Ajo Menari “Gundul Pacul”

Yang Menakjubkan dari Dunia Tari

Sains gerakan tubuh, bahasa tubuh dan Sinkronisasi Otak ?

Sebetulnya ada yang patut kita syukuri di era ini, bahwa seni tari, seni gerak tubuh, seni bela diri dan semua yang menggunakan kemampuan kinestetik manusia kini lebih banyak diteliti lebih dalam manfaatnya. Tapi yang juga patut diterima, ilmuwan juga masih dalam taraf “menduga” kenapa sih kok gerak tubuh atau tarian itu begitu berpengaruh pada manusia? Sebagain dari kita, menonton gerakannya saja sudah sangat terpengaruh. Semisal menjadi lebih senang, tiba-tiba ikut bergerak dan sebagainya. Nah, dugaan ini akhirnya dialamatkan pada keterlibatan musik, gerakan dan otak manusia. Proses yang dihasilkan oleh keterlibatan area fisik, psikis ini adalah Proses sinkronisai otak.

Musik sendiri menstimulasi orbitofrontal cortex, yang terletak di belakang bola mata dekat regio otak tengah yang disebut ventral striatum. Semakin banyak area yang aktif di area ini, maka pengaruh nada semakin memikat didengar telinga. Dan terakhir, musik mengaktivasi cerebellum, yang berpengaruh pada koordinasi irama dengan gerakan.

Kalau kamu pernah baca atau ikut kajian yang melarang musik, utamanya untuk kalangan tertentu seperti penghafal Quran, itu bisa banget dijelaskan menggunakan pendekatan penelusuran melalui area-area terlibat itu. Namun sebetulnya, beberapa bagian penting juga yang perlu di telusur dan dikaji lagi, pengaruh musik ini dianggap akan akan menganggu hafalan atau akan memberi pengaruh ke area moral dan pengambil keputusan? Karena orbitoprefrontal sangat berperanan pada proses menimbang keputsan.

Karena ini berkait dengan ranah agama yang merupakan zona yang akan banyak menimbulkan perbedaan pendapat dan kalau disalah maknai, tentu gak sedikit dampaknya. Sehingga perlu penjelasan jernih dan panjang lebar terkhusus ini dan perlu penguatan kajian panjang terkait, agar tidak salah penyampaian. Jadi mak lamban putus disini ya. :D. Kamu bisa baca-baca John Krauker, neurologist dansa dan tinjauan saintifik.Kalau mau penjelasan lebih lanjut tentang tarian dan mengapa berpengaruh untuk manusia. Tapi kalau kamu ogah baca artkel-artikel begituan, apalagi dalam bahasa mamarika, doakan saja mak dapat meriview berbagai penelitian terkait dan menambahkannya disini. :p

Tari Gundul Pacul

Sudah sebulan lebih ajo dan teman-temannya berlatih tari Gundhul Pacul. Tarian ini akan mereka peragakan dalam suatu event akbar wisuda para siswa salah satu Sekolah.

Sepengetahuan emaknya, tari tidak terlalu menarik minatnya secara intrinsik. Untuk itu, dalam hal ini yang lebih saya amati adalah bagaimana ia mengenal tarian Indonesia (mengenal kearifan lokal, budaya bangsa), bagaimana ia melalui proses demi proses latihan dan proses tampil (ketahan mental, karakter kepercayaan diri dan regulasi emosi), bagaimana ia melakukannya (anak belajar praktik sebelum kognitif/tari adalah proses learning by doing), dan mamak sendiri belajar lebih jauh tentang mengapa manusia di belahan bumi manapun memiliki tarian sebagai sarana komunikasi melalui gerak tubuh.

Dan bagaimana proses diatas teralisasi ?

  1. Bagaimana ia mengenal tarian tradisional. (Sejarah singkat dan asala daerah dulu deh). Awalnya mamak kira ini akan kaya sesi kognitif banget. OMG ternyata, mamak malah mendayu-dayu terseponah. Ini bisa banget dibahas ringan tapi “nyess” ke hati. Gundul Pacul ini filosofinya subhanallah, aduh Sunan Kalijaga (masih diduga dicipta Sunan Kalijaga atau R.c Hardjosubroto ), kalau bikin lagu dan irama itu luar biasa. Sebagai pengagum sebagian kecil karya-karya beliau, mak klepek-klepek lah sama majas yang ternyata mengandung makna kaya dan dalam di lirik lagunya. Mungkin ini justru untuk dewasa yang sudah benar-benar bisa mengolah pemikiran abstrak dan tersirat, tapi jujur sayang banget kalau tidak diceritakan dengan bahasa anak sendiri. Perkara dia memahaminya sebatas apanya, itu akan berproses seiring mendewasa. Tapi bagaimana upaya kita menginspirasi, menyelipkan makna dalam lantunan yang di dengar anak, itu upaya yang baik! Seperti ilir-ilir lagu yang juga dicipta Sunan Kalijaga, ajo dan adik sudah dibilang kangen terus menyanyikannya. Tak dinyana teman-teman Rumah Literasi Tipar juga sama berminatnya! Kelak kalau mereka paham maknanya, semoga mereka tersentuh dan mengambil ibrohnya.-terkait proses ini mak lamban, seperti biasa begitu lamban…lamban mewek sendiri dan lamban meresapi, semoga gak lamban bercerita.
  2. Dalam proses persiapan, Ajo sempat mengajarkan adik dan kak Siva tarian ini melalui gerakan di Youtube.
  3. Bagaimana ia latihan dan tampil ? Well, dia gak banyak ngeluh, asik-asik aja, dan saat gladi resik, momen pertama mamak nengok tariannya, mak gak nyangka sih, kirain dia bakal kaku-kaku kagok bak robot legonya itu, hahaha.
  4. Bagaimana ia melakukan, juga terjawab di poin 3 yes.
  5. Dan nomor 5 juga terbersit di no 1, emak masih lamban mencerna dan belajar filosofinya.

Gimana Cerita Persiapan Hingga Penampilan Ajo ?

Pagi harinya, ayah, bunda, Arsha dan kak Siva mengantar ajo gladi resik. Ajo berbaris paling depan dan paling pojok. Kami mendokumentasikannya di depan saat ajo melakukan gerakan akhir di momen gladi resik. Tampak ia santai sekali mengayunkan tangan, menggeser tubuhnya ke kanan dan ke kiri.

Pada malam harinya, ajo Fiqar telah di-briefing agar esok pagi mudah dibangunkan, kemudian langsung mandi, sarapan dan langsung mengenakan pakaian tradisional. Pun sulit memejamkan mata, akhirnya ia tertidur juga.

Hari H 

Ajo bangun pagi dan langsung mandi diikuti sarapan seadanya. 2 botjah cilik ini habis mengalami keracunan akut ringan makanan yang diikuti muntah-muntah dan hilang nafsu makan. Pada adik, gejalanya ditambah diare ringan.

Setelahnya bunda dan ayah bergantian mandi dan bunda membantu ajo mengenakan pakaian tradisionalnya. Untuk berpakaian memang ajo sudah konsisten melakukannya sendiri, namun khusus baju tradisional ini, plus rompi dan ikat kepalanya ia belum berpengalaman.

“Ayah gak ke kantor ?” Tanyanya saat saya membantunya berpakaian.

“Ayah ngantar ajo dulu, mau lihat penampilan ajo baru ke kantor.” jawab saya.

“Wow semuanya ikut ke Balai Komando nih, wuihh” ia ekspresikan rasa bahagianya bahwa keluarganya hadir mendukungnya.

Setiba di Bali Komando, ajo langsung disambut Ibu Nayla, bu Nayla juga mengantar ayah dan bund ake kursi duduk orang tua penampil.

WhatsApp Image 2019-06-18 at 21.46.10

ajo dkk selepas pementasan tari

 

Dan terakhir, saat penampilannya selesai, mamak peluk dia, berikan ruang untuknya bersama teman-teman tarinya dan gurunya.

Dari kisah diatas, sudah pastilah ya….kecerdasan kinestetik awalnya, namun kita juga dapatmelihat dari prosesnya dari awal hingga akhir juga menstimulasi ragam kecerdasan lainnya, seperti musik, spiritual, adversity quotient dll.

*gambar dan video menyusul ya, magerrrrr kini mau pindah-pindahin 😀

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: