Ketika Anak-anak Berbeda Usia, Bermain Catur ! Bagaimana Proses Awalnya ?

Awal Mengenal Catur

Alkisah bocah-bocah baru unboxing paketan yang baru dibelikan ayah. Dan ajo pun berjingkrakan “Yeiyyy aku ada catur yeiiiy!” ia mulai berlari keluar memamerkan benda kotak ini ke kak Siva.

“Itu namanya pamer gak ya ?” Tanya mamak.

“Iya he he ” ajo menjawab jujur.

Sayapun hanya tersenyum mendengar pengakuannya, cukup lega ia paham. Di sisi lain, dalam hati saya jauh lebih memahami, ia sebetulnya berniat ingin mengajak bermain menggunakan permainan catur ini.

Bagaimana tidak, 2 bocah ini sempat bermain catur berduaan sejak semingguan yang lalu, namun hanya dengan sebelah papan saja. Hahahaha mainnya gemana yak ?! Aye pun bingung.

Yah tentu saja, mainnya gak pakai aturan main. Dan selepas menampakkan ketertarikan, barulah mamak talk-talk to the papap, dan ayah lah yang pertama kali meng-order catur ini secara online, mendahului mamak yang berencana mengajak bocah ke toko depan Mekarsari Raya, gercep amat yah babe. *emoticon mulut membulet nganga, mata berkaca-kaca*.

Mengapa Catur ?

Melihat Potensi Anak Sebagai Dasar Memilihkan Aktivitas Tepat Bagi Mereka

Tidak hanya potensi positif, seperti yang sudah dituliskan di postingan sebelumnya. Potensi negatif, contohnya sikap show off,  yang memang muncul pada sebagian anak seusia ajo dan termasuk jenjang perkembangan psikologis yang dianggap normal. Sikap ini muncul pada waktu-waktu tertentu, semisal ia memiliki mainan baru dan didatangi  teman-teman sepermainannya. Uniknya, sikap pamer ini justru muncul pada anak-anak yang justru juga memiliki kecenderungan mudah berbagi atau memiliki “kenyamanan/kenikmatan” meminjamkan barangnya ke teman lain dan saya perhatikan lagi, khusunya ajo, mainan adalah jalurnya membuka interaksi sosial peer to peer dan kemudian mewadahi  kesenangannya mengatur alur-giliran, ritme dan pola bermain. Boleh jadi cikal bakal karakter kepemimpinan apabila tumbuh dengan baik, namun tentu kita lihat saja perkembangan karakternya di kemudian hari, apapun bisa banget terjadi usia sedini ini mah…

Ya memang seperti itulah Allah menciptakan potensi kebaikan dan potensi berbuat buruk pada diri manusia sejak ia dilahirkan ke muka bumi. Teman-teman boleh main kembali ke postingan mak lamban yang relate hal ini di  klik disini .Dan pada anak saat ia show off, sebetulnya ia tengah menunjukan kelebihannya atau kekuatannya. Dimana dalam setiap hubungan sosial, selalu ada pihak kuat, lemah, saksi (dan penyeimbang), dan adanya perbedaan kekuatan inilah yang menjadikan hubungan sosial manusia selalu merupakan trigger alami terjadinya agresi, contoh  bullying, pada binatang adanya predator makan-memakan dan “filosofi siapa kuat dia dapat” di hutan.

Dalam diri ajo, saya sudah menyadari adanya potensi kompetitif dan show off ini sejak ajo kecil. Saya mencoba mengarahkan potensi tersebut menuju jalan yang justru memfasilitasi potensinya tersebut (sikap show off) menjadi manfaat. Contohnya, ketika ia memiliki sesuatu, adalah kesempatannya untuk berbagai; ketika ia memiliki kebisaan, disanalah ia dapat mengajarkan keterampilan maupun pengetahuannya ke orang lain. Hal ini telah ia biasakan sejak beberapa tahun belakangan, dengan mengajari adik, mengajari teman-temannya menggambar, mengajari teman SD-nya yang belum pandai membaca, agar bisa dan semangat membaca. Dan sebaliknya saya pertukarkan kekurangannya dengan memintanya berguru pada anak-anak lain yang memiliki kekuatan. Tak dinyana, pola yang dibentuk sejak 2 tahun belakangan ini turut berkontribusi pada proses ajo yang dilaporkan guru TK-nya di sekolah, sebagai anak yang berkarakter paling ringan tangan, dermawan, mudah bekerjasama dan konsisten menolong guru dan teman-temannya.

Untuk naluri kompetitifnya yang kadang masih muncul, saya mencoba mengarahkannya bermain dalam permainan menang-kalah nan sportif, yaitu catur. Mengapa catur? Karena ajo memiliki beberapa kekhasan diri yang menonjol di strategi, pemahaman simbol (visuo-spasial) dan kededilan menggunakan motorik halus. Ia masih perlu di latih di ranah gross motor skill, terutama kekuatan fisik tangan seperti memanjat dan bergelantungan. Dan menyalurkan potensinya yang lahiriah ini justru merupakan proses meninggikan gunung dan bukan meratakan lembah bagi kami kepadanya, sembari menyeimbangkan kekuatan fisik dan koordinasi motorik kasar ekstremnitas atas.

“Dan menyalurkan potensinya yang lahiriah ini justru merupakan proses meninggikan gunung dan bukan meratakan lembah bagi kami kepadanya.”

Proses Mengenal Seni dan Aturan Bermain Catur Pada Pemula Anak

Well, ternyata ada seninya ya ! Apalagi untuk anak usia dini, salah-salah sudah lah structured play banget ini boardgame, ehh too structured pula, yang akhirnya malah bikin bocahnya mager.

Sesi pertama mamak ajak mereka berdoa belajar dan bersyukur akan adanya catur yang baru

Hahah yak, main pun belajar yes! Yang dipimpin oleh adik. Adik cukup sigap kalau diminta memimpin doa, gak banyak tawar-menwaranya. Cuman perlulah, kita berikan clue kata pertama, yang kalau enggak, jadilah setiap sesi doa kita dipimpinnya menuju doa makan, wkwkwkwk. (relate banget emang ke doik yang tukang makan hahaha).

“Yuk kita bersyukur, apa yang kita ucapkan ?” Tanya mamak.

“Alhamdulillah.” Serempak 3 anak menjawab.

“Apa itu alhamdulillah artinya ?” Tanya mamak, yakin dalm hati ini pada nge-blank. wkwkwkw. Proses memaknai ini benar-benar harus dapat dijelaskan secara kognitif yang tak sambil lalu sebetulnya. Harus relate ke mereka, karena proses memaknai memerlukan tingkat cerna berpikir yang lebih tinggi. Untuk usia mereka, pengenalan kognitif duduk 2 arah cukup memayahkan. Untuk itu perlu ragam pendekatan kreatif memunculkan ketertarikan mereka secara instrinsik mau mendalami makna. Atau memilih menuang informasi secara ringan “melalui cerita” dan sesi singkat.

“Artinya terimakasih ya Allah” Jawab ajo.

“Bukan, maknannya segala pujian untuk Mu ya Allah, yang memang kita ucapakan dalam setiap kita bersyukur atau berterima kasih kepada Allah” Saya meluruskan, yang diiringi suara Siva mentertawakan jawaban ajo yang lantang tapi masih belum tepat :D.

“Bunda, salat dhuha dulu, nanti kalau sudah selesai bunda lihat hasil susunan kalian.” Saya meninggalkan mereka dengan selembar kertas instruksi cara menyusun bidak-bidak catur di chessboard.

Dimulai dengan instruksi menyusun bidak catur bukan mengenal masing-masing bidak

Proses pertama adalah mengenali bentuk dan bagian papan catur, berupa kotak-kotak dengan 2 sisi, gelap dan terang. Begitu pula warna bidak, ada putih dan ada hitam. Diikuti proses ajo menghitung dan menyamakan jumlah kotak di papan dengan gambar. Kemudian ajo menyusun seluruh bidak ke kotak-kotak yang tersedia. Setelah fix ia merasakan mengalami tahap awal ini dengan mulus, baru dilanjut mengenalkan nama sesuai bentuk bidak. Mengapa? Sederhana saja, karena tahap itu lebih sulit dibanding meniru, butuh keluwesan memori jangka pendek yang retensif.

“Ini disini, gak disitu, eh kok aku gak ada itu…itu lho ada.” Terdengar percakapan mereka saat menyusun catur. Saya yang telah selesai salat, mulai memperhatikan  susunan yang mereka urutkan. Proses ini anak-anak menggunakan mirroring dan sangat instruction based. Sehingga yakini terlebih dahulu, fungsi eksekutif mereka telah cukup mumpuni sebelum memperkenalkan jenis permainan seperti ini. Bukan apa, anak yang belum cukup luwes dalam kondisi terstruktur dan belum begitu luwes fungsi eksekutifnya, mereka akan begitu kesulitan, kalau gak anaknya jadi terbiasa harus diinstruksiin, malah-malah bisa mager, belum siap dan ogah ilfeel sama beginian. Gak mau kan kita ?

WhatsApp Image 2019-06-24 at 21.43.37

Proses menyusun bidak catur mnegikuti gambar guide

Awali dengan aksi bidak pion “prawn”

Saya hanya meminta mereka bermain menggunakan 1 baris depan, yaitu susunan pion. Keduanya merasakan pengalaman menggerakan pion ke depan dan saat menangkap/memakan lawan. 2 gerakan pion ini yang paling sederhana dibanding seluruh bidak catur.

Memperkenalkan Menang-Kalah Dalam Catur

Sebagai anak yang punya basic naluriah kompetitif, nampaknya saya sudah over-dosis mengarahkannya menjadi pribadi yang “gak apa-apa lah”  dari kompetitif menjadi sosok kolaboratif, hahaha. Ia kerap mengatakan kalimat tersebut, pabila ia tahu konsekuensinya memajukan pion adalah dimakan kak Siva.

Terakhir saat pion tiba menyerong terhadap raja kak Siva, saya pun mengatakan, ajo dapat memakan rajanya. Dan ajo pemenangnya, walaupun kak Siva paling banyak makan pion ajo.

Bagaimana Reaksi 3 Anak Dengan Usia Berbeda ?

Siva sedikit lagi 8 tahun, ajo 5 tahun dan adik sedikit lagi 3 tahun. 

Siva paling mudah menangkap instruksi. Ajo paling mudah meniru gambar dan memahami konsep gambar yang dituang ke permainan. Sementara adik…adik memiliki pengalaman tersendiri di momen pertamanya yang lucu …

 

WhatsApp Image 2019-06-24 at 21.42.17

kisah kocak adik saat pertama ikutan main

 

Mematangkan Rules Bermain Catur

Malam harinya, ayah yang mengajak ajo bermain catur. Awalnya ia mengatakan siang tadi ia telah melakukannya, dan ia telah bisa. Namun saya mengatakan kepadanya, bahwa ia belum tuntas. Ia masih belum mempraktikan “bermain” catur dengan seluruh bidak.

“Baiklah, kita ngaji surat pendek dulu” Seru ayah pada ajo memulai tanggung jawabnya pada bagian memorizing, dan saya pada bagian memaknai. Saya bersepakat dengan suami, bahwa anak-anak diinspirasi Quran sejak dini. Maka, dalam proses menginspirasi satu yang utama adalah bukan selesai pada aktivasi rote memory learning (menghafal), melainkan proses menggali hikmah. Maka, kami berdua berbagi tugas pada proses ini. Ayah yang dapat membersamai bocah sepulang kantor, ba’da magrib bagian mendampingi proses menghafal. Dan saya yang lebih fleksibel waktunya karena bekerja di rumah dan depan rumah, mendampingi proses menggali makna.

Selepas sesi surat pendek, ayah dan anak ini duduk santai berhadap-hadapan tanpa kopi dan pisang goreng. Karena emak sibuk menggambar. 😀

Saat Tepat, Coach Tepat, Apresiasi Tepat = Internal Desire To Learn

Binggo ! Proses ayah menjadi coach catur ajo menuntaskan proses berkenalan ajo pada catur. Ia mulai paham keseluruhan permaianan. Ia memenagkan babak pertandingan pertama melawan ayah. (Ayah menuntunnya menang sebetulnya hahaha). Namun apa yang terjadi? Adalah sebuah proses kimiawi di otak yang teramat penting yaitu “terpantiknya racikan endorfin, lil bit cortisol, vassopressin dan oksitosin dll yang disebut internal desire to learn” wahahaha, opo iki ?

Adalah binar matanya selepas berlari sekuat tenanga menuju meja kerja saya malam ini. Ia menceritakan dengan nafas terengah dan mata berbinar itu, prosesnya mengalahkan ayah. Saya hanya menjadi petugas akhir, alhamdulillah. Saya respons ia dengan sebuah apresiasi yang membangkitkan keyakinan pada dirinya.

WhatsApp Image 2019-06-24 at 21.48.31

Ayah vs ajo, ayah coach catur ajo dan adik minta ikutan poto bareng bayik

“Ajo menang lawan ayah ? Wow, bunda aja belum tentu menang lawan ayah lho!” Saya menanggapi ceritanya.

“Iya, ajo menang, tadi ajo makan semuanya pion ayah, pada mati itu pion ayah” Suaranya begitu bersemangat.

Proses belajar catur ajo yang tidak otodidak ini, dan termasuk permaianan terstruktur ‘play based learning’ ini ditutup manis dengan berubahnya proses belajar menjadi semangatnya sendiri untuk bermain lagi. Bapak sama emak belum kelar tugasnya, karena naluri kompetisi anak belum kentara di proses ini, apakah ia akan banyak belajar menerima kekalahan disini ? Akankah ia dapat belajar emnang sportif, berstrategi dan menghargai ketekunan dan kesabaran di proses ini kedepan? Yes masih banyak lagi Maaaaakkkk…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: