Tak Cuma Eksplorasi & Eksperimen ! Berbagai Stimulasi Belajar Dialami Anak Usia Dini Dalam Satu Kegiatan ini

Early Childhood, What To Expect ? Then What To Do ?

Early Childhood (2-6 tahun) atau biasa juga disebut preschool oleh kebanyakan orang, biasanya adalah masa paling menyenangkan bagi anak-anak kebanyakan. Dimana ia benar-benar bebas bermain menggunakan segala insting ingin tahu lahiriah yang dimilikinya.

Namun faktanya, tak semua anak berkesempatan mengalami masa-masa itu  pada tempat dan waktu idealnya. Ada yang tak memiliki masa-masa itu karena neglected, ekstrimnya—atau minim sentuhan versi “neglect” berjubah berbeda, yang sering tak disadari memiliki dampak seumpama neglected, kali ini biasanya akibat kesibukan orang tua di dunia kerja sehingga anak kurang bertemu sosok riil orang tua di fase ini. Atau seandainya pun bersua, sering kali anak mendapatkan “jatah sisa” atau jatah dengan stok kesabaran versi manusia lelah berjibaku dengan dunia luar rumah dan segala stressor yang membumbuinya.

Tak selesai disitu. Rupanya ada jenis lain lagi. Anak kerap digendong dan amat dijaga penuh oleh orang tuanya. Orang tua amat sangat antisipatif apabila anaknya akan celaka atau mengalami gagguan fisik yang kenapa-kenapa. Padahal, over-protective seperti ini cenderung mencegah anak bereksplorasi. Anak di rumahkan, dan diberi mainan-mainan yang dimauinya. Padahal, belum tentu suguhan orang tua itu menjejakan bekas pembelajaran atau perangsangan tumbuhnya benih-benih jalinan serabut neuron yang kompleks di otak akibat bermain yang dikayakan proses belajar yang ciri khasnya mendayagunakan seluruh raga, jiwa maupun ranah berpikir anak.

Nah seharusnya bagaimana cara mengisi masa-masa ini yang sesuai fakta saintifik atau brain based nurturing ? Sehubungan secara detil setiap fase ada perkembangan dan pertumbuhan intinya. Maka saya disini hanya membahas bagian generalisasinya saja. Dimana di usia dini, alangkah baiknya, anak disuguhi kegiatan outdoor eksploratif dan kaya eksperimen. Mengapa ? Karena kita perlu melakukan stimulasi menyeluruh sekaligus merajut basis berpikir, basis emosi, basis menghadapi tantangan marabahaya.

Fight Or Flight.jpg

Fight Or Flight Response. Respons otak reptil , yaitu batang otak, suatu sistem paling dasar dan bawah untuk berpikir. Otak ini juga dimiliki binatang saat mengalami ancaman. sumber : psychlopedia

Anak seharusnya distimulasi otak limbik (pusat emosi dan memori) maupun otak neokorteks (fungsi berpikir paling tinggi). Keduanya hanya terstimulasi dalam lingkungan ramah sentuhan kasih sayang (asih) dan ramah asuh (responsivitas kebutuhan dasar anak) dan ditambah ramah asah (eksplorasi dan eksperimen). Agar seiring bertambahnya usia, dan bertambahnya tautan saraf antar otak sejak awal telah terbekaskan memori yang diliputi emosi yang indah. Ini adalah investasi jangka panjang orang tua sampai usia dewasa.

Ibu Alam Satu Tempat, Satu Kegiatan Ragam Stimulasi

Nah sehubungan dengan dasar-dasar saintifik maupun pengalaman para peneliti berpuluh tahun diatas, maka emak memadatkan kegiatan Ajo dan adik dengan kegiatan eksploratif dan eksperimen yang dikayakan dengan pendidikan ruhiyah rububiyyah (spirit) Ketuhanan (ketauhid-an), pendidikan mulkiyyah (bercengkrama dengan semesta) dan uluhiyyah (bersosialisasi dengan mahluk alam). Ditambah relasi dengan kegiatan seperti seni menggambar/melukiskan kembali apa yang dilihat di alam. Narasi, menceritakan kembali apa yang yang ia alami saat bersentuhan langsung dengan alam. Yang keduanya digabungkan menjadi nature journaling.

Untuk kegiatan eksperimennya, mak memilih mengamati hewan sebagai objek di dalam tabung kaca, mengamati bunga dan menghitung kelopaknya, menciumi harumnya dan disegarkan oleh warna-warninya. Kemudian diikuti bermain air dan bermain bersama air. Kegiatan ini berlangsung ga sampai 4 jam. Berhubung fasilitatornya emak dan memfasilitasi 2 bocah, jadilah mak tercengang disaat menjurnalnya dalam bullet journal Mak. Betapa kaya bobotnya kegiatan ini ? Mengapa mak dan para orang tua kebanyakan cenderung menggantikan stimulasi riil dan langsung ini menggunakan media tak langsung ? Yaitu buku, layar media digital, mendengar dongeng dan sebagainya.

Bukankah semestinya, stimulasi pertama itu benar-benar sebuah jejak penuh bermakna akan kejadian berelasi dengan alam? Proses konkrit dalam otaknya begini kira-kira anak mengetahui, melihat, meraba, mencium, merasa, menghirup (penciuman lebih dalam) semuanya dilakukan secara langsung. Diikuti anak mengalami (bereksperimen) dengan bentuk-bentuk itu secara langsung.

Bagi Otak ini akan menjejakan memori awal. Saat anak melakukan kegiatan serupa berulang, membaca buku tentang ini, mendengar kisah tentang ini ataupun ia melihatnya di layar kaca, seketika otaknya akan mengasosiasikan dengan bentuk awal. Ketidak terbatasan alam oleh 4 segi layar kaca menimbulkan pandangan berjangkauan jauh tak mudah dibatasi. Daya imajinasi pun bisa berkembang lebih kreatif.

20180703_142845.jpg

Kenalan dengan aneka bunga

Lalu apa dengan membawa anak ke alam sudah cukup ? Pertanyaan ini kembali ke tujuan awal kita memanfaatkan alam sebagai objek belajar, bermain dan bekerja. Pada kaum urban seperti saya yang minim kesempatan merasakan suasana alam murni, tentu saja kesempatan langka ini digunakan sebaik-baiknya— “dipadatkan” dan yang utama “bagaimana menimbulkan minat anak urban” terhadapnya. Dimana anak-anak kota cenderung sudah kadung akrab dengan gawai. Menarik? ya pasti. Karena suguhan layar memusat ke sensorik audio visual. 70-80% atensi dimakan habis oleh 2 jalur ini. Tapi apa itu baik? <7 tahun sebaiknya stimulasi sensorik menyeluruh. Dimana atensi anak masih relatif pendek-pendek (alamiahnya), namun perangsagan di sensori-motor juga diperlukan untuk keseimbangan fungsi eksekutif (berpikir lebih tinggi). Itulah tak heran salah satu dampak dari paparan audio-visual-motion picture berlebih ini adalah memendeknya rentang baca tulisan. Kebiasaan generasi terkini membaca paralel sebetulnya baik, rentang wawasan dapat meluas, namun rentang kedalaman patut diawasi lebih lanjut.

Pemadatan tadi mengarah pada upaya saya memanfaatkan brain based learning, bagaimana proses memfasilitasi. Semakin dini usia anak, maka semakin banyak pula komunikasi dialogis dari sosok pengajar. Untuk apa? stimulasi verbal dan ekspresinya tentunya. Itulah mengapa, saya kurang mencenderungi metode2 “yang katanya” anak dibiarkan eksplorasi, sang “guru” hanya mengobservasi dalam sebuah catatan, dan hanya bicara kala diperlukan saja. Hal ini terlalu memiskinkan kemungkinan otak anak secara paralel dapat mengerjakan hal-hal multipel.(mudah-mudahan di topik berbeda saya dapat memaparkan wujud proses metode ajar kepada anak usia dini di tiap usia).

P_20180702_115940_vHDR_Auto.jpg

eksperimen membuat gelembung dengan meniup

 

20180703_152405

Permaianan eksperimen lainnya

 

P_20180702_113726_vHDR_Auto.jpg

Semakin spesifik, pengamatannya semakin detil

P_20180702_115128_vHDR_Auto.jpg

Menggambar Objek Alam (Nature Journaling)

Kegiatan penutup sesi Nature exploration adalah nature journaling.

Anak, Zamannya dan Sabda Waktu

Mana Yang paling kita khawatirkan ? Anak ketinggalan pengetahuan digital terkini atau ketinggalan game populer kekinian, atau anak-anak yang tercuri kesempatan dan haknya untuk bercengkrama dengan ibu alam?

Mana yang paling kita cemaskan? anak ketinggalan les akademik dan robotik , atau anak  terlengah dari tugas besarnya dikemudian hari menjadi khalifah alam semesta dan tidak menumpahkan darah di dalamnya ? (al-baqarah)

Mana yang sebetulnya ketinggalan, anak yang dididik  ikut arus zaman (ikut segala yang terkini di suatu zaman) atau anak yang dipersiapkan hidup di zamannya kelak (melalui kaca mata visoner melampuai pandangan di 10 tahun kedepan?) Tahukah ayah-bunda, bahwa 15-20 tahun mendatang, bumi kita boleh jadi akan mengalami kebutuhan yang besar menuntut untuk hadirnya manusia-manusia yang memilki kepedulian tinggi terhadap penyelamatan bumi. Hari ini dunia sudah sibuk membahasi nasib bumi yang kian merana oleh rusaknya alam oleh tema yang disebut manusia sebagai pembangunan. Semua bertransformasi ke arah green building, green economy, green office, green education dll. Jadi tema alam tak pernah tak relevan dan ketinggalan zaman. Mari kita renungkan!

Semoga bermanfaat. ♥

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: