Yang Terserak dan Tersirat di Sebalik 1000 Hari Kehidupan

Gerakan 1000 Hari di Awal Kehidupan

1000 hari kehidupan? Mari pertama-tama kita apresiasi gerakan ini dari pemerintah—melalui kementrian kesehatan—menggelincir ke jajaran daerah hingga kelurahan dan akhirnya rumah tangga. Dengan segenap usaha, biaya yang tak sedikit, pemerintah telah berupaya menaikan cakupan-cakupan diantaranya kunjungan antenatal care (K1-4), pemberian vitamin dan mineral untuk ibu hamil dan menyusui, perwatan neonatal yang terintegrasi (PONED-PONEK) nan tersebar hingga ke pedesaan, perkampungan hingga program ASI ekslusif dan anjuran tetap memberi ASI hingga 2 tahun. Kampanye yang kontennya masif dan cukup lengkap namun masih jauh dari substansi gerakan karena wujudnya di lapangan hanya sayup-sayup menggema dan sedikit sekali terejawantah.

Mengapa ?

Mungkin saja—dalam skala hati saya yang masih remah-remah merah muda dan masih mau merekah layaknya kelopak bunga kemarin sore yang 1/2 tertutup 1/2 terbuka (:masih belum banyak pengalaman, masih anak bawang). Acap kali program-program serupa “seolah ” terlepas dari “ruh” dan substansi nya. Manusia sebagai mahluk berjiwa, kerap dilupakan ruhiyah nya ini. Yang kerap di “program” tanpa menggerakan motivasi intrinsik yang dapat dipantik sebetulnya melalui upaya-upaya yang menyentuh hati (jiwa) nya ini. Gagasan ini mungkin cocok di diskusikan di pelataran pinggiran sawah, diamana kerut-kerut wajah pak Tani yang dipanasi matahari langsung itu ditanya “Mengapa bapak masih nyawah?”

“Ya kalau bukan bapak siapa lagi neng? Semua kerja tani sudah semakin surut, hanya tinggal beberapa saja yang melanjutkan.”

“emang bapak ga mau kerja lain?”

“Lah kerja apa? Bapak nda bisa, cuman paham tani. Tani selain pencaharian, juga sudah jadi bagian dari hidup bapak. Berhenti tani sama saja sakit-sakitan”

si bapak tani ini tak hanya menempa fisiknya bersamaan dengan bertani, tapi lebih dari pada itu, tergambarkan ruh nya yang hidup di dalam tani. Ia akan hampa, sakit baik mental maupun fisiknya kalau meninggalkan tani. dan begitu pula lah maksud dari titik tolak ruhiyah ini. Bahwa sebetulnya naluri intuitif keibuan itu telah hadir sejak dari awal fase kehamilan. Tentu saja apabila sang ibu menggunakan daya penglihatan dan pendengrannya dengan keseksamaan fitrah kodrati. Lin halnya kalau si ibu tak merasakan getar-getar spesifik itu. Sejak mula mengetahui 2 garis berpendar samar di atas stick tes pemeriksaan kehamilan.

Apa benar intuitif tak Berwujud (Sulit dibuktikan)?

Tentu saja tidak. Hal ini dapat nyata dibuktikan mewujud di kepala manusia. Tepat di bonggol lunak berlekuk disebalik tulang tengkorak (:otak).

Sebuah penelitian neurosains membuktikan motherhood brain, yang substansi abu-abu nya berkurang seiring kelahiran bayi. Ukuran otak yang membesar dari volume asalnya dan segala perubahan neurohumoral yang terjadi dalam rangka mempersiapkan pengasuhan.

Screen Shot 2018-05-27 at 5.03.16 AM.png

Otak “jaras” keibuan (motherhood brain) dalam sistem laktasi (sistem penyusuan)

Tampak diatas sistem penyusuan yang dirancang sang pencipta sedemikian menakjubkannya. Bahkan suara tangis bayi yang bukan bayi-nya pun dapat menimbulkan kesigapan tersendiri nan reflektif di dalam diri seorang perempuan yang memiliki bayi. Saya sendiri saat ini—disaat akan menyapih adik pun kerap merasakan hal serupa ketika mendegar suara tangis bayi. Hal pertama yang refleks saya lakukan adalah terdiam, mulai meng-identifikasi asal suara. setelah mengenal sumber suara dengan seksama dan mengetahui yang menangis bukan bayi sendiri tercukupi dengan tenang. Tapi pabla mendengar tangisan itu berlanjut, ada rasa ingin tahu lebih jauh keadaan bayi tersebut. Bahkan suara tangis kolik setiap menjelang magrib dari bayi tetangga pun dapat telinga saya kenali dan memunculkan hasrat keibuan untuk melakukan mekanisme kepilotan menghadapinya. Ha…ha…ha…

bersambung………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: