Project Kado Ultah Ajo Untuk Zelova

Beberapa jam setelah mendapat undangan digital dari Mamanya Zelo, mak lamban pun berniat langsung memberitahu Ajo, berhubung saat itu jarak mak dan anak cukup jauh—terpaut puluhan kilo, mak di Depok, bocah di Bogor. Bocah-bocah saat itu tengah menginap di rumah andung dan inyiknya. Mamak pun akhirnya mendekamkan dulu infonya hingga tibalah muka bertemu muka :

“Jo, ini ada undangan syukuran dari Zelo lho… Nanti akhir pekan, habis acara Halal bi Halal di rumah Oma. Tau gak kemana acaranya?” Mak lamban menyerocos tak putus pada ajo. (Komunikasi tak produktif yag enggak Keep Information Simple banget lah hahaha—Ya gimana udah menyehari, dan hamdallah anak-anak paham, pun betapa panjangnya emak mereka kalau ngoceh ahahaha :D)

“Dimana bund?” tanya bocah.

“Di Hotel S****O Depok” Jawab mamak dengan sejelas-jelasnya sambil menunjukan penampakan wajah hotel.

“O..ajo tau-tau…yang di jalan Margonda Raya itu kan ?” Tanya si buyung dengan kecenderungan visuo-spasial ala teori Howard Gardner ini.

Bagi ajo yang punya minat unik menyukai peta, merekam perjalanan dengan detil, hal-hal seperti jalan, nama alamat dan patokan sangat relevan mencuri perhatiannya. Selain peta, ajo juga sangat meminati bangunan hotel (mungkin struktur indoor emol, perkantoran dan sebagainya juga). Tampak dari kesehariannya, selain membuat aneka jenis mobil, ia membuat bangunan. Dan bangunan tersering yang ia buat dari legonya adalah hotel, kamar hotel, rumah dan kantor ayah. Kalau disusun peringkat, kamar hotel-lah yang paling getol dan detil dia buat, kadang mak takjub sorang, karena kedetilannya sekaligus ketertarikannya pada printilan sebuah kamar tidur. Jadi tak pelak, momen hadirnya undangan seperti ini memang secara personal sangat “mengundang” bagi Ajo.

Memeriksa Motivasi Anak

Segala sesuatu diawali oleh NIAT. Dan niat yang juga menjadi motif yang mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan. Jadi ceritanya doi pernah bertengkar dengan kak Siva, yang berujung mengatakan rumah kak Siva kecil, dan menangislah bocah besar itu. Mamak pun jadi tergelitik pengen nanya yang tepatnya ‘meriksa’, apakah kalau Zelo adakan syukuran di rumah kecil, jelek, bolong-bolong, *mulai teramat lebay* apa iya dia mau datang ?

“Jo. kalau ulang tahunnya di rumah kecil, jelek banget, bolong-bolong ajo mau datang gak ?” tanya mamak kepo.

“Lho kan ulang tahunnya di Hotel nanti.” Jawab ajo tepat guna. Hahaha, ini yang nanya yang gak cakep amat ini. Kan bener ultah Zelo nanti di Hotel −.−”.

“Maksudnya kalau ada teman lain yang rumahnya kecil, jelek, terus undang ajo, ajo mau datang gak ?” Mulai harcem..tik ..tok..tik..tok…

“Mau lah” Katanya singkat.

Dalam hati berteriak kencang bak Eureka gak jelas, Alhamdulillah!!! Fix anak gue emang doyan hotel sebagai bangunan. Doi gak milih-milih kok kalau berteman maupun dateng  ke suatu tempat. Ini jujur pertanyaan sebetulnya gak penting. Secara ini anak kedapatan di berbagai kesempatan lagi main dan nonton di rumah kontrakan temannya yang memang petak-petak kecil dan (maaf) tidak bersih, padat berisi 6 orang. Ia juga main ke kontrakan teman lainnya yang serupa tapi bedanya lebih bersih dan cukup betah berada disitu bermain bersama. Ikut main ke rumah kawan mamak yang tinggal di kontrakan yang cukup padat juga asyik aja nyamil. Emang emaknya aja yang butuh keyakinan hahaha. Karena buat emak ini penting pakai banget. Mamak jujur terkaget-kaget ia berkata seperti itu ke Siva walaupun cuma sekali. Mamak mulai melakukan keanehan memeriksa segala ketertarikannya pada mobil, hotel dan sebagainya apakah ada sepercik saja perasaan kalau ia merasa lebih berpunya sehingga ia berhak merendahkan orang lain. Secara teori perkembangan, memang hal demikian tergolong ‘wajar’, terjadi pada kanak-kanak usia dini, namun tetap saja sebagai emak keki dan LEBAY juga sampai memberikan wejangan khusus terkait ini.

“Jo, kirain ajo gak mau, kan ajo pernah bilang gitu ke Kak Siva, seperti ini : Rumah kamu kecil” tanya mamak terakhir kali meyakinkan lagi.

“Mau lah, itu kan namanya sombong kalau gak mau.” Tutup bocah memantapkan diri mamak di posisi mengelus dada.

Peristiwa ini memang membekas bagi mamak sendiri, bagi ajo maupun Siva yang menangis sekencang-kencangnya. Kala itu pasca kejadian, ajo mendapat peringatan yang cukup membekas ke jiwanya. Baik oleh bunda, ayah dan nenek. Dan Ia pun menampakan bekasan belajar itu dengan perbaikan yang nyata. Ia langsung minta maaf dan tak pernah mengulanginya lagi hingga saat ini. Seementara bagi mak sendiri, mulai mendapat pertanda, bahwa pembicaraan apapun sebagai seorang dewasa antara mamak, ibu Siva dan nenek kerap di dengarnya tanpa kami sadari ia telah memahaminya. Bagaimana tidak, tak hanya perosalan rumah yang ia katakan pada Siva, ia juga menyebut ayah Siva dan lain-lain yang sebetulnya bagian dari curhatan lepas ibu Siva.

Persiapan Project : “Dimulai Dari Kreativitas Ideasi, Sebuah Proses Berpikir Divergen Mencari Ide”

Setelah mengetahui Niat yang mendasari maunya si anak untuk menghadiri ultah dan mengetahui bahwa ia mengetahui deskripsi kesombongan dalam wujud perbuatan, mamak pun beranjak ke proses bersiap bersamanya. Disini mamak ditantang untuk sedikit keluar dari zona “keenakan” karena tingkat kesulitan project ini cukup tinggi. Biasanya, bahkan dari proses ide pun mak lepas dan tinggal diskusi pilih yang mana degannya. Kini proses ini agak sulit membiarkannya cari sendiri tanpa pengarahan, kata kunci dan sebagainya. Mamak pun tak menaruh ekspektasi yang gimana ke Ajo. Cukup ia jalani prosesnya, tanpa hasil yang didamba pun it’s really owkay!

Di proses ini, mak lamban juga belajar. Yaitu memahami bahwa memikirkan kado cewek saja sudah sulit. Apalagi ditambah kriteria sebagai berikut : anak cewek 5 tahun, gak tahu kesukaan khasnya (disebut dan diduga ajo barbie), kado diupayakan DIY, ramah lingkungan, beranggaran tidak boros dan mengakomodir kemampuan/kebisaan ajo. Hahaha, sungguh sulit dan cukup ‘ambisius’ untuk sebuah persiapan kado anak 5 tahun dalam 2 hari. Tinggal kita lihat, dapat tercapaikah hasilnya ? Kalau tidak, YES benar ini hanyalah sebuah rencana ambisisus! Hahaha.

Beruntung kak Siva si bocah besar sudah pulang kembali dari kampungnya. Dan ia hadir sore tadi. Ia katakan pada ajo dan mamak, “Aku boleh ikut gak cari ide kado? karena aku kan cewek?” well, i did love those words. It was really help mamak!

Mamak berhasil mengerjakan aktivitas lain di waktu menjelang maghrib itu, sementara 3 bocah bergumul dihadapan pinterest dan youtube DIY di laptop. Setelah mamak sampaikan aksi apa yang dapat mereka lakukan, yaitu memilih lebih dari satu ide, akhirnya mereka memutuskan untuk memiliki beberapa ide pilihan. Ajo ingin punya 7 ide, sementara Siva 8 ide, sementara adik sibuk laporan kalau dia tidak diizinkan ikutan, hahaha.

Di malam ini, Kak Siva menemukan 2 buah ide. Sementara Ajo baru menemukan 1 ide. Ia mengaku sulit sekali mendapatkan ide lainnya untuk project kado Zelova ini.

Refleksi Beberapa Hal Yang Dipelajari Anak dalam Proses Persiapan Project

Apa yang sebetulnya dilakukan bujang kecik ?

Dia sedang melakukan eksplorasi ide. Ia lakukan melalui 2 hal : eksplorasi alam secara langsung di dunia nyata saat ia bersepeda di luar rumah dan eksplorasi di dunia maya.

Walhasil ia masih akan melakukan proses hingga esok hari terakhir untuk memutuskan kado apa yang akan ia kreasikan untuk Zelo.

Untuk evaluasi jurnal mamak sendiri, saya menganggap ia tengah belajar ragam proses melatih dirinya menangani tantangan, sebuah bagian dari adversity quotient yang belakangan populer sejak Angela Duckworth merilis hasil penelitiannya ke publik terkait GRIT dan konsep tumbuh belajarnya manusia. Menurutnya, manusia memiliki 2 tipe pertumbuhan mindset, yaitu growth mindset dan fixed mindset. Dan anak-anak yang terbiasa menganggap proses adalah sebuah tantangan akan tumbuh dengan mentalitas terus aktif bertumbuh dan tak sekedar menerima bahwa kepintaran ia miliki secara wajar sejak awal tanpa perlu usaha keras. Memang belakangan sejak bertahun rilisnya publikasi Duckworth, mulai bermunculan penelitian susulan terkait proses tumbuh belajar manusia, salah satu yang cukup bertentangan dengan konsep ini ya tentu saja ilmuwan kubu pro nature. Yang sudah mengakar sejak lama, menteorikan bahwa belajar itu lahiriah, turun-temurun dan terkait kuat dengan genetika manusia bukan merupakan hasil perjuangan atau hasil proses belajar.

Bagi anak-anak sendiri, pengasahan adversity quotient dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari adalah bagaimana ia memiliki mentalitas tak cepat menyerah dan terus mencari ide hingga dapat satu yang mendekati sasaran (spesific goal) sekaligus dapat diwujudkan (achievable) yang merupakan bagian dari manajemen SMART Goal ala George T Duran. Karena proses ini tidak sekali duduk, Ia mau tak mau akan menjalani suatu proses beririsan antara menikmati kesukaan sekaligus menerima kesukaran sebagai bagian dari sebuah proses pencarian ide. Kemudian, sebagai pendidikan spiritualitas  dapat di telusur, sang anak memahami bahwa undangan itu dihadiri (selama kita dapat menghadiri), siapapun yang mengundang kita, baik ia kaya maupun miskin. Dan mengabaikan yang miskin dan hanya memilih menghadiri undangan yang kaya adalah suatu kesombongan. Proses memaknai akhlaq sedemikian ini adalah proses fitrah spiritualitas manusia. Yang mana semua manusia tumbuh dengan naluri (potensi) kebajikan maupun kejahatan. Dan kebijaksanaan pikiran sebagai buah dari belajar lah yang akan menggiring seseorang pada kecenderungan yang mana. Apabila karakter (akhlaq) telah tumbuh nyata, maka kita dapat mengatakan anak telah MENGALAMI pengetahuan, yang sangat jauh berbeda dengan anak diberi pengetahuan, yang mana secara perilaku ia belum mengalami ujian nyata kehidupan. Sehingga dapat kita bilang, bahwa anak sudah memahami dan mengamalkan dalam perbuatan bukan sekedar tahu apalagi tahu yang berada di level kognitif paling bawah yaitu hafal.

Namun proses ini masih harus mengalami tempaan ujian kembali, anak manusia perlu memiliki niat dari diri sendiri, dan melakukannya secara konsisten (istiqomah), sehingga terbentuklah jejaring otak yang mengakar dan menebal kuat.

Agar teman-teman lebih jelas melihat pengasahan kecerdasan apa saja yang dialami anak di proses diatas, karena mamak terbiasa menyelamkan segala sesuatunya menjadi racikan terintegrasi, sehingga mamak tuliskan dengan lebih terang benderang :

•Upaya mengasah kecerdasan memaknai secara sadar dari niat, tujuan hingga value suatu kegiatan dalam hidup sehari-hari. (consciousness thinking yang mengawali kecerdasan spiritual di usia spiritualismenya tumbuh bertanggung jawab kelak. Kesadaran akan setiap peristiwa itu disadari memiliki makna dan sunnatullah sang pencipta mampu mengantarkan seseorang menghayati makna dzikir dalam setiap kondisi hidupnya, semoga saja kelak bertemu tujuan dengan proses panjang yang dititi ini :)). Proses pengasahan ‘memaknai’ ini paling lambaannnnn meresap kedalam kehidupan anak. Dan mungkin dapat dibilang paling abstrak sekaligus berdimensi transendental vertikal-pun horizontal.

•Upaya mengasah adversity quotient dalam mentalitas mengerjakan sesuatu itu akan mengalami rasa nano-nano dan memperoleh ragam tantangan yang menggoda kita tuk mundur. (adversity quotient dan emotional quotient tak dapat tegas dipisahkan. Karena mentalitas berakar dari emosi manusia).

•Upaya mengasah kecerdasan intelektual : berpikir kreatif divergen dan visual.

 

56389638_325687251464266_6892596327874529627_n(1)

•Sementara untuk mengasah daya pikir produktifnya, ia tengah melakukan proses divergensi pikiran. Dimana pola produktif manusia dalam mencari penyelesaian masalah adalah menggunakan pintu  What If , yaitu berpikir tentang ragam alternatif terlebih dahulu, sebelum mengkerucut (konvergen) menjadi satu atau dua solusi untuk eksekusi.

Berikut beberapa rangkaian proses Ajo mencoba membuat sesuatu. Ia memilih benda andalannya popsickel stick, kardus, alat tulis dan kertas. Dan tampak si adik mengikuti apa yang dilakukan ajonya. Proses ini baru merupakan perjalanannya persiapan proyeknya dari ide pertama terdekat yang ia temukan berdasar pengalaman sehari-hari terseringnya.

Dan itulah proses melatih ragam kecerdasan dalam satu proses kegiatan. Yang mana secara tahapan, proyek ajo baru di tahap awal yaitu persiapan. Akan belajar bertumbuh bersama apalagi kami esok ?

 

  2 comments for “Project Kado Ultah Ajo Untuk Zelova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: