Aktivitas STEAM di Komunitas Anak Literarts : Literasi Sains dan Eksperimen ‘Rumah Serangga’

Innalillahi wa innailaihi roojiuun….Pak Habibie baru saja berpulang ke rahmatullah, menyisakan banyak sekali al hikmah kepada kita manusia yang ditinggali warisan keteladanan baik tertulis maupun tak tertulis dari beliau sepanjang hayatnya. Selaku penyecap biografi beliau sejak masa kecilnya, dan kemudian menceritakan bagaimana Rudy kecil tergila-gila pada pesawat, sains dan teknologi, kemudian ia membaca dan terus saja bertanya tiada yang membatasi pikirannya…

Masih seiring dengan kisah tokoh nasional (bahkan dunia) ini kami pun akan menceritakan proses eiksperimen sains sederhana kami.

Adalah Literats, komunitas bagi anak-anak yang tinggal di wilayah Ring 1 Sains Otak Anak Indonesia dan menjadi komunitas binaan . Minimal 1x dalam seminggu anak-anak literarts akan belajar, baik itu seni, membuat project sosial, eksperimen sains, belajar niaga, olahraga, permainan dll di Sains Otak Anak Indonesia. Literarts selalu berupaya menggunakan literatur pilihan untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk pengalaman nyata anak-anak.

Dan inilah pilihan literatur sains kami untuk proyek eksperimen STEAM (utamanya sains dan matematika ) ini :

WhatsApp Image 2019-09-11 at 21.47.07

Literatur dan Persiapan

 

Mengawali dari Pembuka Diskusi

Diskusi ini dimulai dari doa memohon kepahaman ilmu kepada Tuhan. Salah satu anak memimpin doa dalam bahasa Arab, kemudian ada yang memaknai doanya.

“Bukan problem” dan bukan pula “pertanyaan asli anak-anak”

Namun eksperimen ini berawal dari sesuatu yang sudah ada di dalam buku, lalu kami pertanyakan dan asumsikan kembali. Mengapa anak-anak ini harus tetap mempertanyakan ? Agar pikiran mereka memanaskan diri memulai bekerja. Lontaran-lontaran pertanyaan metakognitif disampaikan. Bagaimana cara mereka berpikir terhadap ruah serangga.

“Menurut kalian, dimana serangga tinggal?”

Jawaban pun berdatangan “di tanah, di pasir, di laut, di pohon, di kayu, di tanaman….” Seru anak-anak bergantian menyumbang jawaban.

Tidak ada jawaban yang dibenarkan maupun disalahkan, melainkan ditanya terus, dimana lagi ? Dimana lagi?

Ini berfungsi membangun asumsi awal dan proses berpikir alternatif.

Kemudian seekor semut menjalar di dinding dan hadir lah satu jawaban lagi dari anak yang paling sigap ” di rumah!”

Ya itulah semua rumah serangga hasil asumsi maupun pengamatan langsung.

Kemudian Bunda (buk Popon alias mak Lamban) menguji segala jawaban dengan memulai eksperimen “Benarkah Rumah Serangga di Tanah?”

Dan Kami pun mulai melakukan persiapan seperti yang disarankan di buku :

  • 2 wadah kaca (kami pili botol bekas obat batuk)
  • cerocok 2 buah
  • sekop
  • Lup (Kaca pembesar)
  • lampu meja
  • kertas, alat tulis
  • alas laboratorium

Persiapan harus sesuai jumlah kebutuhan, disini anak-anak melakukan penghitungan, identifikasi dan mulai menebak-nebak apa yang akan dilakukan bunda.

Kemudian mereka diajak berkeliling di sekitar Sains Otak Anak Indonesia, setelah mengasumsikan gambar tanah apakah agak basah atau kering ?

Anak-anak mulai mengambil sampel tanah di 2 titik. Secara bergantian mereka menyekopi tanah di tiap titik dan memasukannya ke cerocok.

2 tanah dalam cerocok yang sudah terpasang di mulut botol tadi siap di bawa ke ruangan untuk pengamatan eksperimen.

Kemudian semua anak diminta menyampaikan hasil pengamatannya. Namanya anak-anak ada yang langsung mengacir mencari hewan lain. 3 orang anak berhasil menangkap hewan coba kemudian, yaitu cacaing ! 4 anak yang usianya lebih besar 8-10 tahun menuliskan laporan eksperimennya (pengamatan).

Ajo sendiri menuliskan laporannya dalam bentuk gambar-gambar. Arsha menggambar bebas dan sibuk bermain dan sesekali mencuri pengamatan ulat fase bayi. Kemudian 4 orang anak mempresentasikan laporan eksperimennya.

Sekian eksperimen kami tentang Rumah Serangga dan Cacing, yang menjadi refleksi kami di akhir adalah, kepada mahluk hidup, setelah kami belajar bersama, kami kembalikan mereka ke tanah lagi secara baik-baik. Disini banyak internalisasi yang dialami anak-anak yang sebelumnya belajar bebas belum mengenal etika maupun adab kepada mahluk Tuhan lainnya. Anak-anak itu pelan-pelan menjaga kehidupan binatang dan tidak memperainkannya lagi, namun menegbalikannya baik-baik ke bumi.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: