Cinta Yang Berpikir Dalam Ruang Diskusi

Ekstraksi Bab I-Cinta Yang Berpikir Dari Perspektif  Pribadi

Tulisan ini adalah hasil ekstraksi pikiran saya saat berefleksi di sesi diskusi Cinta Yang Berpikir Bab 1 Klub Charlotte Mason Depok. Dimana proses menyarikannya menggambarkan proses kreatif di benak, saat saya mencoba meraba maksud mbak Ellen sebagai penulis, juga sekaligus maksud Charlotte Mason sebagai induk pemikir dari alasan kehadiran penulisan buku manual ini.

WhatsApp Image 2019-07-30 at 21.43.17

Penampakan manual saya yang penuh “makna” ini by adik  😀

Di sisi lainnya, tulisan-tulisan ini juga tak akan lepas dari bagaimana proses aksara demi aksara dicerna dan kemudian diramu kembali dalam wilayah berpikir abstrak saya. Baik itu dalam rupa bangkitnya pertanyaan baru, kerinyit bingung, sanggahan, maupun saat dihadapkan dengan masalah riil yang tak dapat menunggu sehingga ‘terpaksa’ dilontarkan di bab-bab awal ini. Di sisi yang tak kalah penting lainnya, saya juga harus dapat menjaga nyala tombol skeptis saya sebagai seorang dokter yang belakangan dunia tubuh, penciptaan manusia kemudian kinerja otak manusia menjadi tema gelut profesional maupun mengisi waktu luang duniawiah haqiqi saya hari ini. Yang mana, di sisi nan bersamaan juga mengagumi pemikiran Charlotte Mason sekaligus penyusunan metodologis manual tulisan-tulisan Charlotte Mason yang di-saripatikan mbak Ellen Kristi.

Ke-ilmiahan yang sebetulnya tak seberapa mengisi benak saya itu (yang lebihan benak diisi urusan anter anak, main apa lagi dong dan masak apa yang beranggaran hemat, praktis tapi masih ada sehatnya), tetap harus saya hadirkan di arena-arena diskusi publik yang mengusung tema menguak isi pikir sang pemikir. Selama sang pencetus adalah sesosok manusia, perkataan maupun perbuatannya masih memiliki ruang sah dipertanyakan dan diuji kembali. Semoga saja, teman-teman dapat memahami keceriwisan saya akibat hal ini di dalam arena diskusi (mohon ampuni saya ya, dari lubuk hati terdalam…)

Dan untuk sebuah paragraf awal yang sudah cukup terbuka ini, saya berharap teman-teman yang membaca, baik pembaca yang belum membaca buku Cinta yang Berpikir, belum mengetahui filosofi dan metode Charlotte Mason maupun yang sudah menggeluti hingga fanatik, dapat legowo dengan isi tulisan kedepannya. Mengingat 1 paragraf awal saja sudah cukup menyiratkan betapa ‘semrawutnya’ nya alam berpikir saya. Sehingga amatlah bijak, apabila teman-teman bersabar untuk membaca tulisan yang saya sudah prediksi tidak akan pendek ini nanti.

Nah, karena ‘aroma’ niat saya sudah menguar di awal tulisan. Saya lontarkan pernyataan yang lebih vulgar lagi agar pembaca tak terlalu mengeset ekspektasi di saat membaca tulisan ini. Namun yang pasti, saya janjikan “saya ingin siapapun yang membaca, ikut berasap bersama saya!” Sambil terbahak bak Raksasa di dongeng-dongeng kanak-kanak hua ha ha ha.

Miliki Cinta Yang Berpikir

Cinta Yang Berpikir Bab 1

Space Room Depok, Kamis 09-12.00 WIB, 18 Juli 2019

Tak pelak lagi, bahwa secara lahiriah manusia akan berelasi dengan orang yang melahirkannya dan menurunkan sifat pada inti-inti sel tubuhnya. Dengan bantuan hormon oksitosin dan kawan-kawannya, manusia pun mampu mewujudkan aksi relasi ini kedalam hubungan yang lebih hangat dan sangat memikat hati, yang disebut cinta kasih. Salah satu paragraf dalam bab ini terasa begitu selaras dalam alam pikiran saya yang memang selalu menyalakan tombol ON tatkala diminta atau tak diminta memikirkan tentang materi berbalut pengetahuan alam. IPA. Sains. Khususnya fisio-biologi tubuh manusia. Sebut saja pertanyaan mba Icha, “apakah kita akan menjadi bak seorang researcher saat menjadi orang tua?” (Perspektif saya, di tuliskan bagian akhir tulisan), dan pertanyaan keduanya sebagai pemantik diskusi adalah, “apakah para ayah juga dapat mencintai secara naluriah, apabila hormon oksitosin hanya di produksi ibu ?” Setidaknya, saya tangkap mengandung hal ini arah pertanyaannya. Turut menyumbang opini, saya pun menjelaskan proses pengeluaran oksitosin pria, yang ternyata belakangan ditemukan di dunia fisio-humoral, ada dalam proses ejakulasi sperma saat coitus (senggama). Tiap sperma yang ditumpahkan kedalam jalan lahir itu, menyiratkan proses tak kasat mata berupa sekresi sedikit hormon oksitosin (penelitian pada binatang). Maka kalau ditarik jauh, filosofinya sangat indah. Cinta kasih seorang ayah, semestinya alamiah hadir saat ia secara aktif memancarkan maninya. Disini, cinta yang berpikir semestinya sudah selesai. Sudah siap dengan segala akibatnya—sederhananya punya anak. Karena proses biologi tak bersedia mengingkari, mahluk yang bergerak aktif sejak awal di simbolkan sebagai batang kemaluan yang penetrasi ke jalan lahir, kemudian mani (sperma) sebagai sel benih pria juga aktif berlari menuju sel telur (ovum). Maka mencegah pembuahan yang paling ideal, manusiawi dan minim risiko adalah memangkas jalur masuknya sperma menuju jalan lahir. Setidaknya pernyataan ini yang saya sarikan pada akhirnya selama jalur tempuh saya bertahun lalu mengenal prinsip-prinsip pembatasan dan penjarakan kehamilan (kontrasepsi) hingga saat ini saya lebih tertarik mengulas literatur-literatur dasar penyusun tubuh manusia dan menyarikannya ke dalam tulisan maupun modul pengajaran (pelatihan, workshop) dan salah satu pojok artikel situs kesehatan mental.

WhatsApp Image 2019-07-18 at 11.05.34

Posisi mingkem abis mangap terengap-engap dalam atmosfer diskusi nan santai tapi berbobot. Dalam poto, selalu akan ada yang salfok sama apa hayo ?

Kembali ke Cinta Yang Berpikir. Disebut di dalam buku, bahwa manusia secara alamiah dikaruniai Tuhan kemampuan untuk mencintai bayi yang ia lahirkan. Namun, kita tidak mungkin hanya mengandalkan impuls alamiah ini saja, kita perlu memperkuatnya dengan alam rasional yang tak hanya berbasis emosi sehingga amanah memiliki anak dapat dipertanggung jawabkan seutuhnya kepada kedua pihak yang paling berhak. Yaitu Tuhan selaku pencipta dan negara selaku institusi besar yang mewakili manusia. Pertanyaannya, apakah di tangan orangtua, anak manusia akan menjadi berkat atau kutuk bagi dunia dan kemuliaan atau laknat bagi Tuhan ?

Untuk dapat melaksanakan tanggung jawab kepada ke-2 pihak tersebut. Bertolak dari urusan benda-benda fungsional manusia— seperti membuat sepatu, membangun rumah, merakit kapal dan mesin kereta, disini manusia jelas butuh program magang yang panjang untuk itu semua. Bagaimana hal-nya dengan menyingkapkan kemanusiaan ?

Idealnya menurut Charlotte, orang tua WAJIB mau belajar minimal dasar-dasar fisiologi tubuh dan psikologi manusia. Orang tua butuh belajar dari sumber valid terpercaya dan terbukti secara ilmiah, bukan sekedar informasi katanya-katanya. Hal ini menautkan saya pada proses pertama dalam firman Tuhan dalam Kitab Qur’an. Iqra’. Iqra’, yang selama ini hanya diartikan sebagai lapis luar yaitu aktivitas baca. Iqra’ jarang ditinjau lebih dalam, yaitu mengkaji; meneliti; menghimpun. Yang mana menghimpun adalah proses membaca, kemudian mendalami, kemudian membenturkan apa yang sudah dipahami tadi kepada kenyataan di luaran sana. Alam semesta tentunya. Tak jarang yang terjadi malah yang didapati sebagai pengetahuan tekstual tak sesuai dengan yang di lapangan. Sehingga harus relearn lagi bagkan unlearn. Jajaran aktivitas yang kerap dianggap begitu menanjak dan butuh tenaga ini, di ‘cut’ untuk menjadi jalan tol berupa tanya tetangga, DM admin akun parenting, Chat teman atau orang tua dan sebagainya. Yang mana boleh-boleh saja hal ini dilakukan, namun sebagai pelengkap informasi yang bersama dihimpun dalam aktivitas Iqra’ tadi sebelum menuju pengambilan keputusan. Bukan menjadi jalur utama sebelum menerbitkan keputusan.

Pada hal ini saya masih merasa pikiran saya selaras dengan Charlotte maupun mbak Ellen. Hingga tiba pada satu pernyataan dari tulisan mbak Ellen, ‘sayang sekali, sampai detik ini belum pernah ada sekolah persiapan khusus untuk menjadi orang tua.’ Disini saya pada akhirnya melontarkan gagasan yang telah lama saya pendam saja, tak sempat saya utarakan pada orang lain. “Banyak sekali pendapat terkait pentingnya sekolah orang tua ini” Saya mengawali. “Namun saya sanksi, apakah saya ataupun teman-teman semua disini akan tertarik mengikuti program bertajuk sekolah orang tua ini?” Sambil mengoles kuas pandangan ke sebagian pasang mata demi mata di sepanjang arena diskusi yang saya tahu sebagian besar adalah praktisi pendidik rumahan. Mengapa ? Karena saya tahu, sebagian dari akar pendidik rumahan adalah merasa tak terpenuhi oleh adanya institusi bernama sekolah formal (Hehe). Lantas apakah kita mau mendaftar, manakala saya sebut sudah ada beberapa diantaranya : Universitas IPB, jurusan pendidikan keluarga, sekolah orang tua berupa komunitas, dan masih banyak lagi komunitas sejenis yang menawarkan sekolah bagi orang tua? Bahkan saya sendiri, bisa jadi dianggap khalayak  juga menwarkan ‘sekolah’ bagi para orang tua. Lebih jauh dari pada perkara sekolah ini, sama halnya dengan nasib pendidikan di era kapitalis lainnya, sekolah orang tua ini tak jarang yang mengayun ke posisi prestisius sebagai ladang bisnis basah. Ada sebuah opini yang cukup menyeimbangkan menjawab pertanyaan ini agar tidak terlempar jauh menghakimi. Opini berasal dari teman diskusi sekaligus pemantik diskusi, mbak Yaya. Ia mengatakan yang intinya begini, “mungkin sekali hadirnya sekolah-sekolah orang tua ini lantaran adanya kebutuhan diakibatkan masalah yang dihadapi sebagian umat bertitel orang tua di lapangan.” Sepakat dengannya, bahwa masalah selalu menjadi bahan bakar dunia usaha yang di jualnya adalah sebagai solusi atau masalah atau bahkan obat bagi yang sudah menjadi ‘penyakit’.

Lantas apakah kita mau mendaftar, manakala saya sebut sudah ada beberapa diantaranya : Universitas IPB, jurusan pendidikan keluarga, sekolah orang tua berupa komunitas, dan masih banyak lagi komunitas sejenis yang menawarkan sekolah bagi orang tua?

Jadi pada intinya, saya amat setuju apabila orang tua perlu mencari pengetahuan maupun bertanya pengalaman orang lain yang layak dipertimbangkan. Namun saya tak sepenuhnya setuju, bahwa proses pencarian pengetahuan ini di-institusioanlisasi apalagi di kurikulumkan menjadi format kelembagaan hingga terbit program wajib belajar menjadi orang tua sebelum nikah atau punya anak, ini terlalu njelimet dan sejujurnya tak pantas. Terkecuali mengingat tabel-tabel warna-warni statistik angka perceraian, kekerasan anak, gangguan mental sejak kanak-kanak, depresi pasca melahirkan dll. Ini jelas perlu pencarian akar masalah hingga solusi menyelesaikannya. Lalu kenapa tak institusional dan menolak diwajib belajar-kan ? Simpel. Mengingat Tuhan selaku sang pencipta saja tak menyuratkan maupun menyiratkan perlunya semacam ‘sekolah’ orang tua ini dalam kitab-Nya. Bahwa menikah saja baru separuh Dien. ‘Setidak-sempurna dan sesempurna’ itu langkah kita saat menikah. Sehingga sekolahnya ya beriring dengan proses tumbuh dalam ½ ruang lagi yang tak sempurna.

Dalam diskusi yang sama, di paragraf “Orang tua tidak punya hak mendoakan anak-anak mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang jujur, rajin dan berintegritas tetapi pada saat yang sama lalai menerapkan model pendidikan yang akan membimbing anak-anak ke dalam kejujuran, kerajinan dan integritas.” (Vol 1, hlm 40).

Bagi benak dan hati saya, kalimat diatas dikembangkan selaras dengan sebuah formula yang saya imani, yaitu :

NIAT + AMAL + DOA + TAWAKKAL

Niat : tujuan ortu membesarkan

Amal : Penerapan model pendidikan

Doa : Harapan

Dan berikutnya ini bagian dari diskusi yang paling menarik menurut saya. Karena bagian akar filosofis dari pendidikan Charlotte Mason akan tumbuh dari sini. Menjawab tanggung jawab orang tua kepada 2 pihak diatas tadi. Charlotte mengatakan, orang tua tidak cukup mendidik anak dengan baik. Mereka wajib membesarkan anak dengan sebaik-baiknya. Bagi saya yang saat itu tengah ngeh melintir berhubung si adik tidak sedang menggelayut di tubuh saya, kalimat ini terasa begitu berdampak. Dalam kalimat diatas pabila dihubungkan dengan kepada siapa kita akan bertangung jawab, maka dalam tema pendidikan Charlotte, sudah dapat diramalkan, Charlotte bukanlah pengusung anak sebagai cikal manusia yang unik dalam artian bakat, minat dan personhood-nya sejak kecil yang harus di wadahi khusus untuk ini hingga pada prosesnya keunikan ini muncul kemudian dan dilanjutkan dengan proses pengasahan spesifik.  Ini adalah perbedaan bermakna. Yang apabila konsep ini saya dudukan satu meja bersama para pakar pemikir pedagogi—sebut saja beberapa diantaranya John Lock dan DR Maria Montessori yang sempat saya cicipi filosofi mereka secara sederhana ala saya yang belum dalam mempelajarinya, kemudian di dunia kontemporer seorang integrator pemikiran Fitrah Based Education Ustad Harry Santosa dan pakar Talents Mapping Indonesia Abah Rama Royani, maka pusat pembeda Charlotte yaitu memaknai tujuan akhir membesarkan manusia sebagai manusia bermoral yang digariskan negara dan luhur sebagai mahluk bertuhan.

Kalimat sebaik-baiknya Charlotte terasa sangat jauh berbeda dengan kalimat menjadi versi terbaik dirinya ala Abah Rama. tidak mengindikasikan adanya keimanan terhadap manusia sebagai fitur unik yang sejak kecil perlu diwadahi keunikannya. Di sisi lain saya mungkin harus menahan diri, karena ada kemungkinan terlalu prematurnya asumsi ini. Sehingga saya harus menyimpannya sampai mempelajari filosofi dan metode ini lebih menyeluruh sebelum menarik simpulan utuh. Boleh jadi, di teks ini, pemikiran Charlotte nan utuh belum ditorehkan dalam tujuan akhir membesarkan manusia. Keunikan yang ia maksud mungkin tak menyiratkan maupun menyuratkan manusia sebagai ‘orang berbakat unik’ alamiah sejak lahir utuh (born person). Tapi boleh jadi, pada tulisan-tulisan Charlotte kemudian, pada ujung buku-bukunya membahas wadah untuk mengasah dan mengeluarkan potensi keunikan sebagai bakat ataupun minat ini. Pun saya tidak terlalu yakin, mengingat Charlotte tak membagi metodenya ke dalam usia perkembangan. Hal ini lah, yang membuat saya menuliskan catatan tersendiri terhadap aplikasi metodenya. Kemudian, mbak Ellen dalam CYB tidak berpanjang lebar menjelaskan relasi usia dini. Yang menurut saya yang dipengaruhi penemuan mutakhir di bidang sains keibuan, ini adalah pondasi otoritas awal, menjawab mengapa anak mau patuh secara tulus? Bahwa perlu kita pahami, secara psiko-biologis, manusia jelas tumbuh bertahap dan tiap fase perkembangannya sangat mempengaruhi pola berpikirnya. Bersabarlah wahai Irnopaaa… Inhale..exhale…masih panjaangggg nasib kepala berasaaappppp mu….Hahaha

2 Paragraf menuju akhir bab 1 yang memancing benak saya di diskusi pertama ini adalah  kata kloset privat yang dituliskan mbak Ellen. Di awali nasihat agar tidak merasa cepat puas diri dan jumawa, mbak Ellen secara apik menasihatkan satu dari sedikit hal paling berarti sepanjang menjadi orang tua. Jangan membanding-bandingkan diri secara obsesif dengan orang tua lain—apalagi anak dengan anak lain yang boleh jadi tak pernah kita lihat rahasia hingga aib yang tak tersibak disebalik kekaguman kita pada kehebatan mereka. Yang perlu kita batasi pada ruang dalam diri saat diinspirasi oleh orang lain adalah, menghargai orang tersebut sebagai inspirator dengan mengapresiasinya baik langsung maupun tak langsung, kemudian belajar darinya. Bukan sampai mengukur capaian kita agar sama persis dengannya.

Kemudian paragraf terkait praktik langsung setiap hari dalam membesarkan anak-anak. Saya pikir, tidak ada nasihat lebih baik daripada, fokus pada praktik harian bermakna anak. Alih-alih meluangkan waktu untuk mengeset ini-itu, memfasilitasi kegiatan playdate setiap minggu bersama ini-itu, mengganti judul-judul buku sebanyak-banyaknya, mengganti materi seberagam-beragamnya, memperbaharui status media sosial setiap hari berdalih jurnal dan portofolio bahwa anak saya sudah begini-begitu, kesini-kesitu padahal praktik harian yang dimaknai anak tak selaras dengan segala pergantian itu. Diutarakan secara jujur dan terbuka, bahwa proses myelinisasi dan proses pembentukan pola sirkuit di otak anak menuju dewasa tidak semudah itu. Anak butuh merelasikan proses yang ia jalani dengan motivasi ruang dalam diri, ketertarikan personal (kustomasi), emosi dan memori terkait yang di kode untuk disimpan, autonomi, pemahaman dan konsistensi. Baru jalinan sirkuit saraf itu menebal dan menetap seterusnya tak mudah dihapus saat otak meng-efisiensi diri. Saya tanya hal sederhana saja, berapa banyak memori yang kita ingat di masa kecil ? Apa kita ingat semua tempat yang pernah kita kunjungi ? Apa kita ingat semua buku yang pernah kita baca di masa kecil ?  Semakin bermakna bagi diri kita, maka semakin ingat dan kita jadikan muatan kebermanfaatan. Bukan akibat semakin mahal biaya yang dikeluarkan orang tua, bukan pula akibat tujuan orang tua kita saat itu. Semua akan kembali ke seberapa relate nya apa yang kita alami ke hal-hal dalam diri kita tadi.

 Disini disampaikan bahwa anak-anak ternyata bisa menjadi ‘guru’ kita selama kita membuka diri belajar dari mereka. Anak-anak mengajari kita mencintai dengan segenap hati. Tidak ada sekolah kepribadian di dunia yang menawarkan pelajaran terbaik sebaik anak-anak kita sendiri.

Lalu bagaimanakah menjawab pertanyaan apakah kita selaku orang tua bak peneliti (researcher)? Tentu ini kembali kepada pribadi kita selaku orang tua masing-masing. Men-cukupkan diri sampai dimanakah kita ? Saya sendiri dengan laku perbuatan yang telah saya alami dan praktikan dalam keseharian saya menjawab Ya. Saya bak periset dibuat oleh peran orang tua ini. Saya merasa tak tahu, tak benar-benar tahu hingga saya seringkali menempuh iqra’ (menghimpun banyak pengetahuan literatur dan pengalaman orang lain) dalam menyelesaikan masalah maupun menjawab renungan pertanyaan di benak dan batin saya.

Terima kasih teman-teman praktisi CM yang sudah mewadahi diskusi. Sejujurnya saya bukan tipikal ‘book club person’, saya lebih senang menyarikan buku dalam renungan penghayatan ditemani segelas teh hangat, kamus akar kata dan tab-tab penelitian-penelitian yang saya baca sesanggup dan selamban saya membaca. Tapi apabila boleh tambah stok jujur lagi, saya juga manusia ideation, yaitu manusia dengan overload gagasan. Saya jujur saja mengatakan tak perlu jual mahal, ternyata si pembaca senyap ini juga butuh juga ruang diskusi sehidup ini. Nyengir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: