mak sendiri, fakta begini, bikin beberapa insight tersendiri selain diatas :

  1. Kreatif itu distimulasi, ditingkatkan tantangannya dan inilah makna belajar.
  2. Anak-anak emak layak dapat stimulasi terus menerus dari emak (tentu juga ga over-stimulation ya), dapat hambatan, encourage dan terus melakukan hingga tumbuh jiwa kreatifnya.

Enahh, setelah memperoleh aspek fundamental menulis kreatif sekaligus bukti saintifiknya diatas, apa yang bisa mak saripatikan untu diuji coba nih sodara-sodara?

Mak rangkum dari berbagai sumber baik dari yang berpengalaman maupun hasil pembuktian saintifik yess cakep :

Screen Shot 2018-05-26 at 7.04.24 PM.png

Langsung Eksekusi Membuat Tulisan narasi menarik

Screen Shot 2018-05-25 at 7.10.13 PM.png

langsung eksekusi membuat tulisan menarik (2)

 Aspek Fundamental, Mengapa Menulis begitu Penting ?

Menulis selain memiliki manfaat bagi sang penulis, ia juga bermanfaat bagi pembacanya. Diantaranya :

Screen Shot 2018-05-26 at 7.06.26 PM

Manfaat Menulis Kreatif

Self Healing ya teman-teman, expressivewritings sudah pasti dapat menimbulkan reaksi neurohumoral tersendiri di dalam tubuh, kepuasan tersendiri—dopamin release. Jadi apapun yang teman-teman ekspresikan dalam sebuah tulisan, baik itu emosi positif maupun luapan emosi negatif, akan memberi manfaat ke dlaam diri teman-teman. Tentunya bukan pula emosi negatif yang menggebu-gebu tak terkontrol semisal di level parah—melakukan aksi membahayakan diri maupun orang lain.

Tak lupa, kitab suci Quran juga banyak mencatat perintah membaca dan menulis ini di beberapa ayat. Dari gaya bahasa naratif denotatif maupun kiasan mematri seni sastra indah tersendiri daripada kitab suci.

Semoga manfaat ya ulasan ini teman-teman cakeep….Resume tanya jawab akan ditambahkan dikemudian hari apabila waktu memungkinkan. hav a nice writings cakepp 🙂

  2 comments for “Rahasia Membuat Tulisan Ramah Otak Pembaca (Edisi Menulis Kreatif Bagi Pemula, Intermediate Hingga Ekspert)

  1. 28 Mei 2018 pukul 10:38 pm

    mantap kak penjelasannya! Ilmiah bangett, jadi emang percaya ya kalau practise makes perfect ada penjelasan ilmiahnya, semangat nulis lagi aah!

    Suka

    • 29 Mei 2018 pukul 5:24 am

      Iya Intan. Sayangnya, penelitian blm mampu memisahkan antara yg talented (mmg bakat) dgn practice yg bukan bertalenta di bidangnya. Karena talent itu tiap org punya.

      Tp di penelitian terakhir di Kanada, Lola Boyd pakar neiroscientist yg memfokusi rehabilitasi otak pasca stroke—menyebut kuncinya bukan 10rb jam terbang. Ini akan berbeda2 hasilnya satu sama lainnya. It’s very personal lah pokoknya 🤩

      Tengkiuh yaaa 🤗

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: