“Bund, Mengapa Sih Kita Harus Terus-terusan berbuat Baik ?”

Sebuah Pertanyaan Malam : “Mengapa Kita Harus Terus-terusan Berbuat Baik ?”

Selepas menggosok giginya malam ini, ajo menghampiri mamak yang masih kelabakan dengan tengat waktu artikel, ia duduk disamping mamak diatas sofa kuning yang telah lama setia menghiasi ruang tamu itu.

“Bund, ajo boleh nanya sesuatu gak ?” Tanyanya dengan suara yang lumayan lembut dibanding biasanya.

“Hmmm, boleh nak, mau tanya apa? Duduk disebelah bunda sini.” Sambil mengetuk-ngetukan tangan di sofa sebelah mamak.

“Bund, kenapa sih kita harus terus-terusan berbuat baik?” Tanyanya lugas.

Jebret! Habis gosok gigi nanyanya beginian? Gak salah nih? Saya tak buru-buru bereaksi terhadap pertanyaannya. Tapi seketika saya menutup layar laptop. Sudah, ini jauh lebih penting dan menarik dibanding menjentikan jari diatas tuts-tuts keyboard sambil berdebar yang setengah-setengah menyelesaikan artikel yang mendekati date line.

Saya pandang wajahnya lekat-lekat. “Jo, pertanyaan ajo itu bagus sekali…oh tidak-tidak, kata bagus kurang mewakili, Jo, pertanyaan ajo itu boleh jujur bunda ya?” saya mulai keki dan bertanya kembali.

“Boleh” menganggukan kepalanya.

“Jujur pertanyaan ajo itu sangat bagus” Suara gagal saya yang keluar akibat tak menemukan frasa lain lagi. buntu. *keringet di dahi*

Ajo masih santai menunggu jawaban.

“Hmmm, begini ya jo….(lebih mengeraskan suara kemudian) did you hear that?” Suara saya lebih menggelora, dikarenakan menanyakan seorang pria disebaik dinding yang sedang sibuk apa di dalam kamar di tengah malam. Entah apa yang menyibukan bapak dan anak perempuannya itu, :p

“Gak, gak dengar..apaan?” Seru si bapak dari dalam kamar.

“Jo, boleh ayah juga ikut menjawab ?” Tanya saya .

“Boleh, yuk kita ngomomgnya di kamar aja” Jawab ajo mengajak maknya pindah. Seketika saya merasa siapa yang anak siapa yang emak ini. Duh nak, kamu sudah tambah gede ya…..

Kami pun menuju kamar yang hanya berjarak beberapa langkah itu. Saya kembali memeriksa pertanyaan anak ini, karena kan seringnya kita terlalu mencernanya dengan kepala dewasa, padahal anak cuma ingin dijawab saja, wkwkwkwk.

“Jo, kenapa nanya itu?” Tanya saya mengkonfirmasi.

“Ajo ingin tahu kenapa ajo harus berbuat baik, gitu bund.” o…. Whattt….


 

Di Dalam Kamar

Kami berkumpul berempat. Keluarga kecil ini akhirnya telah bersatu bahagia bersama selamanya. The End. *Gubrak* gak gitu kelanjutannya! Wkwkwkwk.

“Ayah, tadi ajo bertanya mengapa kita harus terus menerus berbuat baik, pada bund. Apa ayah mau jawab ? Bunda jawab giliran setelah ayah.” Pinta saya.

“Kenapa kita harus berbuat baik? hmmm berbuat baik itu penting gunanya untuk diri kita sendiri. Kenapa untuk diri kita ? Karena hasil berbuat baik, hati kita menjadi tentram, tenang…..mungkin bunda punya jawaban.” Kata ayah menjelaskan.

“Jo, tadi ajo sudah sempat dengar dari bunda kalau pertanyaan ajo itu jujur bikin hati bunda kagum. Nah, sekarang bunda ingin jujur lagi nak, jujur ya nak, bunda sendiri belumlah baik. Masih banyak dari diri bunda yang belum baik. Bunda sampai saat ini masih berusaha memperbaiki diri bunda. Jadi jo, Allah menciptakan manusia dengan potensi berbuat baik (menunjukan jempol keatas) dan buruk (menunjukan jempol kebawah). Dan Allah membebaskan kita memilih keduanya. Baik banget kan Allah, gak maksa kita sama sekali….? Dan Allah memberikan balasan hadiah bagi yang baik juga hukuman bagi yang jahat. Bunda maupun ayah, bukan berbarti baik, ajo boleh ingatkan ayah dan bunda kalau bunda salah, seperti bunda ingatkan ajo. Bagaimana ?”

Selama itu saya menjelaskan, ujungnya adalah ajakan untuk saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan. Si anak sambil mengambil guling, minta garukin punggung dan kembali duduk disebelah. Hahahaha.

Wajahnya tampak cerah mendengar ajakan penutup rangaian kalimat, tepatnya prosa panjang itu. Ia berkata dengan semangat sambil senyum-senyum merasa memperoleh keadilan “Setuju!” lugasnya.

” Jo, boleh satu lagi pesan Bund?” tanya saya. *Gosh, masih belum cukup satu prosa?*

Ajo mengangguk sambil memegang kertas gambar dan meja lipat.

“Nak, hari ini dan esok-esok, coba ajo rasakan di hati ajo, apa yang ajo rasain setelah ajo berbuat baik, ya nak?” Sambil mengelus kepalanya.. tak tahan mata berkaca. He’s so sweet tonight :’)

Ia menagngguk kemudian menggambar.

WhatsApp Image 2019-06-20 at 20.48.48

Ajo dan adik dalam sebuah pengalaman aksi baik ikut membagikan zakat fitrah

Ada satu kata kunci dari pertanyaannya. Yang jujur saja dapat menjadi proses berpikir yang baik bagi dirinya, namun juga dapat menjadi evaluasi maupun koreksi bagi saya. dia bertanya mengapa kebaikan itu harus dilakukan terus-terusan ? Hal ini dapat merupakan akibat ia merasa mulai jengah dnegan kebaikan, yang inginnya dia tidak selalu berbuat baik begitu. Bisa juga lebih parah dari itu, dia merasa tertekan atas tuntutan berbuat baik secara terus menerus ! OEMJI *sambil tutup mulut*. Atau bisa juga merupakan hasil pengamatan yang ia ekspresikan secara jujur kepada saya ibunya. Kenapa kultur di rumah menekankan pada perbuatan baik/karakter baik, dibanding kepintaran, kegantengan, kepunyaan dan sebagainya. Entahlah hanya hatinya dan Allah yang tahu. Saya hanya ingin mengapresiasi pertanyaan ini dalam artian positif. Bik itu dengan bersyukur maupun terus memperbaiki diri.

Sejujurnya, teori-teori kecerdasan, teori otak atau apapun itu tak pernah menjadi keajaiban, tanpa sebuah momen memaknai (spiritual quotient) yang diawali proses merasa ( emotional quotient) . Begitu banyak insight saya yang mungkin ingin saya lanjutkan di waktu selanjutnya. Tentang Brain on Morality, Children Innate Moral, Potensi kebaikan dan kejahatan yang dapat dilakukan manusia, dan itu fitrah Allah.

Saat ini saya hanya ingin menutup tulisan ini sambil mensyukuri Al-Asr :

“Demi masa”

“Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali : yang beriman kepada Allah, dan berbuat amal salih (berbuat baik dan benar), saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat akan kesabaran ” 

Setidaknya itu makna yang masih melekat di benak saya (maafkan pabila tak precisi, silakan buka Al-Qur’an kembali, untuk makna yang lebih terpercaya :)). Dan semoga jawaban yang sebetulnya hasil ramuan jangka berpikir pendek itu mewakili bagaimana kebaikan itu begitu pentingnya. Bagaimana menasihati untuk mengingatkan siapapun (anak ke ortu dan sebaliknya, atau adik ke kakak dan sebaliknya) adalah implementasi dari keberuntungan manusia yang ditetapkan sang Khaliq.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: