Merajut Kesalihan Sosial di Usia Dini Melalui Momen Halal Bi Halal

Perisapan Halal Bi Halal Keluarga Besar

waktu terakhir adalah deret momen yang sangat menyibukan kami dalam tema bersosialisasi. Anak-anak pun mau tidak mau ya ikut menyelami apa yang dijalani keluarga. Dan momen ini tentunya gak akan dilewatkan. Seperti yang sudah-sudah, demi mendidik anak, mamaknya dulu dong yang menunjukan ke- t-e-l-a-d-a-n-a-n. Saya meyakini, dari ibu yang aktif dan berinisiatif, akan tumbuh jiwa-jiwa kecil nan aktif dan inisiatif. *Amiin kenceng-kenceng*!

Dan untuk sebuah inisiatif dan keaktifan, mamak pun tanpa diminta, bersedia membantu kakak sepupu yang dituakan untuk mempersiapkan halal bi halal keluarga.

Dari mulai turut menjadi panitia persiapan, pun masih kecil, anak-anak sudah dilibatkan. Ajo yang sebetulnya ikut ayah-bunda karena ia perlu mencetak gambar untuk kadonya, ia juga jadi ikut mempersiapkan acara halal-bi halal.

Membeli Buah Di Pasar Induk

Karena kebutuhan buahnya banyak, kami memutuskan untuk mampir di Pasar Induk. Ini adalah pengalaman pertama ajo mengunjungi pasar induk. Tak dinyana, ia begitu menikmati berada di dalam pasar induk. Ia rayapkan pandangannya ke sekitar, tampak bola matanya berputar-putar takjub dengan aura Pasar Induk, yang berbeda dibanding pasar-pasar tradisional yang biasa ia kunjungi. Apa saja yang dilakukan buyung kicik di emaknya pasar ini?

WhatsApp Image 2019-06-16 at 22.32.23

Ajo Berbelanja dengan Ayah dan Bunda di Pasar Induk

  • Memperhatikan bagaimana proses membeli buah dalam partai besar. Ia menyaksikan peti-peti dan karung-karung bersusun-susun. Dan mulai menunjuk-nunjuk “Bund itu buah naga yang pernah ada di rumah ya.”
  • Menjadi si ‘tester‘ aka tukang icip. “Jo, cobain ini Jo.” Bunda menyodorkan jeruk yag diminta ayah untuk dicicipi. Memberikannya ke ajo dengan maksud sebagai skrining anyar. Mengingat kalau anak-anak saja sudah dohyannn, dapat dipastikan jeruk itu layak dimakan semua orang. 😀
  • Melihat bagian-bagian Truk yang sedang Bongkar Muatan. Berulang kali ia bolak-balik menuju truk yang sedang bongkar muatan. Ia menyaksikan kuli-kuli panggul bekerja sama dengan serius dan mereka bersahut-sahut dengan suara-suara keras. Ia juga kerap ditegur para pengawas karena berdiri di jalur lalu lalang muatan. Bunda yang memperhatikan dari jarak sedikit jauh, tidak buru-buru menghampirinya. Bunda biarkan ia bereaksi sendiri setelah diperingatkan. Setelah diperingatkan, ternyata ia menyingkir, tak lama tanpa ia sadar ia kembali lagi dan berdiri hampir mendekati jalur muatan yang sama. :D. Dari ketertarikannya yang sangat natural itu, sebetulnya bundanya ini paham, kalau ia sedang berbinar melihat badan truk beserta bak super besarnya. Dengan teliti ia juga menyampaikan perbedaan plat nomor truk dengan plat yang ada di Jabodetabek seperti B dan F.

“Ayah, platnya KB!” Serunya pada ayah.

“Iya, itu truk dari Kalimantan Barat artinya Jo, ajo pernah disana waktu kecil, itu dia bawa jeruk Pontianak.” Jawab ayah tak kalah antusias menjelaskan.

  • Berjalan di suasana becek, berbau dan bising. Di suasana yang kian bising ini, ia tampak menemukan “spot-spot pencuri perhatian”. Ia melihat kucing dan menghitung berapa kucing ia temukan, ia juga menghitung jumlah roda truk besar yang total jumlahnya 6 buah. Ia juga mencoba menaiki dan mendorong kereta dorong muatan yang dibuat dari kayu dan roda ala kadarnya oleh para pedagang.

“Jo, bisa bikin mobilan kaya gini nih” seru mamak mengetahui ketertarikannya.

Sejujurnya mak tauuu banget, doi itu kepengen menaiki bak besar truk itu, Hahaha. Tapi apalah daya, itu berbahaya disaat orang sedang bongkar muat. Kecuali kamu lagi ada project atau mungkin lagi ulang taun yes Nak, mamak tinggal minta izin kepada kepala pengawas untuk minta waktu 2 menit si bocah nyicipin naik truk dan pepotoan. HAHAHA.

Dari kesemua proses yang ia jalani dengan indra-indra yang saling berasosiasi memproses informasi baru dan memanggil memori lama, ia secara sadar maupun bawah sadar sedang mengasah berbagai kecerdasan, diantaranya visuo-spasial, matematika-logis, bahkan naturalis. Secara kognitif ia juga tak hanya melihat jeruk yang ternyata memiliki asal yang berbeda-beda dan menggunakan sensor taste buds nya dengan mencicipi. Ia lakukan semua menyelam dalam aksi aktivitas harian. Dalam aktivitas di pasar, ia juga banyak ‘menahan diri’, sehingga ini juga melatih mentalitasnya agar tidak mudah jijikan, atau enggan ke tempat-tempat yang tidak ’emol’ seperti ini.

Kenapa sih, mak lamban menyertakan tipe-tipe kecerdasan Multiple Intellegencenya Gardner sih? Bagi yang sudah kerap membaca tulisan, postingan instagram, ig stories mak lamban, akan sedikit bingung kok banyak kali emak ini me-relate ke Gardner, wkwkwkw. Padahal selama ini termasuk yang meluruskan kesalah-kaprahan penggunaan Teori Gardner di masyarakat Indonesia. Kenapa hayo ?

Karena sekali menulis jurnal, nyetor tugas wkwkwkw. Hari gini nyelem buat hobi dan menikmati dunia bawah laut, bukan lagi minum air? ;p. Jadi, tulisan ini juga diperuntukan dalam tantangan kelas bunda sayang. Dan penggunaan teori Gardner seperti ini, masih dalam batas normal kalau istilah dokter mah :D. Kecuali mematok anak kita bergaya belajar tertentu berdasarkan teori ini. You’ll get lost, people! Try me :). Untuk lebih jelasnya, mak mesti menulis setidaknya 5 halaman atau mengadakan workshop setidaknya 3 jam wkwkwk. *kidding*  Hmmm tulisan yang meluruskan salah kaprah boljug tuh 7 lembar. Jiah tambah panjang! 😀 😀

Menghadiri Halal Bi Halal

Apa saja pembelajaran yang dapat diperoleh anak saat Halal bi Halal ?

  1. Menjaga Komitmen. Saat hadir di Halal Bi Halal, ajo tampak menjalankan komitmennya, untuk bersikap sopan dan bersalaman dengan keluarga besar. Ayah dan bunda bersepakat anak diajarkan salim kepada yang lebih tua. Bukan lantaran tidak menghormati ‘hak’ anak yang mungkin enggan bersalaman. Namun dalam rangka mendidik mereka budaya dan kearifan lokal adab dalam keluarga yang kami anggap positif. Apabila memang anak-anak sedang enggan bersalaman, mereka tidka dipaksa, pun memang disaat berbeda akan ditanya. Sikap toleran yang sama juga kami upayakan kepada anak yang lain, apabila anak-anak tidak mau salim itu wajar tak mengapa. Yang utama mereka belajar mengenal dan biarkan mereka berproses, karena anak-anak ada yang merasa belum nyaman dengan orang yang masih dianggap asing. 🙂
  2. Momen Interaksi Sosial Vertikal (Lintas Usia). Dimana sih kita bisa mendapatkan pembelajaran sosialisasi yang amat kaya gak melulu peer to peer bagi anak-anak? Ya tentu satu yang terbaik adalah di momen menghadiri acara keluarga besar seperti Halal bi halal ini. Anak-anak akan berinteraksi dari kalangan lintas usia, tua, muda, sangat kecil dan sebagainya. Disini kita bisa melihat sudah sejauh mana pengendalian diri anak-anak dalam mengendalikan emosi dan etika mereka selama acara, yang sebetulnya masih masuk dalam kecerdasan emosi. Benar-benar bisa mengasah dan mengevaluasi kecerdasan interpersonal anak. Yang contohnya seperti ini dari 2 anak yang berbeda usia dan jenis kelamin ini :

Adik cukup mengesankan saat berada dalam kerumunan. Ia mau melebur, mau bermain bersama kakak-kaka lebih tua yang tak dikenalnya. Karena ia paling kecil dan sedikit menggemaskan, ia menjadi “mainan” dan jadi “pusat perhatian” kakak-kakak sepupunya. Adik berinisiatif bersalaman sebelum diiminta. Ia juga sepanjang hari bersabar tidak menangis dan mengungkapkan kekesalan secara agresif. Sama halnya dengan ajo yang tidak menyangka ia diberikan mamak gawai untuk main game. Sebuah momen langka selama ia menjadi balita wkwkwkwk. Diam-diam bunda memperhatikan dan menyimpulkan, bahwa bagi anak laki-laki ini, memegang mobilan, lego ataupun gawai adalah ‘sesuatu’ yang menurutnya menajdi ‘trigger’ khusus bak kode diantara anak-anak laki-laki. Benar saja, benda-benda tersebut seperti pembuka pintu sosialisasi diantara mereka. Tetiba kita akan melihat anak-anak laki-laki ini duduk bersama, membahas, berbagi cara bermain satu dengan lainnya. Yang bunda syukuri lagi, ajo bergantian dengan saudara-saudaranya dna ia mengenal lebih banyak saudara justru pada permainan yang dianggap memicu permainan soliter non sosial ini. Seee? don’t judge children games anymore yes, Mak ? :p

WhatsApp Image 2019-06-15 at 16.42.02

Halal bi Halal Keluarga Besar

Berbagi Makanan Dengan Memanjat Pagar 😀

Kami memiliki jumlah buah salak yang masih cukup banyak. Walhasil mamak, memintanya membagikan buah salak ke tetangga.

“Jo, berikan buah salak ini ke pakdhe di bengkel ya, yang sebungkus tadi sudah bunda berikan ke Calung.” Pinta bunda saat ia tengah asyik bermain lego.

“Siap komandan” Serunya.

Karena pintu pagar tergembok depan-belakang, hasil kebiasaan ayah yang selalu bertanggung jawab, khawatir seluruh penghuni rumah tertidur siang. 😀

Alhasil mamak memberikannya “KELOWONGAN” untuk memanjat pagar. FYI, memanjat pagar tanpa izin alias ngabur itu dilarang di rumah. Tapi kali ini pengecualian. Mamak bahkan menjadi partner in crime bocah wwkwkwkw. Mak biarkan ia memanjat pagar, yang sebelumnya pernah ia panjat untuk ngabur main.

Terdengar sayup saat ia memberikan sebungkus buah ke pakdhe di bengkel :

“Pak Dhe, ini buat pak dhe!” Serunya singkat.

“Terima kasih ya, bilang sama bapak sama mama.” Pak Dhe berterima kasih.

Evaluasi Halal-Bi Halal

Sebagai bentuk memaknai setiap pengalaman hidup yang menjadi inti kecerdasan spiritual, mamak berencana mengobrol ringan pengalaman kami mempersiapkan acara hingga menghadiri acara tersebut. Kemudian membahas bagaimana sih proses terbentuknya keluarga sebesar itu secara ringan melalui :

  • Pohon keluarga
  • Sesi Iqra : Ayat quran tentang silaturahim, mengapa manusia berkeluarga dan faedah berkeluarga.

Ditunggu sesi berikutnya ya…. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: