Konsep Pra Matematika Untuk Usia 0-4 tahun (Bagian 2)

Melanjutkan proses di postingan sebelumnya Konsep pra matematika bagian 1, saat ini adik Arsha melanjutkan kembali pengembangan stimulasi pra matematikannya. Dan berikut cukup mewakili pengembangan skill pra matematika anak usia dini beserta penjelasannya:

WhatsApp Image 2019-09-09 at 21.35.28

WhatsApp Image 2019-09-09 at 19.33.46

Ada 2 aktivitas yang terbilang rutin dilakukan adik, diantaranya :

Membaca Buku : “Math Rich Language”

  • Saat sesi membaca buku cerita bersama bunda, yang berjudul Dongeng 7 Menit Sebelum Tidur tulisan kak Clara Ng tentang Bugi seekor ikan Hiu yang lucu dan baik hati. Adik secara otomatis menunjukan kecenderungan untuk menghitung. Di proses ini ada 3 kemampuan pra matematik yang tengah ia tunjukan dari pengalaman membaca bersama ini : Bahasa matematis yang kaya (rich math language), menghitung bermakna (meaningful counting) karena adik menunjukan tracking jemarinya saat menghitung 1-7, kemudian rote memory counting atau melakukan perhitungan karena telah menghafal pola urutan. Ini dilakukan adik saat ia mulai terus saja menghitung padahal benda yang ia hitung sudah tidak ada lagi.

 

  • Seperti saat bunda selesai salat Ashar, adik membawa buku calistung TK hadiah dari Meme untuk Ajonya. Ini sebelumnya perkara aneh menurut saya. Bagaimana bisa buku se-twaddle (berbasis fakta kering dan ilustrasi stereotype dalam istilah Charlotte Mason) itu bisa semenarik itu bagi anak-anak. Tak pernah saya bukakan, bacakan atau apalah, tapi persis keduanya menunjukan perilaku kurang lebih sama. Keduanya mengambil buku ini secara mandiri. Membuka halaman demi halamannya. Bahkan ajo membawanya ke menginap ke rumah Andung dan pulang-pulang sudah mengerjakan seluruh soal 1 buku. Macam belajar ala SKS saja dia semalaman mengerjakan matematika sebuku bersama Memenya. Dan kali ini kejadiannya pada Arsha. Buku yang tak lagi rapih ini, dibuka lembar demi lembar dan dihitung satu persatu isinya. Hahaha…. Belakangan saya baru menyadari, cause and effect yang merupakan konsep dasar anak memahami pola dalam kehidupan sehari-hari terjadi dalam stimulasi abstrak yang tak kita niatkan sekalipun. Saya memang pengguna visuo-spasial talk dan memilih sebagai penutur rich language yang saya lebih senang menyebutnya bahasa kompleks (asosiatif, spasial, direktif, mempertanyakan, alternatif dll) dan cukup spesifik untuk bahasa ibu ke anak. Sebaliknya simple language untuk bahasa kedua. Saya justru tidak menyederhanakan proses penyampaian kalimat saya seperti kebanyakan saran dalam dunia parenting. Bahkan seringnya menggunakan istilah-istilah sistem. :D. Nampaknya hal inilah yang membuat anak-anak diatmosferi lingkungan pra matematik terbesar. Hingga proses mereka belajar menjadi seperti ini, yang di usia 4-5 tahunnya menunjukan keinginan membaca dan menulis yang justru sebagian besarnya dilakukan secara mandiri dalam rupa ragam kegiatan (menggambar kemudian yang digambar huruf-huruf dan angka, bersepeda kemudian menyatakan bentuk pohon seperti A, lapangan seperti angka 8 dst). sehingga sebetulnya saya malah sangat jarang mengajar matematika, membaca dll baik melalui kegiatan atau aktivitas rumah mereka.
WhatsApp Image 2019-09-09 at 21.01.33

Arsha membuka-buka lembaran buku matematika PAUD 

Menggambar

Sesuai karkteristik adik yang berbeda dengan ajonya, adi lebih banyak mengekspresikan manusia/keluarganya di dalam gambarnya. Ajo lebih banyak mengekspresikan mobil, hotel dan ke tiga baru orang tua dan keluarga besar yang naik mobil, naik gunung dll.

Adik nampak memahami konsep besar-kecil dan tinggi-pendek dari seluruh anggota keluarga. Konsep perbandingan (comparison) dan identifikasi :

WhatsApp Image 2019-09-09 at 21.01.33 (1)

Adik sedang menjelaskan setiap orang yang ia gambar. Ia menggambar dirinya kecil, sementara bunda tinggi dan lebih besar menggunakan rok, ayah tinggi dan besar bercelana dll.

Ya macakep, pacakep,kacakep, begitulah kira-kira sumber pengembangan skill matematika pada anak usia dini. Sebuah tangga yang sebaiknya dilalui sebagai pondasi konseptual sebelum memahami matematika konkrit, rumus-rumus kode dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: