Perjalanan Keluarga = PengAMALan Belajar ” Ke Kota Dengan Commuter Line”

Pagi sekali anak-anak dibangunkan. Sejak kemarin ayah dan bunda sudah men-sounding adanya rencana bepergian menggunakan trasnportasi umum. Kenapa? Qiqiqiqik, kebetulan kali ini alesannya receh, tapi berdampak ratusan ribu wkwkwk. Jadi alkisah, ayah pernah kena tilang dan di denda 500rb (ujungnya di sidang gak segitu sih alhamdulillah :D) gegara salah jalan plus plat nopolnya genap. Dan kali ini nopol kami gak sesuai dong sama tanggal. Yes perjalanan dengan transportasi umum bukan pertama kali kami lakukan sekeluarga, memang ini juga bagian dari proses #homeeducation di keluarga Ashra.

Kami mendarat di stasiun UI menggunakan transportasi online. Pagi ini kami agak terlambat keluar dari rumah, dan sudah terima risiko juga lah jikalau penumpang kereta sudah ramai. Anak-anak sudah menggantung card tag commuter line-nya masing-masing dan air minum di tumblr masing-masing dalam rangka mengurangi konsumsi aka juga sebetulnya bermotif pengempesan isi kantong dan minim sampah. Berhubung tinggi adik pas 90 cm belum lewat, adik akhirnya cuman bertugas tapping tanpa dikenakan biaya. Setiap adik tapping, itu tap untuk bunda. Dan sebetulnya kalau boleh jujur, akibat kami suka kelupaan, kita emang sering tapping bayar buat adik, ya gak apalah sedekah buat negara yes! ke Commuter line PT KAI kayanya kelihatan hasilnya (aka kagak dikorup) juga kan HAHAHA.

Naik Commuter Line

Ajiipppp….. rame bener. Tapi alhamdulillah ayah emang keliatan dampak ke-‘anker’-an-nya (anker = anak kereta bagi yang belum tau), jadi dapet aja gerbong yang masih bercelah. Kami pun masuk ke Commuter line dan mulai mencari deret kursi prioritas. Ajo diminta memangku adik, sehingga mereka berdua saja yang duduk. Ajo sigap melakukannya, berhubung sebelum-sebelumnya ia memang berinisiatif tanpa diminta urusan mangkuin adik.

Karena cukup padat, ayah-bunda tidak persis berada di hadapan mereka. Bunda melanjutkan sesi membaca buku yang memang sedang ingin bunda tuntaskan karena sedang bunda analisa (tumben tuntas cepet ? :D). Membaca buku di kereta ini sebetulnya bagian #campaign literasi 3 komunitas literasi di Indonesia. Tagar yang digunakan di media sosial, setiap kita mengupload aktivitas membaca buku di kereta adalah #keREADta. Kemudian kampanye ini sudah berlangsung sejak tahun 2017. Alesannya apalagi kalau bukan menggenjot budaya membaca di negeri ini. Sering kan kita lihat banyak manusia memandang gadget di kereta? Salah gak ? Ya enggak lah, cuman it’s realy *awkward*, tengok sana dan tengok sini, gadget semua cuy! Isi gadget kan bisa buku digital yes? bisa baca Quran dan berbagai aktivitas baik lainnya. Tapi plis kita jujur pada diri sendiri, emang-emang kok kebiasaan literasi buku bacaan di negeri kita rada nyungsep. Tanpa menganggap nothing teman-teman yang baca apapun yang bermanfaat dari gadgetnya selain medsos *uhuk* 

WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50 (6)

Suasana Commuter saat sudah lowong

Di beragai negara, dengan kemajuan teknologi yang sama bahkan lebih maju, aktivitas membaca buku di kereta dan trasnportasi umum masih menjamur kok. Jadi patutlah kita dukung kampanye ini ya 🙂

Saat banyak penumpang sudah banyak yang turun, dan menolak duduk di kursi prioritas, mamak pun duduklah memangku adik.

WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50

Adik tengah nowel-nowel pulpen ijo bunda, doik mau nulis-nulis

Di Commuter Line utamanya saat sudah mulai lengang, disinilah keluar ‘ciri khas’ dan momen eksplorasi bagi anak-anak. Ajo menunggu penampakan Monas. Ia juga melihat peta commuter line. Kemudian bertanya tentang jalan yang ia amati :

“Bund, ternyata ini hitung mundur ya?” Ia menanyakan tentang KM jalanan yang ia perhatikan selama kereta bergerak menuju stasiun tujuan.

“Ohh itu sebetulnya hitungnya gak mundur Jo, tapi titik 0 nya memang di ujung kota Jakarta, terus berlanjut ke jl. Raya Bogor….Ayah dimana titik 0 KM?” tanya saya ke bapak.

“Titik 0 Jakarta itu ternyata bukan di Monas ya tapi di museum Mulawarman saat VOC menduduki Jayakarta.” Ternyata baru tahu juga sejarahnya berkat pertanyaan bocil. Bapak yang penyuka sejarah sung terniat menggugel titik 0 Jakarta.

(((Topik yang oke nih buat dieksplor, cring…cring)))

Selama Perjalanan Di Jakarta Utara 

Implementasi Melatih Cerdas Emosi

Ajo dan adik dapat bekerja sama, sudah nampak aktivitas-aktivitas inisiatifnya. Saat makan siang, mencuci tangan, berdoa dan menghabiskan makanannya. Mereka membeli kaca mata anak dan mengenakannya. Adik yang punya karakter berbeda dari ajonya, sebagai anak perempuan dia memnag ‘girly‘ yang tertarik pada pernak pernik  (nurunin emak bener yes yang dari kecil demen banget sama pernak pernik aksesories ethnic ), ia pun mulai meminta dibelikan kalung berwarna pink. *Why she’s so fascinated by this color?*

Disini Adik berinteraksi dengan keinginannya memiliki sesuatu, membatasi keinginan berlebih (karena adik sudah dibelikan kaca mata). Ajo juga sudah menasihati adik,

“Dik kok minta lagi sih ? Kan (kita) udah dibeliin kaca mata”

Adik masih saja terus menangis , tapi tak mau menjauh dari bundanya sebagai pelaku pembatasan keinginan anak. :D. Saat bunda kebelet mau pipis, dan mau menuju toilet, adik mengekor dibelakang. Rupanya tangisnya telah berubah. Tangisnya bukan lagi karena tak dibelikan kalung pink yang tidak ada ukuran anak-anak itu. Ia menangis lantaran tak bisa bersama bunda. Ia bergulat dengan rasa ego maupun rasa ingin meminta maaf dan berpelukan.

“Oke, adik mau ikut ke kamar mandi? Adik kan belum pipis. Ayo Arsha tarik nafas.” Saya melakukan hal yang sama. Biasanya dalam kondisi emosi membuncah, ia sering beralibi “gak bisa, asha gak bisa tayik nafas” namun belakangan ia tak mengatakan itu lagi, tangisnya sudah berubah, tangisnya kini sering berada di 2 perasaan bersalah namun dikuasai ego dan di sisi lain perasaan butuh berelasi (berpelukan, dan mendapat ketenangan dari pelukan bund).

Ia mencoba menarik nafas sekenanya. Kemudian menatap bundanya mata ke mata, seolah memeriksa apa bundanya gak marah dengan rengekannya yang sepanjang jalan menuju toilet ditanyai warga Tiong Hoa yang ramah-ramah, selalu menyapa dan memberi perhatian kepada anak kecil yang sedang menangis. Tidak hanya satu dua dari mereka yang akan bertanya kenapa? ada apa? Dengan tatapan belas kasih pada anak kecil.

Tak lama kami menarik nafas dalam bersama, dan ia pun mulai yakin it’s gonna be okay…Ia menyodorkan tangannya untuk salim, kemudian membentangkan tangannya untuk memeluk dan menerima balasan pelukan. Dari seluruh part Bagaimana Bereaksi Terhadap Emosi Diri ini, ia paling sering terlupa part mengucap “astafillulullah” istighfar, sangat mungkin akibat belum meresapnya makna istighfar dan rasa membutuhkan pengampunan Tuhan pabila bersalah pada anak seusianya. Saya pun benar-benar gentle dalam pengajaran bahasa Qur’an terhadap jangkauan makna ini, tak terlalu menekankan mereka harus melafal bahasa Arabnya dengan benar, yang utama bagi saya adalah proses berpikir dan memaknai, selama mampu mengungkapkan dalam bahasa Ibu mereka, saya akan mengukur bahwa mereka sudah menangkap konsep kehadiran Tuhan di setiap aspek waktu dan tempat, sebuah cikal bakal ibadah dzikir. Cukup berbeda yes dengan proses belajar yang ditempuh umumnya, yang justru mengajarkan untuk hafal dulu baru paham ?

Aksi kami berdua di tatap beberapa orang, yang paling jelas oleh seorang mas-mas pelayan toko. Hahaha. Dia tampak bingung. Ini anak kecil ini menangis karena sakit atau kenapa sih, kok minta maaf dan pelukan hahaha. Ternyata saat saya di dalam toilet, ia bercakap-cakap dengan adik. Ternyata si emas memang sudah beristri dan beranak satu, pantaslah. 🙂

Proses merespons perasaan emosi ini yang paling konsisten saya latihkan ke anak-anak sebelum kecerdasan apapun. Bahkan spiritual yang selalu dianggap nomor satu oleh kebanyakan orang. Mengapa ? Karena, bagaimana kita mencintai Tuhan dan segala ciptaan-Nya, sementara kita tidak meresapi apa itu rasanya Cinta ? Cinta itu jelas sebuah perasaan, jendral! Tak hanya cinta, kita juga menapaki berbagai relasi diawali Apa itu rasa berelasi (proses menyusui-dipeluk), rasa berpisah (di sapih), rasa kecewa seperti tidak dibelikan kalung,  rasa benci, marah, takut, was-was ? Banyak sekali ayat Quran yang membahas perkara qalbu (perasaan) ini, namun kita kerap merasa lebih tenang mengajari anak kognisi (level memori) dalam mencintai Tuhannya. Kita katakan berjubel-jubel hal keindahan dan kebesaran Tuhan, yang tanpa proses merasa kemudian memaknai, pengetahuan itu mudah luntur seiring bertambah usia. Anak banyak tahu dan hafal doktrin ketuhanan nan kita ajarkan, namun tanpa sebenar memahamkan bagaimana memahami perasaan diri dan orang lain. Kemudian di usia gejolak emosi hadir (aqil baligh = remaja), ia kesulitan mengelak dari godaan-godaan besar perasaan. Membangun Iman didasari doktrin, bermuara pada sholat rajin, kemunkaran-kemunkaran kecil juga jalan. Moralitas berdasar doktrin kognitif tanpa dibangun dari perasaan, ibarat semua orang hafal pancasila sejak SD, namun kenyataannya banyak yang korup juga. Ibarat semua orang tahu junk food itu gak sehat, tapi kan RASA-nya enak. Gimana kira-kira ilustrasinya ma men? Hahaha. Emang enak yes?! ;p

Apa Saja Elemen Kecerdasan Emosi Yang Dialami ?

Bagaimana mereka menerima perasaan, mencernanya dengan proses berpikir lebih tinggi, kemudian berelasi kembali setelah tenang. Anak-anak tidak diminta untuk diam saat menangis, (kecuali beberapa kali ayahnya keceplosan, pengalaman inner child mungkin yes! ). Tujuan kita bukan mendiamkan suara tangis, tujuan kita membuat perasaan, pikiran dan perilakunya tenang, dan ia terlatih melibatkan diri dalam proses menenangkan diri! Maka gunakan kata jelas-sejelasnya apabila fitrah emosi marah melanda, hendaknya menuju tenanglah, kemudian berelasilah. Proses ini ia alami sejak kurang dari 2 tahun. Sehingga auto-pilot ia kerjakan selepas ia merasa tenang, bahkan saya yang sering lupa urutannya :D….

Dalam Perjalanan Apalagi Yang Dialami Mengasah Kecerdasan si duo bocil ?

  • Menunggu bunda dengan sabar dan tidak mengeluh saat ke toilet toko. Padahal kami  selepas menyebrang jalan layang, sudah hampir sore di jalanan. Ajo menjaga dan memimpin adiknya.

 

WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50 (2)

Menunggu bunda yang sedang ke toilet. Sweet banget gak sih mereka, anak-anak itu ? :’)

  • Antre membayar kue. Perut bocah yang kecik, aka lebih arena lidahnya keknya sih yang pengen makan kue (mamak gak ngebekel todei, secara gak nyangka pulang sesore ini). Dibelilah sebungkus kue. Dan mereka yang membayarnya dan ikut antre. “Gak usah pakai kantong plastik, nanti jadi sampah ” Mantra yang selalu diungkap bocah kecik, yang selalu sukses membuat mbak kasir senyum-senyum :D.
  • Tetap berusaha bekerja sama dan sabar dalam perjalanan jauh dan memakan waktu lama, bergonta ganti moda trasnportasi hingga antre untuk mendapatkan sesuatu, sebetulnya membuat mereka mengalami bahwa selalu ada proses sebelum memperoleh sesuatu. Bahkan seringkali merupakan proses tidak untuk memperoleh sesuatu, alias sekedar turut bepergian bersama orang tua, bersama-sama, sebuah momen yang begitu mereka kenang dan elukan. Ketiga, mereka merasa menjadi bagian terlibat aktif. Alias subjek. Ini memberdayakan sekali, bagaimana sih rasanya kita kalau dipercaya melakukan aktivitas yang sebetulnya belum waktunya kita, kata orang-orang mah ? Semangat banget kan berasa dipercayakan? Ya, inilah rangkaian adversity quotient dalam versi benak anak.
WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50 (1)

Ajo antre membayar diantara orang dewasa

  • Membuang sampah yang dapat di daur ulang ke tempat sampah. Ada sampah yang kita kantongi, ada sampah yang dapat kita titip di tempatnya selagi melakukan perjalanan. Disini, adik menunjukan keberaniannya bertanya pada customer officer yang berada di pintu depan. “Tante, tempat sampahnya dimana ?” Tanya adik ke seorang tante.
WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50 (5)

ajo memperhatikan keberanian adik bertanya ke orang asing… Hihi kali ini adik jadi guru bagi ajo

Setiap saya akan berpindah tempat urusan, saya tanyakan pada mereka, “apa bunda gak apa pergi ke A**s? Apa ajo dan adik belum lelah ?” dan sebagainya. Dan hingga tiba di rumah, mereka berhasil menunjukan kerjasamanya melakukan perjalanan dalam kota-lintas kota PP 1 hari dengan moda trasnportasi umum.

WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50 (3)

Wajah-wajah ceria di akhir perjalanan sedang naik angkot. Paling ceria Ajo bgt yes!

WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50 (8)

Arsha fell asleep in commuter line

 

Setiba di rumah, ajo ingin bermain, dan menegosiasi waktu mandinya. Anak-anak ini tiba saat rumah dalam kondisi bersih, dan kepulangan mereka benar-benar meninggalkan jejak (mainan)! HAHAHA. Namun tak disangkanya, mereka membenahinya bersama-sama. Nampaknya bunda bisa lebih sering mengajak anak-anak bertrasportasi umum nih !

WhatsApp Image 2019-06-20 at 21.08.50 (4)

Duo bocil bekerja sama membereskan mainan dan berkas kertas yanng terobek-robek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: