Adik Membaca Buku Menulis

Eits judul yang aneh ya ? Setidaknya karena 2 hal.

  1. Susunan Kata yang agak absurd, apa coba maksudnya adik membaca buku menulis? Well, maksudnya ialah si adik berusia 2 tahun yang mau mengetuk pintu 3 tahun sebentar lagi itu, tengah membaca buku “Creative writing” Yaitu buku tentang bagaimana caranya menulis kreatif yang diperuntukan bagi anak-anak karya…..
  2. Lazimnya ajo yang membaca buku (dalam artian sebenarnya). Tapi kini, si adik yang membaca sendiri. Gimana ya caranya si adik usil nan lincah ini membaca ?

Malam tadi, adik tetiba minta dibacakan buku pilihannya yang tersusun di urutan bawah, dan tebak dong warnanya apa? Yes, apalagi kalau bukan pink. Buku yang ia pilih  adalah buku ………..

Gak juga sih dia minta bacakan buku karena alasan warna covernya. Utamanya adalah karena alasan isi bukunya yang banyak memuat gambar gadis cilik, anak kecil, bayi, ibu, binatang, dll. Intinya banyak gambar, tapi yang menjadi pusat ketertarikan terseringnya adalah gambar-gambar diatas.

Begini nih gayanya membaca buku :

whatsapp-image-2019-06-21-at-21.33.53.jpeg

Beberapa kali dia bertanya, apa ini dia? Ini siapa ? atau menceritakan gambar yang ia lihat. Kemudian ia akan bercerita kesana kemari dengan suaranya yang agak seriosa (melengking ituh).

Dari ekspresi lisan anak bercerita, kita bisa mengamati beberapa hal :

  • kemampuan berbahasa. Dalam hal ini, adik telah berbahasa dengan S-P-O-K yang jelas dan dapat dipahami.
  • Kemampuan berekspresi
  • Kemampuan mengeluarkan ide
  • Kemampuan merelasikan ide dengan kehidupan personal yang dialami

Bagaimana Mereka Tertarik Mulai Membaca Sendiri?

Dalam hal ini saya fokus kepada Arsha. Arsha beberapa bulan belakangan telah menunjukan ketertarikan terhadap huruf, kata dan simbol angka. Beberapa yang berhasil saya dokumentasikan menunjukan itu dengan jelas. Namun apa itu lalu membuat saya mengegas prosesnya ? Tentu enggak dong kan aye mak lamban.hihihi. Gak lah, bukan lantaran semata-mata bundanya lamban, maka anak harus juga lamban

Saya berupaya menjalankan proses didik di filosofi madrasah yang asal katanya madrosa dan educere.

Dimana proses didik saya bukan menuang informasi sebanyak-banyaknya, seawal-awalnya dan secepat-cepatnya. Saya menganut filosofi menumbuhkan anak, mengeluarkan potensinya, sebisanya merangsang ia yang menjadi subjek belajar bukan objek ajar.

  • Fitrah/alamiah
  • Keteladanan : atmosfer / kultur yang di hirup di dunia keseharian
  • stimulasi unstructured : tidak disengaja
  • stimulasi structured : saat ia mneunjukan ketertarikan, dll
    • Saat dibacakan cerita
    • Direspons saat ia membaca. Utamanya respons paling produktif adalah apresiasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaanya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: