Liburan ke Situgunung Sukabumi : Memperkenalkan Anak-anak Balita Medan Transisi Pendakian

Liburan Keluarga Besar

Di karenakan masih minimnya kesempatan liburan keluarga yang banyak mengeksplor lingkungan alam asli 100 % (non buatan, seperti hutan dan pegunungan), utamanya yang memasuki budaya asli setempat seperti eksplorasi suku Anak Dalam, suku Dhani, suku Baduy, dll. Kesempatan liburan nan sepaket dengan penutupan arisan plus halal bi halal keluarga besar itu sangat bermanfaat bagi proses pendidikan di keluarga kami, nan sepakat mewadahi eksplorasi anak-anak di alam asli.

Situgunung, Wisata Alam Asli Nan Ramah Keluarga Indonesia

Pagi-pagi, kami bangun sedikit terlambat. Dikarenakan adik malam hari badannya agak hangat sepulang survey lokasi. Kami tidur dalam tenda yang telah dibangun siang harinya. Tid7r di tenda memiliki kenyamanan tersendiri yang berbeda dibanding vila. Adik yang kurang enak badan pun terlelap dengan nyaman didalamnya. Saa\nt sarapan, ajo hanya sedikit makan. Sementara adik lumayan makannya dan panas badannya sudah teraba turun.Akhirnya, kami putuskan berangkat ke Situgunung. Tidak ada satupun yang mandi, namun barang-barang telah lengkap. Ayah, bunda berbagi tugas dalam persiapan seperti biasanya. Buru-buru sih, namun semua lengkap terbawa, tak ada yang tertinggal.Setiba di lapangan parkir, ayah mendapat kabar baik, anak-anak tidak membayar biaya masuk selama usianya kurang dari 5 tahun. Ayah juga menyebut pada satpam depan mengambil bayaran paket di jembatan gantung, alhasil kami kena biaya masuk lebih rendah. Keberuntungan bagi keluarga kami, karena berangkat paling akhir malah bayar paling rendah. 😁✌Setiba di pintu masuk kawasan wisata Situgunung, ajo meminta pada bunda peta :”Bund, peta kita mana bund?” Pintanya.Ia memang sempat memfoto peta saat survey kemarin sore. Kemudian sepanjang perjalanan ini ia berjalan paling depan sambil bercerita sendiri bak ia seorang guide perjalanan.”Kita sudah sampai di 3, ini nanti lewat sini Yah. Bund kita di jakan yang ini nanti sampai di 5 jembatannya.” Serunya antusias menjelaskan posisi kami dan tujuan.Bunda pun tak kalah antusias merrsponsnya, ” wow, we’re gonna go to water fall after number 5!”Adik digendong ayah di bahu, ia terus tertawa dari atas sana sambil menggoda ajonya seolah berkata ” yey aku diatas dong, kamu dibawah….”

Tak hanya di Situgunung, ajo juga terus membaca peta di perjalanan.Dari proses pendakian ini, ajo, adik dan ayah bunda belajar banyaj hal. Mengendalikan rasa takut dan lelah, pantang menyerah, mensyukuri nikmat Allah, mengetahui dan berinteraksi dengan alam, menelusuri perjalanan yang memaksimalkan tubuh (kinestetik) dan visual-spasial (membaca peta).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: