Apa Yang Dapat Dipahami Anak Dibalik Proses Berbelanja Bahan Pangan ?

Pagi ini anak-anak sudah mandi dan sarapan. Kemudian bunda sampaikan pada mereka, bahwa mereka akan belanja ke Pasar bersama bunda. Yuk, kita telusuri perjalanannya. Warning alert ! Tulisan ini dituliskan dengan Format 1, yaitu penulisan mamak yang masih menyisakan pemikiran agak ‘berat’ filosofis. Saya sendiri juga eneg bacanyah :D. Apabila teman-teman cakep belum sarapan sebaiknya sarapan dulu, karena kalau gak sarapan nanti bacanya sambil kelaperan :p

Filosofi Berbelanja

Belanja itu sebetulnya apa?

Proses membeli. Yang merupakan bagian dari proses jual-beli. Yang merupakan bagian keperluan mempertahankan hidup, menikmati hidup maupun mensyukuri hidup.

Proses belanja semestiya menumbuhkan kesadaran (realitas) diri yang terikat pada sebuah sistem sosial dan lingkungan. Dalam hal ini terhadap suatu proses memperoleh barang atau jasa.

Manusia menukarkan nilai untuk memperoleh sesuatu yang ia butuhkan dan sukai.

Pada anak-anak, pasar akan menunjukan pada mereka sebuah proses. Proses panjang yang harus ditempuh sebelum sebuah makanan terhidang diatas meja. Tentu saja ini tidak otomatis. Anak-anak perlu diajak berbicara dan dilibatkan sendiri ikut dalam proses ini.

Jebakan ‘Kurungan’ Rutinitas

Apabila kita selalu merasa bahwa pendidikan anak yang prioritas itu di sekolah formalnya, atau di tempat kursusnya, maka kita akan selalu kehabisan waktu mendidik anak. Pikir saya, kita akan sibuk pada rutinitas kita sendiri seperti memasak, mencuci, belaja ke pasar dan lain-lain. Kemudian anak-anak sibuk dengan aktivitasnya, hingga kita ingin bertemu mereka di suatu momen yang pas, yang bisa kita mengajari mereka, akhirnya sebuah momen seperti mengajari anak mengerjakan PR di sekolahnya.

Untuk itu, perlu kita melongok lebih dalam ke dalam rutinitas kita sendiri, dan bertanya, apakah yang dapat di petik anak saya dari apa yang saya kerjakan ? Kalau saya ibu Rumah Tangga, tidak kah yang saya kerjakan ini  mulia, penting, supporting and taking care of many people? Kalau jawabannya Ya, berarti disitulah medan belajar riil anak-anak. Kita tahu, seumur hidup kita para ibu, bahkan kini juga ayah, tidak pernah terlepas dari yang namanya pekerjaan domestik.

Menyelam Ke Dalam Gaya Hidup (Value Orang Tua)

Melalui rutinitas ini berkepanjangan, tanpa sadar bahwa sebenarnya saat ia mengikuti rutinitas kita orang tua, disanalah mereka menyerap nilai-nilai hidup kita, belajar bagaimana kita bereaksi terhadap sesuatu, bagaimana dia menghormati kita sebagai pribadi, bagaimana cara kita bersosialisasi dll. Disinilah momen kita menjadi guru tutur, guru gesture, dan guru luntur. Mereka meniru bagaimana kita berbicara, bagaimana bahasa tubuh kita dan apa-apa yang tidak boleh menurut value yang kita yakini.

Seperti momen belanja ini. Mereka memperhatikan bagaimana cara bertanya kepada tukang sayur, bagaimana cara memilih sayuran, bagaimana cara mem-packing barang, bagaimana cara menolak plastik sekali pakai, bagaimana cara menangkap ikan, dan banyak lagi. Mereka bukan hanya meng-imajinasikan suasana pasar seperti saat mereka membaca buku cerita, namun mereka benar-benar mengalaminya.

Anak-Anak Manusia, Belanja dan Pasar

Mereka mengalami becek, mengalami bau pasar, melihat perbedaan pusat belanja, pertokoan dan pasar tradisional.

“ih bau…” Seru adik, saat pintu mobil terbuka pertama kalinya di lapangan parkir. Adik perlu rasakan, bahwa dalam beberapa detik ia akan terbiasa, karena nervus olfaktorius di puncak hidungnya sudah mentolerir bau tersebut.

WhatsApp Image 2019-06-26 at 06.37.08 (1)

Tiba di Lapangan Parkir, menghirup aroma Pasar 🙂

“Jo, nanti saja saat sudah tidak berisik ajo bercerita kembali.” Saat saya menge-cut ceritanya yang semakin samar terdengar sata melintasi sebuah lapak buah yang mendendangkan lagu dangdut begitu kerasnya.

“Bund, ajo jadi tau sesuatu, kalau kolam ikannya gak ketutup, berarti toko ikannya buka, kalau ketutup kolamnya, berarti tokonya tutup.” Tetiba ia me-launching kesimpulan observasinya terhadap lapak-lapak ikan yang kosong.

“Bund ambilkan ikan yang hitam itu Bund!” Pintanya yang sesaat kemudian diikuti saya mengambil ikan. Ikan itu diam dan mengelabui saya kemudian, ia melompat dan mengibaskan ekornya tepat di permukaan air, byurrrrr…..basa sudah wajah, rambut hingga pakaianndepan ajo. Kami bertiga kaget dan setelahnya tertawa bersama. Hahahaha.

Ya, seluruh indra mereka melakukan proses kenalan, investigasi dan menyimpulkan. Sebuah proses pengkajian situasi yang lazim dialami ‘otak serap’ anak-anak usia dini hingga akhir hayat manusia.

Mengapa Pasar Tradisional ?

Selain bau, keberisikan dan kekotorannya, pasar tradisional juga menyimpan harta karun :

  • Murah Meriah
  • Saat kita kesiangan ia justru semakin sepi, berbeda dengan mall, makin kesiangan makin ramai :p. Saat lowong begini, anak-anak lebih dapat mencicipi pelajaran tentang pasar, bahan pangan yang dimakan sehari-hari dll
  • Menampakkan ragam penjual dengan berbagai dialek, logat, kepribadian dll
  • Proses transaksi langsung tatap muka yang sederhana. Disini anak-anak berperan langsung menolak plastik, membayarkan tagihan, mengambil kembalian, memasukan ke wadah dan mengangkut bawaan yang mampu mereka angkat.
  • Pasar adalah ke-khasan kultur asli suatu daerah. Berbeda dengan G***t,  yang di daerah manapun ia akan serupa baik isi, penampilan dan seragamnya. Pasar Tradisional memiliki ciri kesamaan sekaligus ciri khas yang tidak pernah sama. Ia seperti menyimpan sisi personalitas dan lokalitas yang diusung para penghuni baik penjual maupun pembeli di dalamnya.
  • dll

Pendidikan Apa Yang Dialami Saat Ikut Belanja ?

Belanja adalah suatu aktivitas yang apabila sejak kecil telah tertanam pada anak, maka ia akan memiliki value dan pola belanja yang benar, yang akan menolongnya di saat dewasa.

Apa saja proses yang terjadi pada saat Berbelanja itu ?

  1. Belanja itu adalah penganggaran
  2. Belanja itu diawali daftar belanja berupa kebutuhan dan keinginan.
  3. Belanja itu memilih
  4. Belanja itu mengeluarkan
  5. Belanja itu penukaran/transaksi
  6. Belanja itu Menghitung
  7. Belanja itu ‘Awalnya’ Konsumtif

Problem Belanja yang kita ketemukan saat kita dewasa diantaranya fenomen atanggal tua duit habis, belanja kalap, keluangan waktu= belanja, mood booster=belanja, pemborosan, kelekatan berblebih pada kebendaan, rumah penuh barang, dll.

WHY ? Karena kita belanja begitu saja, tanpa meneropong lebih jauh kepada hakikat belanja. Hahahaa, mak mulai menggila, belanja aja pakai hakikat. Ya iya dong gaes, jelas ada masalahnya kok. Kita sering menanggap urusan nomor 1,2,6 dan 7 ini gak terlalu penting dimasukan dalam medan ajar/belajar usia dini. Dan anehnya lagi, kita juga gak ngajarin ataupun meminta anak belajar betul-betul terkait poin itu di masa remajanya, dan paling anehnya lagi, tau-tau kita berasumsi, saat mereka dewasa mereka sudah mesti paham bagaimana cara berhemat, bagaimana cara bijak mengelola finansial dll. Sementara yang mereka alami selama puluhan tahun hidupnya adalah kebiasaan belanja yang salah, kita tahu betul padahal kan, bagaimana kokohnya tembok kebiasaan itu? Dan ini menjadi keanehan kita serempak, kemudian kita akan mengulanginya lagi di generasi anak-anak kita, tidak mendidik mereka ‘matang’ seluk beluk dunia belanja ini.

Mak persingkat saja, saya anggap poin-poin tertentu sudah dapat dipahami kita semua selaku mansuia dewasa. Sementara poin dibawah ini, berupa makna dan ejawantahnya sebagai berikut :

1.Belanja Adalah Penganggaran

Aduh, ini salah satu problem dewasa emak. Dalam penganggaran RT begitu lemah sodara-sodarah. Alhasil penganggaran diserahkan kepada bapak, baru eksekusi ‘belanja lapangannya’ emak yang bekerja. Dan untuk tahap Ajo, ajo sudah bisa kok diajak menganggarkan keuangannya atau kita marak menyebutnya dengan istilah financial planning. Sejak ia telah menghasilkan uang sendiri melalui berjualan palugadanya, ditambah rejeki angpao hari raya, ia memiliki uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Sementara penganggaran adalah konsep dasar yang harus ia pahami sebelum ia mengenal belanja, uang dan segala teman-temannya itu. Apa dasarnya menganggarkan ? Hal ini akan mak lanjutkan di postingan berikutnya, yang menjadi tantangan ajo berikutnya. Bagimana dengan adik ? Adik baru tahu konsep penganggaran sebagai “izin belanja”, boleh atau tidak boleh. Ia membedakan mana momen permintaannya di qabul, mana momen permintaannya pasti urung diwujudkan. Mana jajanan yang boleh dan mana yang dibatasi.

2. Belanja didahului Daftar Belanja

Ajo sudah kerap membuat daftar kebutuhannya saat akan membuat project, membuat jualan, ia sudah dibiasakan melakukannya sejak proses planning atau persiapan. Kali ini bundanya akan mendampinginya menyusun dafar Belanja pribadinya selama 1 minggu. Tentu saja pribadi, karena kalau urusan belanja ke warung sebelah ia sudah sering membawa-bawa list belanjaan. Tapi, untuk kebutuhan pribadi, ia belum tahu seberapa banyak uang dikonsumsikan untuk itu.

6. Belanja itu Menghitung.

Sebetulnya tidak ada yang perlu kita khawatirkan dari ilmu eksakta, apabila ia dijelma kedalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan yang kita kenal, ilmu eksakta begitu mengawang di langit dengan rumus-rumusnya,latihan-latiahan soal nan melelahkan dan sering meruntuhkan kepercayaan diri kita sebagai mahluk cerdas berhitung akibat nilai matetmatika jelek atau ‘rasa’ pelajaran ini sungguh sulit.

Konsep hitungan uang, jumlah benda yang dibeli justru sangat dapat dimasuki ke anak melalui proses berbelanja. Gak usah jauh-jauh, yang di warung sebelah aja, atau kang tahu lewat.

Seperti siang lalu, “Jo, tolong belikan tahu 3 buah, ini uangnya 10 ribu.” Pinta Bunda. Dan ia pun bergegas memanggil dan mengejar keluar kang tahu keliling.

7. Belanja Itu Konsumtif

Tak disadari anak, sebetulnya belanja itu menghabiskan uang, pikiran dan energi. Ia hanya tahu konsep bertukarnya uang emak bapaknya dengan hadirnya mobil-mobilan di rumahnya. Sehingga ia hanya tahu, agar ada mobilan itu, gue mesti minta duit sama bapak gue.

Ia tidak tau proses mendapatkan uang, dan mengadakan uang. Syukur-syukur disampaikan kepadanya, “Bapak belum ada uang, doakan bapak dapat rezeki dari Allah untuk membeli mainan.” Yang kadangkala pada diri anak juga hasilnya adalah benar ia mendoakan bapak dapat rezeki, tapi orientasinya terhadap konsumsi tetaplah sama, uang rezeki Allah itu tetap saja larinya ke sesuatu yang konsumtif (dipakai lalu habis/rusak/terbuang). Tentu orientasi konsumsi ini tidaklah selalu buruk, konsumsi adalah tanda seseorang hidup, setidaknya kita butuh makan minum dan berpakaian bukan ? Tapi apa iya kita butuh mengkonsumsi banyak hal dan barang sebanyak itu ?

Dan benarkah belanja itu selalu konsumtif. Tidak adakah belanja yang produktif ?

Nah ini dia topik kerennya, Belanja Produktif. Selain belanja untuk kebutuhan penjualan, ada belanja lain yang juga produktif. Inilah jual beli yang dilakukan dengan Allah. Anak-anak hanya tahu ini melalui doktrin kita saja awalnya, kemudian ia mengalami kelipatan atau rejeki yang dilipatgandakan itu, dan itulah momen belajarnya menghayati imbal balik bersodhaqoh. Ajo dan adik diperkenalkan untuk membagi uangnya untuk kebutuhan orang yang tidak makan, orang yang miskin dsb.

bersambung….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: