Konsep Matematika Anak Usia Dini (Pra Sekolah) : “Menjadi Panitia Cilik & Membuat Denah Geometri Kegiatan dalam 2 dan 4 Dimensi “

Haha…Judulnya sih terkesan berat buncakep, pacakep, kacakep, tapi sebetulnya proses ini mudah dan cepat kok, gak ‘nambah-nambahin’ porsi waktu orang tua untuk mengajar anak (fasilitasi)  :).

Selaku tuan rumah blog, sebelumnya saya (selanjutnya akan ditulis bunda) sampaikan sedikit, saya memang menyenangi proses-proses konseptualisasi, menyusun visi dan menurunkannya hingga strategi pencapaian (metode) atau langkah tepat mengatasi problem atau meraih goal. Untuk itu tantangan yang kali ini datang dari kelas Bunda Sayang, berupa cara mengaktualisasikan matematika logis ke anak-anak akan menggoyang ide-ide di kepala maupun dari hasil eksplorasi dunia nyata maupun berselancar di dunia maya.

Nah, seiring masuknya periode tantangan kelas Bunda Sayang tentang Math Around You. Saya pun memulainya dari problem, goal dan literatur baru menuju konsep dan hasil eksekusi piyik sederhana rupa :D. Selamat mengambil manfaat (dan AUTO-substraksi bagian yang gak gunanya yaa….mulai pakai istilah matematis hihihi :D)

Ciri khas kegiatan saya bersama anak-anak maupun anak-anak Literarts (Pelita Children Community) biasanya banyak memanfaatkan medium sederhana (bahkan bekas), ada visualisasi, berangkat dari problem dan goal, mengkaji literatur dan memasukan elemen proses berpikir anak sesuai tahap-tahap perkembangan anak (customized). Sejak mempelajari tahap perkembangan proses di otak manusia, saya memiliki komponen selain usia untuk menilai proses berpikir anak-anak. Dan itu masih dalam proses membuat kriterianya. (Doakan yaak ma,pa,kak cakep :D)

Program STEAM (Science, Technology, Engineering, Art and Math) di Rumah secara garis besar sebagai berikut :

Sebelum lebih jauh membahas proses mengenal, menggunakan dan memanfaatkan matematika dalam keseharian, bunda paparkan sedikit beberapa prinsip pembelajaran matematika yang telah/akan diterapkan pada project Ajo dan Arsha kedepan (telah diaplikasikan di rumah maupun nanti selama tantangan ke depan):

  • Usia ajo 5 tahun, telah secara cukup signifikan menunjukan pemahaman konsep dan melakukan kegiatan konseptual. Sementara Arsha, baru menunjukan konsep-konsep sederhana. Bunda justru tak hanya ingin memperkenalkan konsep matematika secara konkrit, namun juga secara abstrak dalam porsi yang mampu dipahami anak. Kemampuan bahasa Ajo dan Arsha sangat membantu proses memahami matematika secara abstrak (apalagi konkrit), tentu sesuai problem yang mereka alami sendiri ataupun mereka saksikan di sekitar mereka sehingga proses belajar lebih bermakna dan anak-anak berdaya untuk menyelesaikan masalah sesuai level usia mereka.
  • Ajo mengetahui dan memahami bahwa Matematika adalah ilmu yang memiliki berbagai definisi dari berbagai sudut pandang. Tidak pernah ada definisi matematika yang fixed bisa diamini semua pihak. Untuk itu, justru tak ada soalnya apabila ajo akan menyimpulkan sendiri pandangannya tentang matematika logis dari dari kaca mata anak 5 tahun.
  • Matematika adalah ilmu (pengetahuan dan skill) aplikatif. Yang penerapannya mampu membantu manusia dalam pemecahan masalah dan memperoleh solusinya.
  • Matematika membuat kita dapat memahami proses kehidupan kita, pengalaman keseharian kita secara estimatif (penuh perhitungan, mampu merumuskan formula yang memudahkan pemecahan, dll)
  • Belajar matematika menyenangkan tidak harus menggunakan medium yang sulit atau mahal. Sebagai fasilitator, Bunda ditantang memantik konseptualisasi abstrak maupun konkrit dalam proses belajar dengan cara sederhana, efisien, ekonomis namun efektif. (Permisi mak-mak kumon, ini kesukaan emak-emak irit anti ribet Ha ha :D)
  • Merangsang fungsi eksekutif otak yang menyelaras dengan 2 fungsi otak lainnya. Ini adalah tahap perkembangan ajo dan Arsha, yang saat ini dengan perbedaan di perkembangan otak pada proses kendali emosi & hasrat, juga di perkembangan neo-korteks/ fungsi eksekutif otak.

Apa Saja Bentuk kegiatannya ?

  • Experiential and project based learning : Anak-anak akan banyak belajar dari pengalaman maupun praktik projectnya masing-masing.
  • Literature based learning
  • Metacognitive learning
  • integrasi belajar sambil bermain, house chores, nature walk dll
  • Reflective learning
  • Social works
  • Kombinasi/integrasi

Apa Saja Penarikan Masalah Menuju Pemecahan Masalah menggunakan Matematika pada masing-masing anak ?

Ajo Fiqar

Sesuai tahapan ajo, saat ini ia direncanakan akan mengalami :

  • Konsep matematika Tuhan Pencipta Alam Semesta = keseimbangan (simetri, asimetri ), perhitungan presisi yang menjadi akar hadirnya matematika di alam semesta. Bahwa pola, ritme berawal dari penciptaan Allah.
  • Konsep pemecahan masalah menggunakan logika matematika dari aktivitas keseharainnya. Contoh : Ia menjadi panitia kegiatan, maka ia akan menggunakan berbagai medium maupun rumusan matematika aplikatif dalam keseharian (berhitung, bentuk geometri dll)
  • Computational Thinking : Pengenalan proses berpikir komputasional atau basic coding Unpluged Program (pengenalan dasar-dasar berpikr coding/komputer) berupa dekomposisi, sekuensial, presisi dll
  • Pengenalan konsep waktu (fokus kepada pengetahuan jam analog dkk, namun tetap memulainya dari akar konsep waktu) menggunakan project maupun media digital.
  • Konsep matematika jual-beli
  • Literasi matematika logis.
  • Associative-spatial talk masih lanjut menyehari.

Kesemua problem dan goal diatas secara spesifik sesuai dengan keseharian yang dibutuhkan ajo untuk proses belajar dan bertumbuhnya.

Sek..sek…sek tunggu dulu ya… Nampaknya lumayan BERAT kalau dibaca ya? Sebetulnya aplikasinya sederhana dan Kaga’ dah tuh berat-berat, macakep, pacakep :p

Memahami konsep, artinya memahami ide abstrak dan inilah dasar dari proses berpikir memahami yang baru kemudian dapat dianalisa, di evaluasi, diintesa dll. Bukan sekedar menghafal/mengingat rumus atau angka-angka.

Kakak (adik) Arsha 

  • Literasi matematika Setiap membaca buku cerita atau berkegiatan, Arsha sudah menunjukan ketertarikan alamiah pada konsep hitung dan angka (numerik). Saat ini ia sudah menghtung hingga 10, namun dengan koordinasi saat menunjuk benda yang masih belum presisi.
  • Arsha telah memahami konsep 2 dimensi panjang-pendek, besar-kecil, depan belakang dll, namun masih perlu lebih sering di paparkan.
  • Associative spatial talk sebelum masuk sesi membaca huruf dan angka. Proses matematis abstrak melalui bahasa
  • Menggunakan Lagu dengan tempo, ritme dan konsep matematis lainnya disesuaikan dengan ketertarikannya pada lagu dan gerakan (tarian).
  • Integrasi pendidikan emosi dengan matematika.

Hari I

Menjadi Petugas Pendaftaran dan Tuan Rumah Kegiatan Kencan Belajar Sambil Bermain “Playdate” Tema Emosi Komunitas Kerlap

WhatsApp Image 2019-09-06 at 18.36.27

Tampak Ajo duduk bertugas di meja pendaftaran dekat pintu

Ajo mendapat kesempatan kedua kalinya belajar sekaligus kesempatan bertanggung jawab dari bunda untuk menjadi tim persiapan hingga panitia playdate Kerlap. Di Hari H ajo izin kepada gurunya untuk tidak hadir belajar di sekolah, karena ia menjadi tuan rumah playdate kerlap adik-adik usia balita. Bu Robi pun menanggapi positif pengajuan izin Ajo, bahkan mengatakan ia salut pada Fiqar telah mampu menjadi tuan rumah kegiatan. Terima kasih bu 🙂

Apa Saja Tugas yang menjadi Wewenang Ajo Fiqar ?

  • Menjadi sie Pendaftaran
  • Guide menuju Toilet Rumah, karena toilet Sains Otak Anak Indonesia belum dapat digunakan.

Sementara 2 pekerjaan yang datang dari inisiatifnya sendiri adalah :

  • Mendokumentasikan kegiatan : ajo izin meminjam ponsel bunda, kemudian meminta bunda untuk membuka kuncinya. Tak lama bunda mengerti ia ingin memvideokan kegiatan.
  • Menyambut tamu : Saat bibi Lilis selaku PJ datang dan bunda tidak sedang berada di Sins Otak Anak ID, ajo pun menyambut bibi Lilis dan menceritakan bahwa ia menjadi sie pendaftaran. Bi Lilis kemudian berinisiatif membuatkan tabel nama, usia dan pendamping anak. Ajo senang sekali, kemudian ia temani bi Lilis keliling ruangan, mengajak Faidhan bermain dan minum susu, menjawab lontaran-lontaran pertanyaan bi Lilis terkait sejangkau yang ia tahu. Hati bunda terasa hangat sekali mengetahui inisiatifnya. terima kasih ya nak 🙂

Selama kegiatan berlangsung, ajo benar- benar menampakan dedikasi untuk anak seusianya. ia sadar betul posisinya yang lebih 1/2 tahun membuat ia otomatis menjadi kakak senior di Kerlap. Playdate yang diselenggarakan ini untuk anak balita, dan selisih 1/2-2 tahun membuatnya merasa memiliki tanggung jawab lebih. Setiap bibi yang hadir tidak ada yang terlewat mengisi pendaftaran. Saat kegiatan pertama di mulai, yaitu menggambar dan menempel gambar emosi berlangsung, Arsha tampak semangat sekali, ia kerjakan semua proses dari membuat lingkaran menggunakan tutup cat semprot, menggunting, mengoles lem dan menempelnya pada stick es krim. Satu-satunya yang bunda bantu hanya menggunting kertas kalender yang agak tebal. Arsha menghitung hasil karyanya yang semestinya berjumlah 4 buah. Namun saat itu, ia baru mengetahui konsep hitung namun belum presisi, hitungannya benar namun saat ada yang hilang (substraksi) ia selalu mneyebut jumlah keseluruhan es krim emosinya 2 buah saja. Haha….Tak apa Nak, you ve done really well :D!

Dari kejauhan ajo berlari, ia berkata, bunda ajo juga mau buat (pra karya es krim emosi), ajo pun mulai mengerjakan prosesnya sendiri. Karena sudah terbiasa, ia benar-benar melakukan seluruh proses tanpa diberi instruksi. ia menggunakan seluruh alat yang ada dan mengambil apa-apa yang perlu saja dari sleuruh benda yang ada di box persiapan (menyortir). Ia juga memutuskan menggambar 5 jenis emosi. Sama seperti Arsha, ia melakukan rangkaian membuat lingkaran, menggunting, menggambar , mengoles lem dan menempelkannya pada stick. Ia juga berinisiatif membubuhi karyanya dengan namanya “F-Y-Q-A-R”. Anak ini tengah gandrung menggunakan huruf Y pada namanya. Hingga mirip seperti ayah dan semua anggota keluarga memiliki huruf Y pada nama masing-masing. (di tahap ini, ajo sudah melakukan identifikasi rinci dari kesemua nama panjang anggota keluarga inti.Cukup jeli,  ia menemukan perbedaan bermakna terletak di namanya yang tidak memiliki huruf Y, sementara semua anggota keluarga memilikinya).

Tampak dari jarak jauh, ia ditanya bi Lilis dan bi Nasi, dan ia menceritakan gambar emosi ke-5 nya adalah semangat (exited). Jadi ada senang, marah, kaget, sedih dan semangat! Ia juga menolak menggunakan alas lebih keras untuk kertasnya.

“Mau pakai ini gak ?” Tanya bunda sambil menawarkan karton kalender bekas.

“Gak ini aja!” serunya mantap.

“Jo, tadi kenapa? Ditanya apa sama bibi Lilis dan bi Nasi?”

“Bund, ajo bisa fokus lho! Padahal susasana ruangan banyak suara-suara dan sibuk-sibuk semua tapi ajo fokus sama kerjaan ajo!” Jawabnya bukan menjawab pertanyaan.

Bunda pun kaget. Kok anak ini bisa bilang seperti itu? Masalah fokus yang rasanya tak pernah saya bahas dan konsepnya juga benar seperti itu.

Selepas salat ashar saya tanyai ia. “Kok bisa bilang kalimat seperti itu Nak ? Apa dari sekolah bu guru bilang begitu?” Rasa penasaran membawa saya pada tanya.

“Enggak. Dari otak ajo sendiri!” Sambil memegang kepalanya.

bunda mengerinyit….

“Ajo tau dari waktu naik Grab yang di Yogyakarta. Waktu itu ajo sama bunda sedang ngobrol di dalam mobil. Tapi bapak supir grabnya tetap fokus menyetir, jadinya gak nabrak deh!”

WhatsApp Image 2019-09-06 at 18.36.27 (3)

Mengerjakan 5 buah prakarya ekspresi emosi

WhatsApp Image 2019-09-06 at 18.36.27 (1)

Beberapa bentuk geometri ekspresi

Masyaallah….Pengalaman yang ia serap begitu toh rupanya. Entah ia terpantik dari kegiatan yang mana, sehingga ia mengenal fokus belajar anak saat memasuki usia belajar terstruktur ya seperti itu, tapi bunda masih heran dan akhirnya menceritakannya pada ayah.

Belakangan anak ini sudah mengasosiasi dan menarik kesimpulan otak serapnya sedemikian hingga. Ia mulai tertarik pada masalah-masalah yang dialami orang dewasa di rumah. Ia ternyata “aktif mengupingi” sambil bermain namun kepalanya snegaja menyerap saat bunda “menegasi” adik angkat bunda yang melakukan kelalaian. Padahal kamar kami tutup dan kami membahas masalah di ruang keluarga.

WhatsApp Image 2019-09-06 at 18.36.27 (8)

Peserta Playdate Komunitas Kerlap Emosi Untuk Balita di Sains Otak Anak Indonesia

Refleksi Pengalaman Bertanggung Jawab ke Dalam 2 dan 4 Dimensi Geometri

Geometri yang dipahami ajo masihlah dasar. ia memahami bentuk-bentuk geometri sederhana dalam 2 bahasa. Secara lamban bertahap bunda mengasosiasikannya ke dalam menu Berpikir komputasional (basic coding) dan saat ini. Saat ia mengambil free session homeschoolingnya, ia meminta sesi main lego. Dan bunda mengambil sesi main legonya ini ke dalam tantangan reflektif.

Bunda menantangnya membuat denah kegiatan Playdate Kerlap di Sains Otak Anak Indonesia (SOAID) geometri 2 dimensi dan 3 dimensi.

Dan ia mengerjakannya baru setengah.Ia sempat mengeluh, “ah tapi ajo maunya main legonya bebas” tapi bunda menyampaikan, ia sesi itu paling hanya beberapa menit dan itu menyasar goal homeschoolingnya dan ia pun lakukan itu secepat-cepatnya agar bisa main bebas Hahaha.

Anak-anak, ya memang dominannya masih main bebas. Tapi jangan khawatir, semua pengalaman itu akan berelasi dengan sesi bermain terstruktur (goal oriented)-nya, pendewasaan berpikirnya dan lain-lain. Saat ini mungkin saya tak akan menggoreskan ekpektasi berlebihan padanya mengingat usianya yang masih belum menunjukan konsistensi dan masih di dominasi proses berpikir acak. Lalu apa yang menjadi kadar/tolak ukur saya mencermati level demi level belajarnya mendewasa, sementara dalam pendidikan rumah ia belajar tanpa jenjang kelas ? Saya memang menitik beratkan pada proses pembentukan kemandirian belajar. Seperti hadirnya regulasi emosi, kemunculan inisiatif (self-directed), tindakan yang bertujuan (goal directed), merencanakan kegiatan bermanfaat sekaligus saya banget (otentik) dll.

Jadi ayah-bunda cakep, setelah menetapkan visi (goal jangka panjang), fokuslah pada present time (waktu hari ini : observasi maupun evaluasi kegiatan anak), dengan cara mencari tahu apa-apa yang merepresentasi parameter goal kita dalam performa jangka pendek. Karena bagaimanapun sering sekali di khalayak antara goal jangka panjang dan perbuatan hariannya tak sejalan.

Semisal ingin membuat anak cerdas spiritual tapi….

Titik berat pendidikan hariannya pada rote memory learning, seperti drilling, hafalan semata yang memberatkan memori anak dan bahkan mematikan gairah kecintaan belajar melaui proses berpikir majemuk. Atau ingin anak komplit cerdasnya sejak lahir tapi dengan stimulasi harian yang kurang tepat, seperti langsung memasukan kegiatan konkrit terstruktur dalam rentang waktu yang semakin hari semakin panjang tanpa menguatkan basis emosi (mentalitas) dan mengajarkan calistung bukan dari mengapa, bagaimananya-anak tapi mengapa-nya orang tua semata.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: