Refleksinya & Refleksiku : “Mungkin Futsal Bukan Sukanya Banget, Tapi Dibalik Itu….”

Apa sih Berpikir Reflektif ?

Sebelumnya, kita pahami apa itu refleksi duluk ya…

Refleksi menurut KBBI adalah : 1.gerakan; 2. pantulan atau cerminan yang menjawab suatu pertanyaan seseorang yang datangnya dari luar, yang sebelumnya  tidak disadari orang itu sendiri. (Definisi ini saya modifikasi sedikit agar lebih bisa dipahami). Jadi refleksi adalah proses berpikir yang awalnya belum ada. Kemudian kejadian di luar diri kita meng-ilhami kita untuk memiliki sebuah pemikiran. Maka dapat dikatakan pikiran kita tersebut merupakan pantulan dari apa yang kita alami. Perlu saya garis bawahi kembali, prosesnya outside-in. Dari luar ke dalam. Begitulah nurture tampak terlihat. Seandainya kondisi lingkungan kita modifikasi sedemikian rupa, maka kita pun dapat memantulkan efek yang kita kehendaki. Kelihatannya meyakinkan ya ?

Manusia Saat Lahir

Kenyataannya manusia di setiap kali ia belajar sudah memiliki modalitas. Ia tidak enol, ia tidak kosong dan ia bukan kertas putih. Proses lahir manusia sudah membawa kompleksitas saraf di batok kepalanya. 2/3 proses sudah berlangsung, volume otak bayi lahir sudah hampir 90% dewasa. Bahkan bayi lahir langsung belajar segala yang menjadi jangkauan indra, pikiran dan perasaannya. Dan sebagian proses belajar itu maish “ghaib” belum tersentuh pengetahuan manusia.

Jadi proses inside-in, outside-in itu saling mempengaruhi. Proses tarik-menarik akan berlangsung di dalamnya membentuk keyakinan seseorang akan sesuatu. Tak ayal ada yang mampu berubah proses yakinnya dari bumi bulat menjadi datar, dari Tuhan itu tinggi menjadi dekat, dari jenis kelamin itu mutlak hingga bisa berubah tergantung penerimaan seseorang. Dan keyakinan-keyakinan ini terbentuk melalui proses berpikir.

Sampai disini mamak putus dulu bait-bait yang membuat mata mengkerut sejadi-jadinya, pun hati makin penasaran dan degup jantung perlahan mulai mengencang. Pengen tau lanjutannya ye kaan, tapi satu sisi mulai bosan dengan kalimat berpikirnya, karena ini cukup melelahkan tanpa secangkir kopi diatas meja. Upss…

Syukurnya diatas meja mamak ada secangkir kopi susu yang sesekali menemani. Karena mamak suka kopi tapi bukan pengopi. Meletakan kopi menjadi sebuah ritual inspirasi seolah, meruntuhkan kewibawaan otak logis mamak, hahaha. Ya iyya, meletakan materi/zat bernama kopi kek (atau rokok, teh, dll ) sebagai cara nge-boost ekspresi diri itu sama saja memindahkan keyakinan kalau ga begini aku ga bisa begitu. Bayangin aja, kalau si mak lamban begitu, sudahlah lamban, tambah ribeut pulak oleh printilan! No offense sama penggemar 3 materi tersebut diatas yah haha (antisipasi esok di cegat!:P).

Futsal, Medan Sosialisasi & Refleksi

Pagi-pagi mamak bangunkan si sulung diatas sofa. Rupanya ia berpindah dari atas kasur kamar ke atas sofa ruang tamu di pagi ini. “Jo, mau homeschool futsal gak ?” Seketika mata ajo kriyep-kriyep. Ia terjaga oleh lantunan “homeschool futsal”, bocah ini kepalang tertarik dengan segala aktivitas didahului kata homeschool hahah. Sebelum ia sekolah TK, Ia memang HS. Setelah ia sekolah formal, ia baru tau, masuk senin-jumat itu sesuatu yang monoton, walaupun kegiatan, guru dan teman-teman sekolah itu sangat menggembirakan. Saya hampir tak pernah mendengarkan dari gurunya “anak ini badmood” atau kelakuannya di sekolah ga semangat dll. Padahal pas berangkat sekolahnya, anak ini kerap kena ujian ayah yang diburu ke kantor. Ayah kerap menyuruhnya bergegas dan jangan bertele-tele. Sementara kalau ia homeschool, perjalanan begitu menggoda, hal baru, tempat baru, kegiatan baru di berbagai area yang berbeda setiap hari lebih memikat. Ia suka sekali mupeng kalau ayah sudah dines luar, ia kepengen ngikut sekedar untuk numpang nginap. Haha ga mungkinlah, manusia akan selalu mencari pengalaman baru. Yah intinya itu. Inilah yang bikin doski kembali ingin berubah haluan. Yah bagi mamak, baik ia memutuskan akan menempuh jalur didik manapun, home-education itu mutlak. Kedua, kesesuaian visi-misi antara orang tua & institusi didik. Selanjutnya, institusi didik, menunjang proses berkembangnya pikiran dan potensi anak, bukan melemahkan apalagi mematikan, ini berbahaya.

Untuk itu saya memberikan waktu kepadanya berpikir, mendalami, merasakan, mana yang paling Ia ingini. Saat ini HS belum mengakomodir keinginan anak Indonesia menjadi dokter. Saya khawatir, kelak diantara mereka ada yang meneruskan jejak saya, dan saya tidak antisipatif mempersiapkan kemungkinan itu. Tapi ada beberapa solusi yang mungkin bisa ditempuh pun pada akhirnya Ia mantap memilih HS.

Singkat cerita, habis mandi, sarapan, kami bergegas ke lapangan futsal Andik. 2 bibi Kerlap dan beberapa lainnya tampak disana. Ajo pun segera mengetahui informasi kalau futsal sore sudah tidak ada lagi. Saya mulai menawarkan alternatif lain di luar kerlap, “nanti kita cari caranya agar ajo bisa ikut sesi sore ya”, saya mulai mengajaknya masuk lapangan. Dan tibalah drama itu dimulai. Lakonnya yang tak saya duga pun muncul. Ia mogok, enggan masuk, enggan berdiri, enggan mencoba hingga kenalan pun gak mau. Sebuah respons tak biasa yang ia lakukan. Anak ini termasuk pro sosial, walaupun iya akhir-akhir ini saya perhatikan auranya saat kegiatan di komunitas ini terasa “asing” baginya. Berbagai cara pun saya lakukan, hingga instruktur baik hati paman Ari pun turun tangan mengkoordinir anak-anak futsal untuk berkenalan dengannya. Tapi kadung emosi negatif yang menguasai, hingga otak Neo pun bertekuk lutut dihadapan “Freeze” reaction. Pergi dari lapangan gak mau, main bolanya juga gak mau, parahnya kenalan pun ga mau! Berbanding terbalik dengan sang adik yang semangat main, semangat kenalan dan gak mau pulang. Saya kembali kepada tujuan awal, memetakan kembali mindset saya, negative emotion means no learning, nasihat ampuh saya dalam hati. Situasi tak efektif, yang satu ingin bermain, sementara yang semestinya main malah ogah, mager. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Saya putuskan mengikuti “freeze” reaction ini. “Kalau kamu mau diam saja dan bermain robot, mari lakukan di rumah.” Sambil menata hati dalam kekagetan, bagaimana tidak, 2 tahun belakangan prioritas saya pada karakter (akhlaq; akal-budi) melalui mendidik cara berpikirnya. Ia sudah memahami proses berpikir kapten Neo, mosi negatif, mosi positif dan kapten reptil. Tapi hari ini adalah medan belajar saya. Kala motivasinya tak benar-benar saya ukur, benarkah ia ingin futsal ? Apakah faktor lain yang menghalanginya mencoba?

Saya dalam posisi tidak dapat mentolerir saat ia enggan mendengarkan nasihat. Saya katakan padanya, “bunda tidak akan marah, tapi bunda sedih, bunda sudah ajarkan padamu tentang mosi negatif, tapi tadi kamu tidak menunjukan hasil belajar mu sama sekali, untuk itu bunda ikuti, Ajo bermain sendiri di rumah.” Bagi saya cukup clear, bermain bersama, bermain dengan dan bermain sendiri. Kapan anak bisa bermain sambil bersosialisasi? Semua itu dikembalikan kepada fase perkembangan dan perilaku sang anak.

Semakin mendekati rumah, dan melihat ibunya menyungguhi perkataan, ia mulai menangis, menyesal dan meminta maaf. “Maaf saja tidak cukup, Ajo harus tau, bunda meluangkan waktu, mengantarmu, menyemangatimu, mengajak mu melakukan yang baik, tapi tidak kamu pedulikan. Kamu perlu menunjukan perbaikan.” Ia sudah hafal dengan kalimat ini, tiap kali kami menyentuh pembicaraan ini tentunya. Dan tak lama dari kalimat itu melantun di udara, tampak sekitar 300 meter di depan kaca mobil, sekumpulan anak-anak bermain di lapangan bola komplek. Saya pun banting setir dan memberikannya tantangan…

“Bagaimana kalau langsung dibuktikan Jo, coba ajo belajar berkenalan dengan teman-teman di depan sana?”

“Sama bunda ya” tanya sekaligus konfirmasi-nya.

“Ajo sendiri, sejak tadi di lapangan futsal bunda sudah melakukan itu nak” alasan saya.

Ia turun dan berjalan menuju sekelompok anak. Saya mengikuti pelan dan berhenti memperhatikan dari belakang. Sang adik terus saja ingin turun ikut ajonya.

Tampak pemandangan dari luar ia sedang berbicara dengan diperhatikan seluruh anak, jumlahnya sekitar 8 orang. Beberapa tampak seksama menanyai motifnya berkenalan, mereka mungkin heran, ada anak turun dari mobil lalu tiba-tiba berkenalan.

Ya, dia sudah membuktiknnya, dia sudah memperbaiki diri. 🙂

Saya turun dengan hati yang bangga padanya. Ia baru saja menunjukan sikap yang sulit bagi anak-anak seusianya. Ia belajar dari kesalahan, ia belajar berkenalan, ia belajar tanggung jawab. Saya turun meminta ajo duduk disebelah saya, kemudian saya mulai bercerita kepada anak-anak tadi, tentang “project berkenalan ini”, mengapa ia diminta berkenalan, saya juga membantunya membuka topik untuk main bersama. Ia mulai mencerah, kembali semula jadi, ia mengambil robot di cabin belakang, dan berujar ke seluruh kawan yang beragam usia (tertua usia SD kelas 5) “mau ajo ajarin ga main Tobot ini ?” ia mulai membongkar robotnya dan mencontohkan cara menyusunnya menjadi 3 buah mobil-mobilan. Ia juga mengizinkan teman-teman baru memainkan mobil ini, padahal ia sangat sayang pada mainan ini. Tak lama, teman-teman yang lebih besar mengajaknya main bola. Ia pun berhadapan antara terus main robot bersama atau main bola.

Disini, saya belajar banyak sekali. Tak hanya saya, dirinya, bahkan adiknya menyaksikan langsung pengalaman penuh pembelajaran emosi ini. Bagaimana emosi, motivasi seorang anak manusia berperanan besar dalam sebuah medan pembelajaran, apa saja! Emosi negatif memblokade kesempatan belajar, menganggu masuknya input, menganggu sosialisasi. Sementara ketika seorang anak kembali masuk ke posisi “YES BRAIN” maka ia sungguh penuh inisiatif, penuh empati, punya niat dan perilaku baik. Luar biasa ya! Anak-anak banyak mengajarkan kepada mamak lamban ini, betapa cepat mereka bounce back. Mereka adalah pemberi maaf sejati, termasuk maaf bagi diri mereka sendiri, sangat cepat, apabila kita memberi mereka kesempatan sebelum meng-klaim mereka anak bodoh, anak pemalu, anak malas, ga inisiatif, payah dan sebagainya.

Ajo tak jadi ikut futsal hari ini, ia juga tak lama bermain bola, tapi ia belajar perbedaan besar saat emosinya negatif dan positif. Apa untungnya dia berkenalan, bagaimana ia berjuang untuk sebuah kesempatan memperbaiki diri, bagaimana ia menarik refleksi atas kejadian hari ini, yang mungkin akan ia ukir sepanjang hayat, dikemudian hari tentang arti semua hal diatas. Ia dan kawan-kawan barunya tak lama bermain, suara adzan zuhur membubarkan mereka dari tongkrongan, mereka akan berangkat ke masjid. Saya lanjutkan pengalaman positif ini dengan mendorongnya pergi bersama kawan-kawan ke masjid. Ia pun salat bersama dan kembali ke mobil diantar salah seorang yang paling tua diantara mereka.

Di mobil, kami berefleksi bersama, dengan kecepatan lamban saya menghayati alunan kata yang dirangkainya “ajo tadi emosi negatif tapi langsung pas emosi ajo positif ajo punya kawan deh, ngajar main Tobot dan ajo jadi tau enaknya punya kawan dan kenalan!” (Padahal baru ini, dia yang sama sekali mager kenalan :D)

Hingga malam harinya ayah pulang, saya menawarkan padanya,

“siapa yang mau bercerita kepada ayah?” tanya saya.

“Bunda saja” sebutnya.

Dari di lapangan futsal sampai di momen kami pulang, ia hanya mendengar. Kemudian tepat di momen perkenalan kawan baru, ia begitu bersemangat menceritakan aksi bajiknya kepada ayah.

Refleksi bunda,

Adalah bunda ibu yang tidak selalu menyuarakan yang menyenangkan bagimu nak, 

Adalah bunda, ibu yang mengajari anak balita tentang konsekuensi, proses berpikir manusia, bagaimana otak dan emosi berkait, bagaimana maaf sering tidak berfungsi tanpa memperbaiki. 

Adalah bunda, ibu yang dapat kecewa pada dirinya sendiri, menganggap diri bund gagal mendidik mu. Adalah bunda yang malu apabila kamu tidak menunjukan karakter dan akhlaq bajik Nak. Bunda berproses, sama berefleksinya dengan mu, bunda harus memaafkan diri bunda, menerima prosesmu dan tetap menjadi teman setia mu baik saat membuat kesalahan, maupun saat engkau memperbaikinya. Semoga bunda tak pernah meninggalkan proses dan peranan itu. Dalam sulit maupun dalam nyaman.

Cinta yang mendidik (Love)

 

*credit photo : foto dibuat tidak jelas, melindungi hak anak. Foto tampak belakang dan samping atau saat anak melihat kebawah.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: