Yuk, Intip Proses Eksekusi Ide Proyek Kado Ajo !

Day 2 Project Kado

Masuk tahap selanjutnya yaitu proses eksekusi. Seperti harapan yang disampaikan di tulisan sebelumnya :  Mencari Ide Project Kado Zelova Bahwa proyek  ini hanyalah tinggal harapan ambisius tatkala ide tidak ketemu eksekusi dan tidak bertemu hasil, wkwkwk, maka hari kedua ini adalah medan uji dari segala harapan, rencana dan ide tersebut.

Diskusi ringan pun dilakukan,

“Ajo jadi gimana idenya dapat berapa ?” Tanya mamak sambil mengerjakan ketikan ringan.

“Aku dapat 2, membuat slime sama buku catatan cantik” Siva berinisiatif menjawab lebih dahulu.

Tik..tok…tik…tok….”Hmmmm kok ajo lupa ya,,” Ia nyengir saja.

“Ide kamu kemarin bebikinan dari kardus” mamak mengingatkan.

“O iyaaa iya!” Ia bersemangat kembali menjawab.

Sebagaimana mak akui bahwa proses mereka kemarin (utamanya bagi ajo) cukup sulit, coach mamak pun mulai mengambil posisi menjadi partner diskusi. Dalam sebagian besar aktivitas, seperti tergambarkan di proses mengasah kemandirian (juga terdapat di tulisan level kelas bunda sayang sebelumnya), bocah juga dibiarkan tumbuh bibit-bibit inisiatif dalam aksi menyeharinya.

“Ini ide bunda seperti ini, bagaimana menurut kalian? Kita gambar dikertas, gambar Zelo kemudian kita cetak menjadi sebuah mug bergambar Zelo. Boleh ada ajonya, boleh nggak. Boleh juga ada sekawanan kalian seprti Kautsar kita gambar dengan khasnya peci, Dzaka dengan khasnya kemeja dll . Untuk Siva boleh gambar Siva, ajo dan Arsha dan silakan menggambar mobilan ajo kah atau Siva kah dst. ” Jelas mamak memberi masukan.

Sejujurnya emak pun gak sempat banyak eksplorasi ide. Alhasil ide ini lah yang masih layak diujicobakan. Berdasarkan pengalaman mak pabila mengisi seminar offline, maka panitia menyuguhi mug dengan foto banner yang didalamnya terpampang foto narasumbernya, nama event dan sebagainya. Menurut pertimbangan mak, diasosiasikan dengan kado untuk Zelo, sama seperti pengalaman mak, mug tersebut terpakai dalam keseharian, secara bawah sadar mengingatkan mak tuk terus produktif berkarya, (Ohyeyy! wkwkwk). Ya kali, Zelo teri-nsight layaknya mak lamban, tentu bagi Zelo, gambar karya teman baiknya yang menggambar dirinya ini akan membuat dia senang. Iya gak sih ? Kita kalau dibikinkan gambar kartun, komik atau avatar seneng kan yes ? Apalagi mug bisa juga dipajang di meja belajar atau bisa juga dipakai untuk minum sehari-hari.

Dan mug juga memenuhi berbagai syarat tujuan project sebelumnya:

• Dapat digunakan Zelova, anak perempuan 5 tahun

• Ramah Lingkungan plus fungsional :):)

• Mengakomodir kebisaan dan kemampuan ajo. Untuk project ini, kemampuan yang akan digunakan ajo dan anak-anak mamak selaku “induk samang” ( Siva, Calung, Helmi yang hadir) di Rumah literasi Tipar yang merupakan komunitas anak binaan Sains Otak Anak Indonesia, adalah menggambar. Anak-anak yang lebih banyak bermain ‘liar’ yang didominasi gross motor skill seharian ini, sudah mulai mengenal beberapa ranah soft skill,  sudah mulai belajar menggambar dan mewarnai  di bulan April lalu. Project warna april lalu adalah hasil karya dari gambar 6 buah mobilan ajo, yang dicetak sesuai jumlah teman yang akan diberikan aktivitas mewarna. Dan alhamdulillah buah project empati berbalut seni itu menunjukan kemampuan yang padahal hanya diberikan 1-2 sesi itu masih tampak jelas membekas, yang nampak pada keterampilan menggambar anak-anak Rumah Literasi Tipar yang kian meningkat.

Anak-anak yang jarang terpapar aktivitas seni baik di rumah maupun di sekolah itu pun, sangat antusias dan senang sekali. WOW ya!*selebrasi loncat-loncat*

Berawal dari sebuah langkah teramat kecil, dilakukan oleh anak-anak untuk anak-anak (teman-temannya). Subhanallah, kedepan proyek ini dapat dilanjutkan ajo untuk area-area yang kurang terjamah/membutuhkan wadah seni bagi anak usia dini. Karena aktivitas ini benar-benar menginspirasi anak-anak SD sekitaran yang notabene belum tahu bahwa ada buku mewarnai, bahwa mereka bisa menggambar ! Gak nyangka ya!

• Anggaran yang tidak berlebihan, dapat dijangkau.

• Melibatkan proses kreatif, proses persiapan hingga karya.

• Pemberian berelasi dengan sang penerima kado. Tak hanya mengakomodir kebisaan personal ajo, Zelo pun berkemungkinan akan senang karena ada gambar dirinya di gelas yang diberikan (pede dulu lah yang penting wkwkwkw). Sebagai “klien” yang dibuatkan gambar dan karya, sejujurnya data tentang zelo amat minim, dan kami gak melakukan riset lapangan yang benar hahaha parah. Tapi ternyata dari foto Zelo, aktivitas Zelo yang kami peroleh dari dalam grup orang tua, diperolehlah data tentang gaya Zelo, kesukaan Zelo dsb, dan jadilah gambar ajo seperti ini :

Hahaha… Lucu kan ?

Bagimana teman-teman cakep, apa ada yang terwakili dari gambar ini ya ? Setidaknya adalah ya…Tampak Zelo dengan gaya rambutnya, pakaian bergambar bunga dan diri ajo sendiri dengan ciri khas personal mobilannya. Enuff lah buat seorang anak 5 tahun, ckckckck.

Bagaimana Proses Eksekusi Berlangsung ?

Onde mande, tusdei wenesdei… Ternyata proses ini cukup mengayak emosi jiwanya. Ia mesti menghadapi perasaan “Ajo gak bisa gambar rambut Zelova, Bund!” Sambil menampakan raut wajah hampir putus asa. Rambut Zelova yang sedikit keriting sebahu sebetulnya amat mudah digambar, bahkan bagi orang yang (merasa) tak bisa menggambar. Karena gambar rambut berombak, keriting hanya perlu membuat satu line yang tidak lurus atau berkelok-kelok. Ya benar! Itu untuk yang sering menggambar. Tapi untuk anak? Tentu aktivitas ini belum masuk dalam pengalaman hidup mereka. Jaras saraf -saraf motorik halus untuk menggambar belum terpatri di otak mereka. Mereka baru pertama kali belajar menggambar berbagai pola, ada yang dapat mereka tiru sendiri dan ada yang benar-benar harus diperkenalkan proses membuatnya terlebih dahulu. Bahkan tersering, mak temukan kerancuan di fase kreatif. Justru anak-anak tidak mengenal seni yang diawali sebagai sebagai proses kreatif, ekspresi menuang imaji, ide-ide, perasaan dan sebagainya. Komplit meniru gambar stereotipe yang sudah-sudah. Semisal pemandangan dengan 2 gunung berundak, matahari di tengahnya dan jalan dan sawah membentang dihadapannya. Gambar masa lalu berpuluh tahun itu masih menjadi primadona anak-anak SD kekinian!

Kembali ke emosi si kecil saat proses berkarya. Entah karena harapan yang berubah menjadi self pressure di dalam dirinya. Atau karena ia ingin membuat gambar bagus, atau karena memang murni ia belum pengalaman menggambar rambut kriwil, atau memang diakibatkan keduanya, ajo pun bolak-balik ke meja kerja mamak (begitu pula anak-anak lainnya Arsha dan Siva yang sibuk menunjukkan hasil karyanya, wkwkwkw), mereka butuh keterlibatan mak lamban disitu, duduk full mengamati dan membantu kesulitan mereka, sekedar mengapresiasi kalau gambar yang mereka hasilkan sangat bagus. Yes! itulah yang biasa mereka dapati di berbagai sesi. Namun emak dengan kesibukannya hari ini, belum dapat duduk hadir penuh disekitaran mereka.

“Ajo gak bisa bund gambar rambut Zelo” Ia mendapati dirinya mulai geregetan dan kewalahan.

“Begini caranya bunda tunjukan. Nih cuma sperti ini kok Jo, Zelo kan ada poninya sedikit….” sambil memegang sebuah pensil menggambar diatas kertas lebarnya.

“Gambar bunda bagus, ajo gak bisa, ajo gak mau pakai poni gambar Zelonya.” Balasnya. Ini pernah saya alami, tatkala memberikan contoh, justru si anak merasa kurang percaya diri dan mulai membandingkan gambarnya dengan mamaknya yang sudah sekelas Leonardo Da vinci, *puk* (bunyi sebuah batu mendarat di dahi!)

“Ajo bisa sama seperti sebelumnya, bunda lihat sendiri gambar ajo bagus-bagus dan memang ajo belajar banget waktu itu. Kalau poni, Zelo kan memang ponian. Kalau kita menggambar orang lain, kita bukan hanya berdasar selera kita, mau dia begini begitu. Kita lihat yuk foto Zelo.” Mulai membuka grup dan mencari foto Zelo di dalamnya.

“Yaudah, gimana kalau bunda yang gambarin rambut Zelo, ajo yang gambar kepala sama badannya sampai kaki ?” Si bujang kecik ini sudah jago nego-nego-an sama emak. Berhubung waktu sudah mendekat waktu naik cetak, akhirnya proses itu mak setujui.

Well Done. Gambar selesai. Ajo membubuhi berbagai ciri khas gender pada gambarnya. Ampun para aktivis gender, ini bukan hasil doktrin rekayasa saia, ini hasil pengamatan anak sendiri mengamati pola lahiriah ketertarikan dominan anak perempuan maupun gambaran sosial di sekitar mereka, kikikik. Ajo juga membubuhi kekhasan masing-masing dengan membubuhi tulisan Birthday sesuai konteks acara yang tertulis di undangan, Margonda-Depok yang kemudian dipertanyakan bapaknya kenapa ada tulisan Margonda-Depok wkwkwk, secara bapake mungkin lupa, kalau bocah emang gitu amat sama nama tempat dan  jalanan.

Pada sesi menggambar berjama’ah mamak pun sadari, banyak kemajuan yang dimiliki anak-anak dalam berekspresi diatas kertas ini. Bahkan bagi Calung yang anak alam bebas banget yang jarang duduk manis beraktivitas seni visual. Begitupula adik, adik memberi bunda kejutan kalau kini ia sudah pandai menggmbar bentuk kepala, mata, mulut dan sebagainya. Adik dengan percaya diri menceritakan gambar yang ia buat, yang sebelumnya ia selalu bilang ia tak bisa, dengan membandingkan dirinya ke kakak-kakak yang jauh lebih tua darinya. Alhamdulillah ya Dik, bener kan bunda, adik bisa kaannnn? 🙂

Menggambar untu project Mug

Anak-anak menggambar untuk Project Mug/kado

Proses Naik Cetak

Sore harinya, ajo dan bunda janjian bertemu ayah di percetakan. Ajo baru pertama kali mencetak hasil karyanya di media berbeda, yaitu keramik. Dan ia pun dilibatkan dalam prosesnya.

P_20190614_182303_vHDR_Auto

Proses Editing Gambar, Ajo bersama Ayah

Ia mulai mengamati proses editing dan sesekali ikut ‘mengatur-ngatur’ sang editor, seperti ayah yang memberi instruksi agar tulisan di pindah ke tengah, memilih nama font dan sebagainya.

“Ini gimana ya kalau Birthday-nya dipindah kebawah ? Di bawah tulisan Margonda-Depok ? Kalau coretannya dihilangkan bagaimana ?” Tanya ayah berdiskusi saat masuk proses editing.

“Ayah, itu karya anak-anak, itulah mereka (anak-anak), sebagian besar kita pertahankan apa adanya.” Mamak berkata ringan menyampaikan pada ayah.

Ayah pun menangkap jelas maksud mamak. Ayah menyudahi proses editing tulisan yang mungkin menautkan ingatannya ke jalur trayek angkot Margonda-Depok itu, wkwkwk.

Dan Taraaaaaa duar duar der, jadilah gambar KHAS karya anak-anak seperti ini :

P_20190615_060129_vHDR_Auto

Mug dengan gambar karya anak-anak siap dibungkus dan digunakan 🙂

Apresiasi Terhadap Proses Dibalik Sebuah Karya

Masyaallah! Ternyata alur sebuah proses suatu produk itu ke meja kita, untuk sekedar kita amati, pilih-pilih mana yang secara emosi kita sukai itu puanjanggg banget ya! Ya. Itulah sebetulnya dibalik project yang gak jadi sekedar harapan ambisius ini *LOL*.

Tak hanya pujian yang diberikan, namun juga saran-saran yang membangun sikap kritis mereka sendiri terhadap proses dan hasil karya mereka. Agar jangan menjadi pribadi yang teramat segera berpuas diri.

Sebagai tahap akhir dari setiap project yang kami lakukan, biasanya mamak akan mulai mengajak anak-anak masuk ke sesi apresiasi dan evaluasi. Dalam proses A E I (Apresiasi, evaluasi dan inovasi-improvisasi ) ini, khusus bagi anak-anak sampai di A E saja, kalaupun mereka menunjukan ciri tahap modifikasi-improvisasi ya kita syukuri, tapi budaya yang menjadi sasaran setidaknya terbangun pada diri mereka mentalitas apresiatif, dan evaluatif untuk usia mereka. Harapan kami sekeluarga belajar nilai-nilai sebagai berikut :

  • Menghargai karya. Dimulai dari karya ciptaan sang Kreator sejati, Maha karya dan Maha pekarya. Allah yang mencipta, sehingga mereka benar-benar memahami karena menyelami proses ‘penciptaan’ itu sendiri. Mengerti bagaimana seorang creator akan tidak senang apabila hasil ciptanya digunakan tidak pada tempatnya, ciptaannya diubah-ubah sedemikian hingga jauh sekali dari tujuan suatu produk di cipta. Di sini juga mereka mengenal proses editing, mengenal mana proses editing yang diperbolehkan dan mana yang tidak.  Karena semua itu kembali kepada sang pencipta suatu karya. Disini secara perlahan dalam diskusi yang sesuai dengan usia mereka, insyaallah mereka dapat jauh lebih memahami apa itu sebuah proses mencipta. Apa itu asma Allah sang Khaliq, bagaimana posisi Allah selaku pencipta dan kita selaku ciptaan dan pengampu amanah ciptaan lainnya bersikap semestinya. Proses membenamkan nilai-nilai karakter asma al husna dalam pembelajaran keseharian ini, lebih efektif dari sekedar menghafalkan nama-nama-Nya. Wallahu’alam.

 

  • Merefleksikan emosi masing-masing selama berproses. Bagaimana kendali kami terhadap emosi saat buntu mencari ide, bagaimana perasaan kami saat memilih menghargai atau menolak opini orang lain dan memikirkannya, bagaimana perasaan kami apabila mengalami kesulitan dsb  . Bagaimana bunda mengapresiasi ke-pantang menyerahan, bagaimana ayah menghormati karya asli dengan tidak banyak melakukan proses editing dan mempertahankan orisinalitas dan ciri khas (keunikan). Dan bagaimana anak-anak kelak berempati dan lebih bertanggung jawab terhadap karya mereka. Tentu ini bukan proses instan, tapi yang dibangun bata-batanya hingga kelak menjadi sebuah dinding yang kokoh.

 

  • Menikmati, bertanggung jawab dan mensyukuri keterampilan baru. Dari pengalaman ini kami belajar, bahwa tiap keterampilan akan dimintai pertaggung jawabannya. Apakah akan kami bawa ke muara manfaat atau sebaliknya menjadi laknat bagi pemiliknya. Apakah kami akan berempati dan menyelesaikan permasalahan sosial dari keterampilan ini atau justru sibuk menikmati hasil keterampilan itu untuk diri sendiri atau keluarga sendiri.

 

  • Melanjutkan proses kreatif divergensi ide menuju kerucutnya sebuah solusi akhir (konvergensi). Mengasah skill menggambar, menuang ekspresi kedalam visual dll.

 

  • Bagaimana proses teamwork keluarga kami. Apakah sudah saling bahu-membahu, yang tua mengayom, mengajari dan memperhatikan kekhasan yang kecil dan sebalinya yang kecil mau menghormati yang lebih pengalaman dsb.

Alhamdulillah sangat banyak dalam 2 hari ini  (seminggu terhitung proses mengetahui undangan dan awal project kado ) yang kami pelajari hari demi hari. Terlingkup secara apik dalam suatu proses berhari ini pengasahan multiple intellegencies, sekaligus 3 intelegensi utama IQ,EQ dan SQ. Namun itu kan kata mamak? Apakah mereka benar-benar menyerap semua proses ini sesuai harapan ? (Yuk mari kita lihat proses AEI maupun dampaknya di hari-hari berikutnya :))

Refleksi Project Kado Zelova

This is always be the best part of journal. 🙂

Pelajaran yang kami dapat, baik dan buruk dari suatu proses adalah kebaikan. Sulit, mudah, lapang dan sempit, semuanya bagian dari sebuah proses. Dan saya selaku emak-emak yang duduk di pojokan menatap langsung pertumbuhan dan perkembangan mereka, sembari sibuk belajar bertumbuh sendiri, teramat sangat mensyukuri tiap momen yang menguak potensi yang Allah berikan kepada karya cipta-Nya. Ya salah satu yang menjadi pengamatan utama adalah anak manusia. Mereka itu masing-masing memiliki keunikan. Potensi kebaikan maupun keburukan. Dan pendidikan kita lah yang turut berperanan dalam ‘menggembalakan’ potensi itu.

Memikirkan mengapa Nabi maupun sahabatnya Umar Bin Khattab menggembala dan banyak belajar dari proses gembala. Bahkan para nabi sebelum nabi Muhammad pun banyak menggembalakan ternak untuk kegunaannya bagi manusia secara arif. Dalam proses menggembalakan ternak, sangat dapat terlihat proses ‘mengawal’, ‘menggiring’, ‘membiarkan’, ‘melindungi’, dan melihat potensi mahluk ciptaan Allah, setiap gembalaan memiliki sifat khas yang tak dimiliki gembala lainnya. 

Saya tatap lekat-lekat hasil karya anak-anak. Dan melambung jauhlah perasaan dan pikiran saya. Akan jadi apa kalian semua kelak ? Mampukah saya selaku pengawal mewujudkan visi dan cita-cita dalam keseharian ini, mengantar kalian sesuai potensi penciptaan kalian?

Dan terkhusus untuk ‘anak-anak di luar nikah’ mamak, dapatkah saya terus menjadi sosok “bunda” bagi mereka? Bunda yang menjadi tempat mereka melaporkan aktivitas perundungan yang mereka alami maupun lakukan? Tempat curahan segala aktivitas anak-anak di luar sana yang di usia belia sudah mengenal atribut-atribut seksualitas tanpa pendidikan iman-akhlaq-moral dan seksualitas yang mumpuni . Bunda yang menegur mereka. Bunda yang membawa sekawanan anak ini membuat gaduh di perpustakaan kota. Bunda supir yang terus mengatakan “duduk aman !”saat mereka berada di dalam kendaraan berjalan. Bunda yang terus bawel menyuruh ingatan mereka memanggil kembali doa-doa makan, perjalanan, sebelum belajar dll. Bahkan bunda yang memarahi mereka saat menyolong jambu dan tetap mereka taati dan cintai Hahaha. Masih ingatkah mereka kelak pada Bundanya Ajo?

 

Tersenyum sekaligus ridha…Semoga Allah ridha, semoga Tuhan merahmati…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: