Cara-mu Berkomunikasi Dengan Suami dan Anak, Produktifkah ?

REFLEKSI BELAJAR KOMUNIKASI PRODUKTIF

Aliran Rasa Di Institut Ibu Profesional Kelas Bunda Sayang

Mengapa Semua berawal dari Komunikasi ?

Kenapa ya diawali komunikasi ? Adakah yang tau mak kura-kura?

Sepertinya mantap banyak yang menjawab :

Ya tentu, karena semuanya berawal dari komunikasi. Gak usah jauh-jauh deh, kita mau ngasih tau anak supaya dia bangun tidur tepat waktu, makan dan mandi saja dengan teknik komunikasi.” Tak hanya keseharian itu, ibu selaku Madrosatul Ula, juga mesti pandai mengajar. Dan meng-‘ajar’ adalah bagian dari komunikasi. Semakin pandai sang guru meyampaikan pesan secara sederhana dan tepat, maka semakin mudah lah si murid menerima pelajaran. Eits tapi tunggu dulu, apa yang dimaksud dengan mengajar ? Apakah menuang pelajaran ? Kita bahas pengajaran dikesempatan berbeda ya… 🙂

Nah, mak lamban punya insight tersendiri, mengapa komunikasi mestinya efektif bahkan produktif. Ini dia :

Happy Palm day, good friday and easter

Karena komunikasi itu telah berlangsung jauh sebelum manusia dapat berkata-kata. Untuk itu, ini adalah bagian penting bahkan sangat penting untuk diperhatikan. Suasana hati, dasar jiwa seseorang, yang seringkali secara bawah sadar ‘genuine’ muncul dalam interaksi, seperti ekspresi (hingga mikro ekspresi), intonasi, pitch, gesture, bahasa visual dan lain-lain.  Namun, sering kali kita selalu menumpu pada pengaturan kata. Jiah…..

Kedua, komunikasi adalah nyawa interaksi. Sementara, manusia lahir langsung berinteraksi dnegan orang pertama secara face to face, yaitu ibunya. Namun kalau mau lebih di spesifikasi lagi, aroma susu di payudara ibu, aroma tubuh ibu membuat bayi mampu mendekat menuju puting susu ibu. Disini sejatinya terjadi proses komunikasi lewat nervus olfaktorius yang tidak ada penghambat langsung ke otak. Bayangkan betapa manusia itu dicipta? Nyesss gak sih cakep? Kayanya gak seberapa banget kita mengoptimalkan proses berkomunikasi kita ya?

Jadi Kita Akan Bahas Apa ?

Nah kali ini mak lamban (ahahaha masih lamban makkk, gak cepet-cepet jugak :P) mau bahas bagimana ini perasaan emak, pemikiran emak, hasil refleksi emak selama menjalani keseluruhan level 1 yang ditajuki ‘Komunikasi Produktif‘. Kita fokus seputar pengalaman belajar mak lamban yang ini ya…

Nah pertanyaannya, kenapa hal yang sudah lumrah kita lakukan sehari-hari, bahkan sejak bayi ini nampaknya belum juga membuat kita di titik yakin bahwa cara kita berkomunikasi itu sudah tepat ( efektif ) atau produktif. Produktif, efektif yang bagaimana ? Tentu yang hasil dari komunikasinya itu menghasilkan harapan/tujuan kita dan menghasilkan kemanfaatan—yang bahkan manfaat berkali lipat (multipel). Dan bagaimanakah kita mengetahuinya apabila proses kita ini mengarah ke perubahan baik ? Atau mengarah ke tingkat-tingkat tertentu, seperti yang disebut dalam review materi ?

Dari TANTANGAN 10 HARI, sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita
memaknai satu kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat
masuk kategori tahap manakah diri kita :

a. Tahap Anomi: Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator,
belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

b. Tahap Heteronomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan
dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman
dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

c. Tahap Sosionomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan
dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran
dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

d. Tahap Autonomi: Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara
konsisten, tidak hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak
ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda. 10 Hari adalah Limit terendah
kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Selain 4 tahap diatas, sebetulnya banyak hal  yang perlu kita periksa, kan katanya, kita ingin berubah menjadi komunikator yang lebih baik bukan ? Jadi sebetulnya, yang pertama kali perlu kita temu-kenali adalah masalah yang ada di : diri kita dan berikutnya, mengetahui preferensi komunikans kita. Apa saja itu ? Take a look at this yes cakeepp…

Irnova-komunikasi produktif

Resume dalam infografis komunikasi produktif Irnova

Ini rangkumannya pake aing-aing, secara saya masih tergabung dalam paguyuban emak-emak tinggal lama di wilayah Sunda tapi baru paham ‘aing’ itu ‘saya’ dalam bahasa rakyat ‘kasar’ di Sunda, mana suaranya? Hahahaha.

Dari situ, tuh, mak lamban cuman bikin jurnal sehari-hari, gak pake nunggu apa kegiatannya yang gimana-gimana. Karena sebelum masuk proses latihan membentuk pola di otak, emak harus dapat dulu pola komunikasi emak sebenarnya (secara natural) di rumah itu bagaimana sama pasangan dan anak sendiri. Adakah problem didalam keseharian emak dalam berkomunikasi? Bahkan cara suami dan anak berkomunikasi juga pengen banget mak amati dan evaluasi bareng-bareng.

Jadi alhamdulillah berbarengan proses tantagan ini, family forum disepakati, visi misi terbahas bareng, dan akhirnya lebih ke men-check list apa yang sudah dilakukan. Nah bener kan ya, jatuhnya begini? Bukan saya mau latihan ini ?

Dan satu yang mak ketemu, bahwa gaya komunikasi emak sama anak itu cenderung gak mau pilih KISS (keep information short, simple), dan mak nampak sengaja menggunakan komunikasi dialogis bertingkat ini. Tanpa perlu untuk tidak sepakat dengan anjuran KISS, emak sadar, mak punya tujuan dalam  hal anak mengembangankan pola pikir dan kemampuan ekspresi bahasa mereka. Bukan hanya sekedar ‘nyampe pesan emak’. Dan mak setuu banget, dalam komunikasi dengan orang lain, komunal/publik, please yang simpel aja gitu, mudah dimengerti, ringan dikunyah. Dan jujur emak belajar agar bisa menjadi sederhana seperti ini dalam komunikasi publik. Secara mamak kerap dapat masukan, kadang emak suka pake istilah yang sbetulnya familiar di dunia medis umum, tapi gak semua kalangan paham, emak kudu bebrbahasa lebih kena berbagai lapisan lagi :). Alhamdulillah banget dapat feedback macam gini.

Alhamdulillah periode tantangan sudah selesai. Mak lamban juga sedang mengukur hasil evaluasi jurnal mamak selama bulan level ini. Banyak banget hasil belajar yang mak dapat. Maapkan belum bisa tampilkan disini. Yang jelas mak ketemu problem, ketemu pola komunikasi emak mana yang sudah tepat, mana yang perlu diltaih dan mana yang gak efektif. Terimakasih Ibu Profesional, mak fasil, mak guardian, mak perlas dan mak-mak seperjuangan. Terimaksih juga jurnal reflektif ibu yang menemani proses & diringkas untuk dipakai di tantangan ini (disesuaikan keperluannya), yang proses menjurnal metakognisi ini akan lonching dalam salah satu kelas belajar komunitas terkait kinerja otak dan mental di Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: